Senin, 01 Mei 2017

Umat Di Persimpangan

Dulu saya pernah ngefans berat dengan Harun Yahya.. saya pikir Beliau adalah ilmuwan Muslim... sampai kemudian saya menyadari arti kata ilmuwan.. 😊🙈🙈 Baru saya memahami kalau Harun Yahya tidak pernah melahirkan sebuah teori baru di bidang ilmu pengetahuan. Yang Beliau lakukan adalah mengumpulkan berbagai teori2 yang pernah ada di dunia ini dan mengaitkannya dengan Al Quran lalu mempublikasikannya. Maka tidak heran ketika saya membaca buku-buku Harun Yahya soal evolusi ~misalnya~ isi buku itu hampir sama dengan isi buku Biologi SMA saya. Meski begitu, tetap saja upaya Harun Yahya mengumpulkan dan menyalin semua teori-teori itu dalam buku-bukunya harus kita apresiasi :)

Lalu saya pernah juga membaca seseorang yang mengemukakan kritik terhadap Harun Yahya (kita singkat HY).. bahwa HY terlalu terburu2 mengaitkan ilmu pengetahuan dengan Al Quran. Dia menilai langkah Harun Yahya dalam menyimpulkan bahwa teori evolusi itu tidak sesuai dengan Al Quran sebagai sesuatu yang berbahaya.
Saya berkerut membacanya. Di mana bahayanya? Bukankah Al Quran itu isinya penuh dengan ilmu pengetahuan..? Katanya org2 Barat malah "mencuri" isi Al Quran untuk menggali ilmu pengetahuan dan memanfaatkannya untuk kemajuan teknologi mereka. Lalu mengapa kita jangan mengaitkan ilmu pengetahuan dengan Al Quran?

Ya.. memang Al Quran adalah sumber ilmu pengetahuan. Sebagai wahyu dari Allah.. ada banyak sekali ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Tetapi kita tidak boleh lupa.. ketika kita menafsirkan ayat Al Quran, itu adalah penafsiran kita sebagai manusia.. sebagai makhluk.. yang ilmunya hanya setitik debu dari ilmu Allah. Dan kita tidak pernah bisa menjangkau seluruh ilmuNya. Artinya, tafsiran science kita terhadap Al Quran sangat mempunyai kemungkinan besar untuk salah. Kita hanya manusia biasa yang hanya mencoba untuk memahami setitik ilmuNya. Ya oke.. kalau ternyata penafsiran kita benar.. alhamdulillah.. tentunya bermanfaat bagi umat dan masyarakat pada umumnya. Tapi apa yg terjadi ketika penafsiran kita salah?? 

Misalnya... misalnya loh ini.. ketika kita mempercayai bahwa bumi itu datar dengan mengemukakan penafsiran2 kita terhadap beberapa ayat Al Quran. Dan itu digemakan serta dijadikan pegangan agama kita: Bahwa Al Quran mengatakan bumi itu datar.. bahwa karena Al Quran adalah wahyu Allah, maka yang disebutkan oleh Al Quran itu mutlak benar. 
Lalu apa yang terjadi ketika ada kosmonot2 terbang ke luar angkasa dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa bumi itu bulat? Atau apa yang terjadi ketika kita yang terbang dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa bumi itu bulat? Tentu bisa jadi orang akan menyimpulkan bahwa Al Quran itu salah. Padahal yang terjadi adalah manusianya, umatnya yang salah membaca, salah dalam menyimpulkan dan salah dalam menafsirkan ayat Al Quran. Tetapi ketika kita mengklaim bahwa kesimpulan kita, hipotesa kita adalah sama dengan yang ada di dalam Al Quran, maka otomatis Al Quran akan terkait dengan benar salahnya hipotesa kita.

Bukan berarti bahwa kita tidak boleh menggali ilmu pengetahuan dari Al Quran... bukan. Ini adalah 2 hal yang berbeda. Kita sangat boleh menggali ilmu pengetahuan dari Al Quran karena Al Quran memang sumber ilmu pengetahuan. Yang berbahaya adalah ketika kita selalu mengaitkan dan mengklaim bahwa hipotesa kita adalah sama dengan Al Quran. Semua yang terkait dengan sebuah fenomena selalu kita kaitkan dengan Al Quran. Jika ada ilmuwan yang menemukan sebuah teori, langsung kita klaim: "Itu sudah ada di dalam Al Quran!". Bahkan ada yang mengatakan bahwa , "Umat Islam mengalami kemunduran karena mereka semakin meninggalkan agamanya, sedangkan orang2 Barat maju karena mereka mempelajari Islam"
Sebenarnya apa yang kita ingin dapatkan dari klaim-klaim seperti itu? Kepuasankah? Pride? Harga diri?

Persoalan umat kita sekarang ini adalah kita sangat tergila-gila pada kulit, bukan inti dari agama dan Al Quran itu sendiri. Kita berpikir bahwa kemajuan umat Islam berawal dari nama yang besar,.. berawal dari harga diri umat kita yang besar. Kita tergila-gila pada klaim. Kita haus oleh berita-berita bahwa tokoh A, tokoh B, tokoh C menjadi mualaf. Kita haus mengklaim bahwa ilmuwan A dan ilmuwan B sesungguhnya muslim, sambil meninggalkan tradisi ilmu pengetahuan itu sendiri. Atau sambil terus bergelut dan memusuhi mazhab Islam sang Ilmuwan itu sendiri. Bahkan seringkali kita membuat dan mengarang sendiri klaim-klaim itu dengan fake news... berita palsu. Menyedihkan.

Padahal, klaim-klaim itu sama sekali tidak akan mempengaruhi kemajuan umat muslim. Rasa haus terhadap klaim seperti itulah yang hanya akan membuat umat Islam seperti buih di lautan. Banyak.. tapi tak memiliki kekuatan.
Kemajuan umat itu berasal dari budaya ilmu pengetahuannya, budaya membaca, budaya merenung dan berpikir, budaya menganalisa, budaya mengkritisi dan budaya mencari solusi. Dsn kita lihat bahwa budaya seperti ini bisa dikatakan sudah hampir punah dari umat kita. 
Budaya membaca, merenung, berpikir dan menganalisa kita telah berganti dengan budaya menerima secara bulat-bulat dan mengikuti apa yang dikatakan oleh ustadz atau tokoh lain. Budaya mengkritisi dan budaya mencari solusi telah berganti menjadi budaya bergunjing, mencela dan ghibah. Kita selalu merasa insecure terhadap minoritas, tanpa membangun kualitas diri.

Rasa haus terhadap klaim-klaim seperti di atas, dan rasa haus terhadap kebesaran dan harga diri semu itulah yang membuat kita terpuruk lebih jauh. Membuat kita berimajinasi tinggi dengan mengaitkan klaim sebuah teori ilmu pengetahuan dengan Al Quran. Dan ketika klaim itu ternyata salah, kita semakin terpuruk.

Lebih buruk lagi, klaim-klaim ini bukan hanya di tataran ilmu pengetahuan saja, tapi juga di tataran politik dan kekuasaan. Ini yang tengah menjadi fenomena sekarang ini. 
Kita mengaitkan Al Quran dengan politik dan kekuasaan hanya sebatas kulitnya saja. Sedangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam itu sendiri kita tinggalkan. Prosesnya ini saja sudah menempatkan umat kita di titik yang rendah. Hoax dan fitnah pada akhirnya dijadikan senjata dan mudah dipercaya oleh umat kita. Terutama setelah kita meninggalkan budaya ilmu pengetahuan di atas: membaca, menganalisa, mengkritisi. Ini baru di tahap prosesnya.

Di tahapan outputnya, sama seperti yang terjadi terhadap klaim ilmu pengetahuan di atas, klaim terhadap politik dan kekuasaan yang mengaitkannya dengan agama juga akan sangat berbahaya. 
Sebagai contoh... Banyak yang merasa apa yang terjadi di DKI kemarin adalah kemenangan Islam. Padahal, Belum... Sekarang karena klaim itu, mau tidak mau semua orang menantikan hasil dari kepemimpinannya. Jangan salahkan orang yang mengaitkan hasil kepemimpinannya dengan agama, karena dari awal-awal kampanyenya, kita sendiri yang mengaitkannya dengan agama kita.

Pernah terjadi di pemilihan Walikota Medan. Ketika seorang Rahudman yang muslim memperebutkan posisi Walikota dengan seorang keturunan Tionghoa non muslim, Sofyan Tan. Tentunya isu pemimpin muslim dipergunakan sebagai komoditi dalam kampanye-kampanyenya. Rahudman menang. Apakah ini kemenangan Islam? Terlalu picik jika berpikir itu kemenangan Islam. Mengaitkan soal politik kekuasaan dengan agama saja sudah salah. 
Dan itu terbukti kemudian. Sang Walikota terkait berbagai kasus. Di antaranya kasus dugaan penganiayaan seorang pns (kasus lebih detailnya silakan digoogling sendiri), dan pada akhirnya Beliau harus melepaskan jabatannya karena terkait kasus korupsi. Apakah yang harus kita katakan jika di awal-awal kita mengklaim bahwa kemenangan Rahudman sebagai walikota adalah kemenangan Islam, sedangkan di akhirnya Beliau melakukan perbuatan yang jauh dari nilai-nilai Islam? Lalu pride apa yang kita dapatkan dengan semua ini?

Tidak.. Islam tidak pernah bisa maju dengan kebanggaan-kebanggaan semu seperti itu.
Islam akan maju jika kita mau kembali belajar membaca, menganalisa, merenung dan mengkritik sebuah pemikiran dan persoalan. Baik itu Al Quran maupun fenomena-fenomena di sekitar kita. Bukan hanya menghapalkan ayat-ayatnya ya.. Berpikirlah... berpikir.. berpikir.. berpikir... Itu yang disebutkan berkali-kali dalam Al Quran

Senin, 05 Desember 2016

Adli Yang Berguru Ke Negeri Cina

Satu kali saya telat menjemput si Bungsu pulang sekolah. Ketika Si Bungsu masuk ke mobil sambil merasa khawatir saya langsung berkata: "Maaf ya Dek telat jemputnya. Udah tinggal sendirian ya tadi di sekolah?" Si Bungsu mejawab: "Nggak apa-apa... masih ada (sebut saja namanya) Adli kok". Saya manggut-manggut lega. Sementara si Bungsu meneruskan ceritanya tentang Adli:

"Adli mah pulangnya jam 5... jam 6.."
Saya hanya menanggapi selintas: "Ah.. mosok??"
"Iyaaa.. dia dijemputnya jam segitu. Rumahnya di Bogor"
Saya masih menanggapi sekenanya, "Ih.. jauh banget.."
"Iyaaa... perginya jam 4 subuh naik kereta"

Ah.. Tentu saja saya hanya menganggap cerita si Bungsu itu khayalannya saja... namanya juga anak-anak.. banyak sekali fantasinya.

Lalu pada satu waktu saya mendapat tugas untuk memotret anak-anak kelas 3, termasuk kelasnya si Bungsu. Itu adalah pemotretan kedua kalinya.. setelah pemotretan pertama harus diulang karena ketika sesi foto bersama ada 2 anak yang tidak ikut berfoto. Anak-anak itu ternyata kelaparan dan malah makan di kantin... hadeuuuuuuuhhhh... Maka Korlas pun meminta saya untuk bersedia memotret ulang minggu depannya... hahahahaa... dasar anak-anak :D :D

Kali kedua pemotretan ulang itu saya terlebih dahulu mengatur posisi kursi-kursi dan tripod di halaman, sebelum anak-anak dipanggil. Melihat saya mengatur posisi kamera, Ibu Wali Kelas menghampiri dan menyalami saya. Berbincang sebentar, lalu Ibu Wali Kelas berkata: "Ibu... satu orang nggak masuk gimana ya...?"
"Siapa Bu?"
"Adli Bu.."
Saya sedikit merasa lega karena pada pemotretan pertama Adli ikut sesi foto bersama. Jadi saya tidak perlu mengulang lagi minggu depannya.. hahaha..
 "Oh... Adli kan kemarin sudah ikut pemotretan pertama Bu, jadi nanti saya atur aja biar bisa diedit posisinya Adli." ucap saya.
"Iya.. ya... bisa ya diedit.." Ibu Walas pun merasa lega
Saya mengangguk.

Beberapa saat kemudian Korlas datang dan menghampiri kami. Saya kembali mengatur kamera DSLR. Korlas dan Ibu Walas berbincang di samping saya.
"Hadir semua kan ya Bu?" Tanya Korlas
"Adli nggak masuk Bu... kemarin dia pulang jam berapa tuuh.. jam 6" Ibu Walas menjawab dengan mimik wajah merasa gemas.
"Haddduuuuh... saya sudah capek nasihati Ibunya.." Korlas menggeleng-gelengkan kepala, merasa prihatin.

Saya kaget,
"Jadi benar cerita anak saya kalau Adli suka pulang jam 5 atau jam 6?"
Ibu Walas menjawab: "Iyaa.. beneran. Rumahnya kan di Cilebut. Jadi pulang dan pergi sekolah pake kereta. Perginya subuh. Pulangnya jam 6" 
Ternyata cerita si Bungsu itu benar. Adduh.. saya kok underestimate banget sih sama cerita si Bungsu itu.. Saya pikir cerita itu tidak mungkinlah.. ternyata benar ya..
"Ya Allah... kasihan sekali. Terus kenapa harus sekolah di sini? (Daerah Kebayoran)"
"Nah... itu yang sudah berkali-kali saya tanyakan ke ibunya: Apa sih yang kamu cari di sekolah ini?" Jawab Korlas
Ibu Walas menambahi: "Iya... saya juga gimana yaa... kan saya ada kuliah juga di Rawamangun. Jadi kadang-kadang saya tidak bisa nemani Adli. Jadi harus atur-atur dengan guru yang lain"

Anak-anak sudah berdatangan untuk pemotretan. Tapi pikiran saya terus ke Adli. Kasihan sekali.. pergi jam 4 ke sekolah naik kereta, pulang jam 6 sore. Sampai rumahnya mungkin jam 7-8 malam. Pasti sudah capek, besoknya harus bangun lagi jam 3.30. Kapan Adli belajar? Kapan Adli bermain? Duh..

Ketika saya jemput si Bungsu sepulang sekolah, saya minta dia untuk bercerita tentang Adli.
"Dek.. Adli gimana anaknya?" Tanya saya.
"Yaaa.. gitu aja.. kenapa memangnya, Bunda?"
"Nggak.. Bunda pingin tau aja. Baik anaknya?"
Si Bungsu menjawab sambil mulutnya sedikit nyinyir, "Nyebelin... suka marah, suka ngejek... blablablabla..."
Dalam hati saya membenarkan.. dengan ritme hidup seperti itu, anak sekecil itu, wajar kalau dia merasa tertekan dan jadi sering marah-marah.

Malamnya saya menceritakan soal Adli ke suami. Tentu saja Si Abang kaget bukan main . Seperti sudah saya duga.. Si Abang aduh-aduhan mendengar cerita saya dan terus bertanya tentang Adli sambil memegang kepalanya.. langsung pening rupanya kepalanya.
"Addduuuh... memangnya tidak ada sekolah di dekat rumahnya?"
"Pasti adalah... tapi mungkin kalau negeri nggak sebagus sekolah Adek kali yaa.." jawabku
"Bapak Ibunya kerja apa? Masalah biaya mungkin?"
Saya tidak dapat menjawab dengan pasti karena memang belum sempat mendapatkan info lebih detail lagi. 
"Ya sepertinya sih begitu. Nggak sanggup sekolah di swasta di sana jadi ambil yang negeri di Jakarta, mungkin."
Mata Abang menerawang, mencoba membayangkan dan menempatkan diri pada posisi orang tua Adli, 
"Berarti memang Ibu Bapaknya ingin sekolah yang bagus buat anaknya."
"Ini mah dugaanku aja ya.. mungkin.. mungkin ini mah.. Ibunya kerja di Jakarta, nggak ada yang ngurusin Adli kalau di rumah sendiri. Jadi pergi sekolah sekalian sama Adli, terus pulangnya juga barengan sama Ibunya." Saya mencoba sedikit menduga-duga.
"Yaaa... yaaa.. yaaa... mungkin begitu. Tapi addduuuuh... (aduh lagi)... kasian kan anak itu... addddduuuh..." Si Abang kembali mengaduh

Dia diam sebentar. Akhirnya kami berkesimpulan untuk mengajukan ke orang tua Adli.. (seandainya ceritanya benar begitu) agar Adli tinggal di rumah kami dulu, bersama2 si Bungsu selama hari-hari sekolah. Pergi dan pulang sekolah dengan si Bungsu. Nanti hari Jumat baru bersama orang tuanya. Rasanya itu yang terbaik, karena dengan begitu Adli tidak kelelahan sekolah, sementara si Bungsu juga jadi punya teman main dan belajar. 

Tapiiiiii.... Si Abang minta saya untuk mendapatkan informasi yang benar dulu tentang masalah ini. Khawatir kalau menyinggung atau jadi mencampuri urusan rumah tangga orang tuanya.. Dan berkali-kali pula Si Abang menanyakan kesanggupanku untuk mengurus Adli. Saya menyanggupi. Saya katakan juga padanya kalau saya akan minta informasi mengenai Adli terlebih dulu ke Korlas, sebelum bicara dengan Orang tua Adli. 

Si Abang terus menerus menekankan agar jangan sampai urusan rumah tangga keluarganya Adli dicampuri. Pokoknya posisi kami hanya menyampaikan usulan tentang Adli thok, bukan mencampuri urusan keluarganya. Si Abang memang sangat tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga dan keluarga orang lain, karena yang mengetahui kondisi sebenarnya ya mereka sendiri.
"Pintar-pintar ya Bunda bicaranya" Sekali lagi Abang menekankan.

Maka saya pun menghubungi Korlas, dan bertanya-tanya tentang Adli.
Korlas bercerita panjang lebar 
"Duh... Mbak.. persoalan Adli itu sebenarnya sudah lama (walaaaah... saya merasa kecolongan). Adli itu sebenarnya korban Mbak. Orang tuanya sudah berpisah. Adli tinggal sama Ibu dan kakaknya di Cilebut. Saya juga sudah berkali-kali mempertanyakan ke Ibunya.. apa sih yang dia cari sampai harus menyekolahkan anaknya di Jakarta. Kan kasian Adli."
Maka saya pun menjelaskan maksud saya dan suami, "Oh.. begitu.. Apa mungkin karena Ibunya bekerja di Jakarta dan tidak ada lagi yang menjaga Adli di rumah, jadi pergi dan pulang sekolah Adli sekalian sama Ibunya? Kalau begitu, kemarin ayahnya Maula mengusulkan agar Adli tinggal dengan kami saja di hari-hari sekolah, Mbak. Nanti hari Jumat dia pulang sama Ibunya. Jadi Adli tidak terlalu kelelahan."
"Ibunya Adli kerjanya jualan di Stasiun Cilebut, Mbak.." Jawab Korlas.
Nahloh... Saya kaget... sangaattt... sangaaat kaget... luar biasa kagetnya. Gantian jadi saya yang pening... Whaaattt????
"Lho... dagangnya di Stasiun Cilebut? Rumahnya di Cilebut? Trus kenapa sekolahin anaknya di Jakarta?"
"Iya itu yang saya tanyakan berkali-kali ke Ibunya. Dulu juga waktu kelas 1 Bu Leny sudah menawarkan Adli untuk ikut dia dulu. Tapi ibunya nggak mau." Terdengar nada prihatin dalam jawaban yang dikemukakan Korlas.
 "Trus ditanya kenapa sekolahin anaknya di Jakarta, Ibunya menjawab apa?" Saya penasaran
"Ibunya diam saja. Tidak menjawab. Dia tertutup sekali. Ibunya juga ada sakit jantung kalau nggak salah."
Saya tambah nelangsa, "Apalagi kalau Ibunya sakit begitu. Kan Ibunya juga capek harus antar jemput anaknya naik kereta sejauh itu." 
Dan saya pun tiba-tiba merasa gelap untuk masalah ini... Tak punya solusi. Bagaimana mau mengusulkan sebuah solusi kalau apa masalahnya pun tidak bisa kami rumuskan. Usul yang akan kami ajukan sepertinya belum tepat dengan kondisi seperti itu. Maksud Sang Ibu untuk menyekolahkan anaknya di Jakarta disimpannya rapat-rapat. Dan kami tidak bisa membacanya. No clues.

"Kalau seandainya Mbak mau berbicara sama Ibunya Adli, nanti kita coba atur waktunya deh. Tapi tolong jangan katakan informasinya dari saya." Saran Korlas.
 "Ok Mbak.. nanti saya coba bicarakan dulu dengan suami saya."
Tiba-tiba Korlas menambahi, "Alhamdulillah sih Mbak... KJP-nya Adli kemarin sudah disetujui"

Di situ saya merasa mendapatkan sedikit titik terang. Tapi yah.. masih spekulasi... 

Dan sudah bisa ditebak dong, ketika saya ceritakan semua ini ke si Abang, dia kembali aduh-aduhan... merasa pening sambil terus memegang keningnya. Pikiran kami tidak bisa menjangkau, kenapa harus sekolah sejauh itu di Jakarta kalau seandainya Ibunya berdagang di Stasiun Cilebut? Apa mungkin agar anaknya dapat memperoleh KJP di Jakarta? Sebegitunyakah pengorbanan yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan KJP? Tapi ya mungkin bagi keluarga seperti Keluarga Adli, KJP itu sangat besar artinya. 


Entahlah..  Rasanya gelap sekali untuk persoalan ini. Yang jelas pada akhirnya kesimpulan kami: Ibunya sangat ingin Adli maju dan berhasil.

Rabu, 17 Juni 2015

Maudy Kusnaedi dan Kebaya Annie Avantie

Siapa yang tidak kenal Maudy Kusnaedi? Mantan None Jakarta yang melejit lewat peran Zaenab di serial Si Doel. Cantik... pintar (UI booo') dan baik... (hasil investigasi dari adik kelasnya :D ) Ehm... apakah Anda termasuk yang patah hati ketika Maudy menikah dengan Erick Meijer? ahahaha... *pukpukpuk

Coba kita kilas balik kembali bagaimana cantiknya Maudy ;)




Ini waktu Maudy masih muda... lucuuu yaaa.... :O




Dan ini anggunnya Maudy ketika memakai kebaya merah karya Annie Avantie




Mengenakan dress karya Sebastian Gunawan Maudy tetap cantik... berkilau di Red Carpet Cannes




Bahkan ketika Maudy tidak bermake-up pun wajahnya masih menampakkan kecantikannya..

Apakah mengenakan busana casual, kebaya merah, atau dress, bermake up ataupun tidak, Maudy tetap selalu terlihat cantik.

Adalah Allah yang Maha Indah yang menganugerahkan kecantikan pada Maudy. Cantiknya Maudy berasal dari Allah SWT. Sedangkan pakaian yang dikenakan oleh Maudy adalah hasil karya manusia. Allah memberikan akal dan pikiran pada manusia untuk berkarya. Salah satunya adalah berkarya dalam bidang fashion.


Adalah Anne Avantie yang mengerahkan daya pikir, kreativitas dan usaha kerasnya untuk melahirkan sebuah karya kebaya merah.. indah nan anggun yang dikenakan oleh Maudy. Mengenakan kebaya tersebut Maudy terlihat... ah... komen sendiri deh :D


Adalah Sebastian Gunawan, yang merancang gaun elegan Maudy di red carpet Cannes. Gaun rancangan Sebastian Gunawan tersebut menggunakan bahan tenunan asli Indonesia. Cantik sekali.


Demikianlah... karya Allah SWT di wajah cantik Maudy berbalut dengan hasil karya manusia, Sebuah perpaduan yang serasi, melahirkan keindahan yang luar biasa.

Ketika Maudy dan manusia-manusia lainnya berdiri, berjalan dan menjalani hidup di muka bumi ini, 2 tangan berperan dalam kehidupannya. Yang pertama adalah "tangan" Tuhan, tangan Allah SWT. Dengan 'tangan'Nya manusia dan seisi alam semesta ini diciptakan dan diwahyukan. Manusia sebagai makhluk yang sempurna dianugerahi akal dan pikiran oleh Allah. Mengapa Allah menganugerahi akal dan pikiran? mengapa Allah memerintahkan manusia untuk menggunakan akal dan pikirannya dalam menjalani kehidupan di dunia ini? Berapa banyak ayat dalam Al Quran yang memerintahkan manusia untuk berpikir... berpikir... berpikir dan berpikir?  Padahal Allah sudah menciptakan bumi dan seisinya untuk manusia?Bukankah Allah sudah menurunkan Al Quran sebagai pegangan hidup manusia, yang dilengkapi dengan hadist? Untuk apa lagi manusia membutuhkan akal dan pikiran? Mengapa?

Karena kita ini manusia. Karena kita bukan robot yang selalu bergerak ketika diperintah. Karena kita bukan burung-burung yang bergerak hanya karena naluri. Karena Allah tidak menghendaki menjadi dalang yang selalu menggerakkan manusia sesuai dengan keinginannya. Karena manusia adalah makhluk yang sempurna, yang memiliki kebebasan sendiri untuk memilih, untuk bergerak, untuk memutuskan, untuk menjalani hidup. Maka tidak semua kehidupan manusia dikendalikan sepenuhnya oleh Allah SWT.

Tentunya masih ingat ayat di bawah ini:

"Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan seluruh manusia menjadi satu umat saja" (QS An Nahl: 93)


“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman semuanya” (QS Yunus: 99)


Digarisbawahi: JIKA ALLAH MENGHENDAKI. Jika Allah menghendaki, tentu mudah sekali membuat semua umat manusia memiliki satu pandangan terhadap Al Quran, terhadap pandangan siapa Tuhannya. Tetapi Allah tidak menghendaki 'dirinya' menjadi seorang dalang. Allah tidak menghendaki semua manusia menjadi wayang.. yang bergerak hanya jika digerakkan, yang memilih hanya sesuai dengan keinginan Allah, Justru Allah menghendaki manusia untuk memiliki pilihan, Maka diberikanNya akal dan pikiran bagi manusia untuk menentukan hidupnya sendiri.

Kira-kira Allah berkata seperti ini:
"Ini aku berikan modal untuk kalian: Akal dan Pikiran, Bumi dan seisinya, serta Al Quran dan Hadist. Silakan pergunakan ketiga modal ini oleh kalian untuk hidup di dunia ini. Jika ketiganya kalian gunakan sebaik-baiknya, maka hidup kalian di muka bumi ini akan berjalan dengan mulus.. untuk bertemu dengan Aku di ujung kehidupanmu"

Tetapi bagaimana dengan takdir? Bukankah Allah sudah menggariskan takdir kita? Bukankah berarti kita bergerak sesuai dengan keinginan Allah? Tidak...

Quraish Shihab pernah mengatakan bahwa Taqdir berasal dari kata qaddara yang artinya kadar/ukuran/ batas. Secara analogi (agar mudah dipahami) Allah menentukan sebuah wilayah dengan batas-batasnya. Batas itulah Taqdir. Dan manusia bergerak di dalam batas-batas itu... tidak keluar batas. Manusia bergerak di dalam batas wilayah itu dengan menggunakan 3 modal yang diberikan oleh Allah SWT: Akal & Pikiran, Bumi & seisinya serta Al Quran & Hadist.

Demikianlah... maka Allah tidak pernah mengikat dan mengekang manusia dengan ciptaannya. Seorang Maudy Koesnaedi yang diciptakan Allah dengan anugerah kecantikan dengan kesempurnaan wujud, tetap harus menggunakan akal dan pikirannya untuk bergerak hidup. Seorang Maudy dengan kelebihan yang diberikan Allah itu juga tetap membutuhkan akal dan pikiran orang lain untuk tampil sempurna. Maudy membutuhkan olah pikir dan rasa dari seorang Anne Avantie, dari kreativitas seorang Sebastian Gunawan.


Demikianlah... maka Allah tidak pernah mengikat dan mengekang manusia dengan ciptaannya.

Seorang Hee Ah Lee yang dilahirkan dengan keterbatasannya sebagai anugerah Allah, mampu menjalani hidup hingga menjadi seorang gadis remaja dengan bermodalkan akal pikiran dan lingkungan sosialnya (bumi beserta isinya). Dibantu oleh daya dan usaha seorang Ibu, Hee Ah Lee menjadi seorang pianis ternama. Ia melakukan konser di berbagai belahan dunia.
~Pernah mendengar tentang Hee Ah Lee? Seorang gadis kecil Korea yang terlahir berbeda 180 derajat dari Maudy Koesnaedi. Gadis itu lahir dengan tubuh yang cacat, dan menderita Down Syndrome. Kedua telapak tangan Hee Ah Lee membentuk seperti capit kepiting, masing-masing tangan hanya seperti memiliki 2 buah jari~

Tidak... Allah tidak mengikat seorang Hee Ah Lee hanya dengan wujud ciptaanNya semata. Jika Allah tidak memberikan modal akal & pikiran serta Bumi & isinya pada Hee Ah Lee dan Ibunya.... tentu seorang Hee Ah Lee tidak mampu menjalani hidup di dunia ini. (Hee Ah Lee bukan seorang muslim sehingga mungkin tidak mengenal Al Quran & Hadist).


Dari sini kita dapat pahami bahwa Allah tidak menciptakan manusia untuk 100% di bawah kendaliNya. Ada bagian dari hidup manusia yang diserahkan kepada manusia itu sendiri, diperintahkanNya manusia untuk bergerak serta memutuskan sendiri dan Allah hanya memberikan bekal Akal & Pikiran, Bumi & isinya, serta Al Quran & Al Hadist untuk itu. Manusia serta masyarakat yang berhasil memadukan keduanya... antara ciptaan Allah dan karya manusia, insha Allah... selamat dunia akhirat.


Maudy Koesnaedi adalah karya cipta Allah, tetapi kebaya yang dikenakan oleh Maudy adalah karya cipta manusia. Dan Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengenakan pakaian... untuk menutup aurat. Maka Allah memerintahkan manusia menggunakan akal, pikiran, rasa agar bisa membuat pakaian.



"Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang menggunakan akal." (QS Ar Ra'du: 4)



"Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) supaya kamu mau menggunakan akal." (QS Al Baqarah: 242)

Pakaian yang digunakan oleh manusia berkembang seiring waktu dari sejak Nabi Adam sampai saat ini. Perkembangan itu juga dimotori oleh akal dan pikiran manusia. Allah tidak mencampuri proses perkembangan itu. Allah hanya memberikan akal dan pikiran saja.. lalu menyerahkannya kepada manusia untuk melakoninya.

Hee Ah Lee adalah karya cipta Allah, tetapi denting piano yang dimainkannya adalah hasil upaya dan daya pikirnya, juga dorongan dari Sang Ibu.


Al Quran adalah wahyu Allah, tetapi lembar demi lembar kertas dan tinta yang digunakan untuk menulisnya, lukisan indah yang tertuang di covernya adalah hasil olah pikir dan rasa manusia. Kaligrafi yang tergantung di dinding rumah, isinya adalah wahyu Allah, tetapi perpaduan warna bentuk yang membuatnya terlihat indah adalah hasil olah pikir dan rasa manusia.


Sampai di sini tentu kita semua sangat paham tentang uraian di atas. Bahwa ada yang karya cipta Allah, ada yang karya cipta manusia. Dan bahwa Allah sendiri memerintahkan manusia untuk berpikir dan berkarya. Hasil olah pikir dan rasa yang kemudian menjadi kebiasaan dalam satu masyarakat inilah yang disebut oleh budaya. Kebaya yang digunakan oleh Maudy adalah hasil budaya. Denting piano yang dimainkan oleh Hee Ah Lee adalah budaya.


Tetapi ada satu fenomena yang muncul dalam pemikiran masyarakat saat ini, yaitu ketika masyarakat tidak mampu membedakan mana yang ciptaan Allah, mana yang ciptaan manusia. Kesulitan masyarakat ~terutama umat muslim~ untuk membedakan keduanya biasa terjadi ketika menyangkut kebudayaan Arab. Masyarakat kita yang berlokasi nun jauh dari tanah Arab, yang tidak mengenal budaya Arab sebagian besar mengalami kesulitan untuk membedakan antara budaya Arab dan Islam. 


Satu gambaran yang gamblang pernah dijelaskan oleh  KH Mustafa Bisri agar kita mudah membedakan mana yang budaya Arab, mana yang Islam: 


"Rasulallah SAW memakai jubah, sorban dan berjenggot ya karena tradisi orang Arab seperti itu. Abu Jahal juga berpakaian yang sama, berjenggot pula. Bedanya kalau Rasul wajahnya mesem (sarat senyum) karena menghargai tradisi setempat. Nah, kalau Abu Jahal wajahnya kereng (pemarah). Silahkan mau pilih yang mana?”


Ibaratnya, jika Rasulullah lahir di tanah Jawa dan menggunakan blankon, mungkin masyarakat muslim di Arab akan ikut menggunakan blankon juga. Maka sesungguhnya kita telah gagal menerjemahkan Islam sebagai agama yang menghargai budaya. Padahal Allah SWT telah jelas-jelas memerintahkan manusia untuk berpikir dan berkarya. Ketika Rasulullah menggunakan jubah dan sorban, kita seharusnya memahami bahwa jubah dan sorban itu adalah budaya. Lalu nilai Islamnya dalam konteks tersebut apa? Nilai Islamnya adalah ketika Rasulullah menghargai dan mencintai budaya tanah airnya dengan cara mengenakan jubah dan sorban. Maka nilai Islamnya itulah yang seharusnya kita ikuti: menghargai dan mencintai budaya tanah air kita. 


Al Quran adalah wahyu Allah, Al Quran adalah pegangan bagi umat muslim. Yang di maksud Al Quran di sini adalah wahyu-nya.. bukan lembar demi lembar kertas yang dibungkus dengan cover yang dihiasi kaligrafi indah. Kertas, tulisan dan keindahannya itu adalah produk budaya. Pertama kali Al Quran dituliskan, media yang digunakan adalah pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu. Seiring dengan perkembangan teknologi dan budaya maka Al Quran terwujud seperti sekarang ini.



Jika Allah tidak mendorong umat muslim untuk menghargai budaya masyarakatnya masing-masing maka Islam akan mengalami kejumudan dan sulit berkembang bahkan sulit  diterima oleh masyarakat non Arab. Kita tahu bahwa penyebaran Islam di tanah Jawa dimotori oleh walisongo yang menggunakan budaya Jawa sebagai medianya. Jika masyarakat Jawa dicabut dari akar budayanya dan dipaksakan untuk menerima budaya Arab maka Islam sulit diterima di tanah Jawa, bahkan di belahan bumi yang lain. Kita bisa membayangkan bagaimana kesulitan sebuah masyarakat yang memiliki budayanya sendiri tiba-tiba diharuskan untuk menerima budaya lain. Karena budaya setiap masyarakat selalu disesuaikan terhadap kondisi alam dan masyarakatnya. Dan kondisi alam di belahan bumi ini diciptakan Allah dengan keunikannya masing-masing. Tidak ada yang sama. 


Jika memang Allah menghendaki seluruh umat Islam di dunia ini menerima budaya Arab, tentu saja Allah akan menciptakan manusia di dunia ini menjadi satu ras, satu suku, satu bangsa, dan alam yang homogen. Namun kita tahu bahwa itu tidak terjadi, sebaliknyalah yang dikehendaki oleh Allah (QS An Nahl: 93)

Maka dari itu, mari kita pelajari lagi apa itu Islam, dan apa itu budaya. Bahwa Islam berasal dari Allah SWT, sedangkan budaya bersumber dari akal, pikiran dan cita rasa manusia yang dianugerahkan Allah. Sehingga ber-Islam dengan budaya masing-masing tidak pernah dilarang dalam Islam. Tentu saja yang dimaksudkan di sini adalah budaya yang tidak bertentangan dengan inti ajaran Islam. Sebaliknya Allah memerintahkan kita untuk menggunakan akal, pikiran, cita rasa untuk mengolah bumi beserta isinya.

Demikianlah.. Allah telah menganugerahkan semua itu untuk manusia sehingga mereka mampu melahirkan budaya... maka... nikmat mana lagikah yang kau dustakan? :)

Senin, 08 Juni 2015

Kopi Liberal


Saya bertemu dengan Adi Taroepratjeka pertama kali di bangku kuliah semester pertama. Kami sama-sama masuk T. Arsitektur di kampus Jl Ganesha tahun 1994. Kebetulan adik Adi adalah adik kelas saya di SMA. Saya dan adiknya sama-sama bergabung di majalah sekolah.

Memasuki tahun kedua kuliah, Adi memilih untuk pindah ke Enhaii untuk mengikuti passion-nya di dunia kuliner. Saya ketika itu sempat terkejut dengan keputusannya. Bagi saya sendiri keputusan untuk beralih ke dunia yang sama sekali berbeda itu adalah sebuah keputusan yang sangat berani. Apalagi dunia kuliner ketika itu belum se-booming sekarang.. sebelum berbagai stasiun televisi berlomba-lomba menampilkan chef-chef keren dan berbagai acara bergengsi ajang pencarian bakat dunia kuliner.

Pilihan Adi ternyata tepat. Ia serius menggeluti dunianya. Beberapa tahun kemudian nama Adi sudah berkibar sebagai barista. Ketika Kompas TV baru mulai mengudara, Adi didaulat untuk menjadi host Coffee Story.. sebuah acara yang berkisah tentang berbagai macam kopi yang ada di nusantara. Di acara itu Adi melakukan perjalanan ke berbagai pelosok Indonesia, mencicipi kopi, menggali dan berbagi cerita tentang kisah kopi di daerah tersebut. Coffee Story termasuk acara favorit saya. Hanya sebuah kopi memang... tapi mampu menggambarkan kekayaan keragaman di Indonesia. Gaya khas Adi ketika berbicara tidak berubah seperti pertama kali menjejakkan kaki di kampus ITB: kepalanya bergoyang2 seperti berkata: achaaa... achaaaa... achaaa... :D

Lewat acara Coffee Story itu saya tau bahwa Adi sudah jadi "Mpu" dalam dunia kopi. Karena bagi saya keahlian seseorang bukan didapat dari ketekunannya di bangku kelas dan dihadapan seorang guru, tetapi didapat dari sebuah perjalanan. Dari perjalanan itu seseorang akan menyaksikan banyak kejadian, pengalaman dan perenungan. Di situlah proses berpikir seseorang akan berjalan.
Saya mengamati bahwa orang-orang yang sering melakukan perjalanan biasanya lebih matang dalam pola pikir dan lebih bijaksana dalam memandang hidup. Tapi tentu saja tidak semua yang melakukan perjalanan bisa mendapatkan 'anugerah' seperti itu... Mengutip quote dalam Al Quran, anugerah itu hanya didapat oleh orang-orang yang mau berpikir  dalam perjalanannya.
Maka perjalanan adalah hal penting yang 'wajib' dilakukan oleh orang-orang 'besar'.. ehm... bukan besar tubuhnya ya.... :D

Satu kali saya pernah bertanya pada Adi: "Kopi Indonesia yang paling enak kopi apa Di?" Jawaban Adi: "Tergantung selera masing2 sih..." Tentu saja saya tidak puas dengan jawaban itu. saya belum mendalami kopi... baru mengenal kopi sehingga masih buta terhadapnya. Yang saya tau hanya Kopi Aroma Bandung dan Kopi Ulee Kareng Aceh. Dan saya sudah terlanjur menyukai keduanya. Sebagai orang yang masih buta terhadap kopi tentu saja saya ingin mendengarkan satu jenis kopi yang paling enak menurut Mpu Kopi. Saya tanya lagi kedua kalinya dengan sedikit tambahan agar Adi mau menyebutkan satu jenis kopi.. "Kalau menurut Adi apa yang paling enak?"... Kembali saya tidak puas dengan jawaban Adi: "Hmmm...  masing-masing ada keunikannya sih"

Satu waktu ketika membahas cara menyeduh kopi yg paling enak, Adi juga tidak menyatakan secara jelas. Semua dikembalikan lagi kepada selera masing-masing dan alat yang digunakan masing2. Pernah Adi menyatakan "suhu 97 terlalu panas kalau untuk V60 KATA SAYA MAH" Dan selanjutnya Adi kembali menegaskan kalau itu tergantung selera masing2 saja.

Baru saya sadar bahwa Adi ini adalah barista yang kalau dalam perdebatan aliran agama di Indonesia bisa2 dicap liberal oleh golongan takfiri :D :D Adi menolak untuk memaksakan seleranya pada orang lain. Adi menyadari bahwa selera orang berbeda-beda, dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Jenis kopi dan alat menyeduh kopi juga bisa berbeda-beda, semua tergantung selera. Masing-masing orang bisa punya teknik sendiri. Ada yang hanya dengan menyeduh kopi dengan air panas saja kopinya bisa terasa enak. Tapi ada yang tidak bisa dengan cara itu dan harus menggunakan mokapot (seperti saya). Ada yang cukup dengan French Press, ada yang harus direbus, ada yang dengan V60 tapi ada juga yang harus dengan mesin espresso. Kesadaran terhadap beragamnya selera, macam kopi dan alat menyeduh diperoleh dengan perjalanan mengamati. Sedangkan saya yang buta terhadap kopi, baru belajar ttg kopi masih sibuk mencari2 pembenaran kopi mana yang paling enak. Kalau sudah Mpu tentu saja sudah bisa menikmati keunikan dan rasa masing-masing kopi.. malah merasa senang dengan berbagai keragaman itu.

Perjalanan membuat seseorang bisa bertemu dengan keragaman. Kaya-miskin, pintar-bodoh, bijaksana-cupet, indah-jelek, kasar-halus dan lain sebagainya. Ketika orang-orang yang mau berpikir berhadapan dengan keragaman dalam perjalanan tersebut maka timbul sifat tawadhu~rendah hati dalam dirinya, timbul juga kebijaksanaan dalam pikirannya. Dia bisa menghargai perbedaan dan menghormati pendapat masing-masing. Sekali lagi saya tekankan bahwa anugerah ini didapat hanya bagi orang-orang yang mau berpikir dalam perjalanannya. Banyak juga kok orang yang melakukan perjalanan dan hanya mendapatkan foto-foto narsis untuk diupload di sosmed :D

Demikianlah... ilmu padi itu benar adanya. Semakin berisi semakin menunduk ia. Dan ini tidak hanya untuk soal kopi saja. Di semua bidang ilmu.... baik agama, matematika, fisika, arsitektur sosial dlsb... dlsb... kita bisa melihat bahwa Mpu-Mpu yang luas pengetahuan dan pengalamannya akan lebih open minded, tidak mudah menjudge orang lain, menghormati perbedaan, menghormati pendapat orang lain, menghormati selera orang lain, menyukai keragaman. Ketika seseorang sibuk berkoar bahwa dia dan selera/teknik/cara/pendapatnyalah yang paling benar,... ketika seseorang sibuk menilai orang/selera/teknik/cara/pendapat orang lain... ketahuilah bahwa orang ini masih harus menggali lagi wacana dan pengalaman dalam ilmu/bidangnya. Ketahuilah bahwa orang ini masih baru terjun dalam bidang tersebut. Sama seperti saya terhadap kopi :)

Ilmu padi itu bisa berlaku meski dibolak balik
:
Semakin berisi. semakin menunduk ia...
Semakin menunduk, semakin berisi ia...




*Ilustrasi: Dyah Dyanita

Minggu, 10 Mei 2015

Jujur Itu Bukan Hebat


"Target UN bukan lagi 100% lulus tetapi 100% jujur. Ke depan jujur bukan lagi hebat. Tetapi, jujur itu normal..."
~Anies Baswedan

Sesungguhnya saya tidak pernah ngefans dengan Anies. Tapi pernyataan di atas itu makjleb banget.
Good bye lomba pasang spanduk: "100% lulus" di sekolah2. Dan saya berharap mereka sekarang berlomba2 untuk 'memasang spanduk': "100% jujur"... meskipun kita sebagai manusia tidak pernah bisa mengukur kejujuran seseorang toh? :D

Intinya adalah... inilah titik balik dunia pendidikan Indonesia. Ketika bangsa ini kembali kepada khittah pendidikan yang sesungguhnya.
Ketika...:
~ Dulu angka nilai yg menjadi tolok ukur tingkat keberhasilan pendidikan, sekarang berbalik: PROSES yg menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan. Karena pendidikan itu sendiri pada hakekatnya adalah sebuah proses. Selama ini kita telah keluar jalur dari hakikat dan khittah pendidikan itu sendiri. Semua..  baik murid, guru & orang tua berlomba2 meraih angka nilai. Apapun dilakukan demi nilai.. dari menyontek, menyogok, bayar joki, sampai klenik juga dilakukan oleh murid, guru dan orang tua. Karena apa?? Karena prosesnya tidak dilihat... tidak dinilai. Hanya angka nilai yang dijadikan faktor penentu.

~ Dulu kelulusan yg menjadi tolok ukur.. sekarang berbalik: kejujuran. Kalimat: "jujur itu bukan hebat.. jujur itu normal" yang dikemukakan seorang penentu kebijakan pendidikan di Indonesia ini menampar... berarti selama ini kita memang tidak normal. Karena menyonteklah selama ini yg normal. Saya sendiri pernah ada dalam situasi seperti itu... ketika hampir 80% teman2 menyontek.. dan nilainya bagus2 semua. Saya yg ketika itu masih kecil dan mendapat nilai jelek...bukannya tidak terguncang.. bertahan untuk tidak menyontek dlm kondisi seperti itu sungguh berat. Sampai akhirnya SMP kelas 1... selama 1 semester pertahanan saya jebol. Saya menyontek parah. Parah sekali. Perasaan dan otak saya resah.. saya kemudian berproses merasa dan berpikir. Kelas 1 SMP semester 2 di Bandung saya taubat nasuha :P .. bahwa menyontek itu adalah perbuatan pengecut dan lari dari tanggung jawab.. lari dari konsekuensi: "kalau elu mau nilai bagus ya belajar.. kalau ga belajar ya terima dong akibatnya: nilai jelek.. bukannya lari dr konsekuensi dengan nyontek."

Mengingat beratnya berada di tengah2 kondisi seperti itu.. dari dulu saya bermimpi ketika anak2 saya sekolah mereka tidak akan menghadapi seperti yg saya hadapi.. tapi itu dulu cuman mimpi. Keadaan malah lebih parah dengan adanya 'teror': ketidaklulusan. Tidak lulus menjadi momok yang menakutkan. Secara nasional tingkat kelulusan kemudian diukur setiap daerah. Bukan lagi sekolah yang berlomba2 memasang spanduk: "100% lulus".. tapi berkembang menjadi setiap daerah dan propinsi. Di media-media nasional akan dijadikan headline besar-besar: "Ini 10 Provinsi Peserta Lulus Ujian Nasional Tertinggi"  Perkembangan selanjutnya... semua yang terlibat dalam pendidikan pun pada akhirnya menempuh berbagai cara untuk mencapai target kelulusan tersebut.. baik murid, guru, dan orang tua. Bisa dibayangkan... bagaimana seorang anak kecil yang dituntut untuk jujur menghadapi arus ketidakjujuran yang begitu kuat seperti itu?

Saya mencoba melawan arus. Setiap anak2 menyodorkan nilai ulangan.. saya tidak mau melihat hasilnya sebelum mereka menjawab pertanyaan saya: "itu hasil jerih payah Nisa/Maula sendiri atau hasil kerja sama teman2?" Lanjutannya adalah: "Kalau hasil kerja sama teman2.. Bunda ga perlu lihat. Apapun hasilnya kan percuma: itu bukan hasil kerja kamu sendiri. Tapi kl hasil kerja kamu sendiri.. baru Bunda mau lihat.. apapun hasilnya Bunda senang. Kl jelek juga ga pa pa.. tinggal kita perbaiki CARA BELAJARNYA... ingat ya.. yg diperbaiki itu CARA BELAJAR.. bukan nilainya"

Ketika ngobrol dengan orang tua murid yg lain... mereka bangga dengan nilai anaknya yang bagus2.. alhamdulillah aku ikut senang...
Nilai anakku? Tidak memuaskan! Tapi saya merasa bahagia ketika ada seorang ibu yg cerita: "aku udah bilang ke Almer: 'kenapa ga kasih tau jawabannya ke Maula?' Anakku bilang.. kan ga boleh sama Bunda-nya"
Alhamdulillah... saya senang luar biasa mendengarnya... bangga meskipun nilainya tidak memuaskan! Itu berarti si Bungsu pernah menolak untuk diberitahu. PERNAH yaaaa.... hahahaha... karena pernah satu kali saya bertanya: "Bagus nilainya... hasil sendiri?" Jawaban Maula: "Iya... hasil sendiri.. eh.. ada ding satu yang Maula nanya ke temen" :D Ok... saya hargai kejujurannya untuk berterus terang. Maka saya bilang: "kalau begitu harusnya nilai Adek dikurangi 1 dooong". Saya tekankan lagi untuk jangan takut mendapat nilai jelek. Lebih baik mendapat nilai jelek tapi hasil sendiri daripada mendapat nilai bagus dari hasil menyontek dengan teman. Karena kalau menyontek, kita tidak bisa tau bagaimana cara belajar Maula, apa sudah benar atau tidak cara belajarnya. Kita juga tidak tau materi bagian mana yang belum dimengerti. Menyontek juga membuat kita menjadi malas belajar.. merasa santai karena merasa kalau kita tidak bisa toh kita bisa menyontek. Yang lebih saya tekankan lagi adalah bahwa menyontek itu adalah bibit korupsi. Karena kita mendapatkan sesuatu yang bukan hasil usaha sendiri. Sifat-sifat yang menjadi dasar menyontek dan korupsi itu sama. Maka jangan heran kalau di negara kita korupsi sudah menjadi budaya. Karena menyontek juga dijadikan budaya. (penjelasan bagian ini tentunya untuk konsumsi kakaknya :D ) Jadi kita harus jujur mulai dari hal kecil.

Ya... jujur itu harusnya normal.. bukan hebat! Kita sering mendengar bagaimana kesulitan org2 jujur berada di tengah2 lingkungan yg abnormal: lingkungan yg korup...
Bagaimana kita berharap korupsi bisa hilang dr bumi Indonesia kl kita tidak menanamkan kejujuran sedari dini pada anak2 kita?
Bagaimana kita berharap anak2 kita bisa jujur jika yang normal di lingkungan anak2 kita adalah ketidakjujuran? Berat sekali perjuangan mereka untuk jujur jika kita para orangtuanya dan pengambil kebijakan negeri ini tidak membangun lingkungan yg kondusif untuk itu.

Pemerintah harus mulai membangun lingkungan yg jujur bagi anak2 kita... utamakan kejujuran... bukan nilai atau kelulusan.
Sedangkan kita para orang tua harus mendorong anak2 kita untuk selalu jujur... dengan cara merubah pandangan kita terhadap tolok ukur keberhasilan belajar. Tekankanlah kejujuran ketika menjalani evaluasi belajarnya.. bukan menekankan pada nilainya. Ujian harus dilihat sebagai hakikatnya: untuk mengevaluasi proses belajar. Untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dan mengetahui bagaimana proses belajar berjalan. Sekali lagi... tekankanlah pada: PROSESnya... bukan NILAInya..

Selasa, 05 Mei 2015

Antara Membangun, Merenovasi Dan Memoles Sebuah Bangunan


Kali ini kita bicara tentang sesuatu yang berhubungan dengan dunia yang menjadi latar belakang saya: design & arsitektur.

Mungkin banyak dari teman-teman yang sudah pernah membangun atau merenovasi rumah, bukan? Bagaimana.. tentunya paham dong apa perbedaan antara membangun dan merenovasi. Jika membangun itu berarti memulai dari nol. Dari hanya sebidang tanah kosong, lalu kita membangun sebuah bangunan di atasnya. Sedangkan merenovasi berarti kita memperbaiki atau merubah bangunan yang sudah ada, jadi kita tidak memulainya dari nol. Ah... soal ini tentunya kita semua sudah sangat memahami ya... bahkan anak SD juga mungkin sudah memahami perbedaannya.

Tapi coba kita gali lebih dalam lagi perbedaannya. Manakah yang lebih rumit: membangun atau merenovasi? Bagi seorang arsitek, bagi seorang tukang, maupun bagi seorang owner/pemilik proyek pada umumnya merasakan bahwa merenovasi jauh lebih rumit daripada membangun sebuah bangunan dari nol JIKA renovasi merubah struktur bangunan. Mosok sih?? bukannya lebih mudah merenovasi? Kan kalau merenovasi sudah ada bangunannya, sedangkan membangun harus mulai dari nol dulu?

Bagi seorang arsitek, untuk mendesign renovasi sebuah bangunan, maka dia harus menyelaraskan antara keinginan owner, ide-ide design, dengan struktur bangunan yang ada yang biasanya didesign oleh orang yang berbeda. Dan ini jauh lebih rumit daripada mulai membangun dari nol. Seringkali struktur, dan instalasi dalam bangunan seperti electrical dan plumbing yang sudah ada tidak mendukung design renovasi yang arsitek ajukan. Pilihannya adalah merubah design atau merubah struktur/instalasi dalam bangunan. Ini memerlukan pertimbangan yang lebih jauh, baik dari efisiensi waktu dan biaya. Oleh sebab itu dari sisi waktu merenovasi sebuah bangunan juga membutuhkan waktu yang lebih lama karena ada satu proses pekerjaan yang harus dilewati dan membutuhkan waktu yang lumayan: membongkar. Baik membongkar peralatan/furniture yang ada di dalam bangunan maupun membongkar fisik bangunan.. apalagi jika harus membongkar struktur bangunan juga. Bagi seorang tukang, membongkar adalah pekerjaan yang paling berat karena membutuhkan tenaga lebih daripada membangun baru. Maka harus disediakan waktu dan biaya lebih untuk pekerjaan membongkar ini.

Bagi seorang owner sendiri, membongkar itu adalah tahapan yang melelahkan. Kondisi bangunan yang direnovasi baik di bagian dalam maupun di bagian luar akan terlihat sangat berantakan, kotor dan berdebu sekali. Bukan tidak mungkin owner terpaksa harus pindah tempat untuk  sementara waktu. Jika owner tidak berhati-hati terhadap barang/furniture yang berada di bagian tempat yang direnovasi, maka barang/furniture tersebut akan rusak. Maka selain owner yang terpaksa pindah (pada renovasi mayor), barang-barang di dalam bangunan tersebut juga harus dibereskan dan dipindahkan ke tempat yang lebih aman.

Demikianlah... maka merenovasi sebuah bangunan itu lebih rumit, lebih berat, lebih membutuhkan waktu, biaya dan tenaga daripada membangun dari nol.. apalagi jika renovasi tersebut adalah renovasi mayor/besar.

Kita juga harus bisa membedakan antara merenovasi dengan memoles bangunan. Masih ingat di sebuah stasiun TV dulu ada acara semacam 'Bedah Ru**h' bagi orang-orang tidak mampu? Selama saya menyimak episode2 acara itu, saya menyimpulkan bahwa yang dilakukan oleh crew bukanlah renovasi, tetapi hanya memoles saja. Rumah tidak dirubah secara fisik maupun strukturnya. Hanya dirapikan, diganti barang/furnitur, dinding hanya dicat, lantai dilapisi karpet plastik, dan sejenisnya. Mengapa? karena untuk merubah fisik dan struktur bangunan membutuhkan waktu dan biaya yang jauh lebih banyak daripada hanya sekedar memoles bangunan.

Dari sini kita bisa memahami mengapa dalam industri fashion baik sepatu maupun pakaian kita sering mendengar istilah 'barang reject' yang dijual lebih murah. Karena baik bagi owner pabrik, maupun buruh/pekerjaan pabrik, memperbaiki barang reject berarti harus membongkar terlebih dahulu. Membongkar cacat pada produk lalu memperbaikinya lebih rumit dan membutuhkan waktu + tenaga lebih.. meskipun produk tersebut akan bisa dijual dengan harga normal, tetapi waktu dan tenaga lebih itu berarti sebuah kerugian yang besar... lebih besar daripada memasukan produk tersebut pada kategori 'barang reject' dan menjualnya dengan harga yang jauh lebih murah.

Setelah kita memahami dengan jelas perbedaan antara membangun, merenovasi.... dan memoles, cobalah sekarang kita merenung dengan meletakkan ketiga hal tersebut sebagai analogi terhadap apa yang sedang bangsa kita jalani saat ini: membangun dari nol, merenovasi atau memoles? Ya... bangsa ini sekarang tengah merenovasi dirinya. Ini adalah tahap awal dari proses renovasi. Maka kondisinya terasa berat karena perombakan di berbagai bidang. Segala sesuatunya terlihat berantakan. Namun kondisi ini tidak akan berlangsung seterusnya. Nanti perlahan-lahan jika tahap perombakan/pembongkaran telah selesai dan kita masuk ke perbaikan fisik 'bangunan' maka akan mulai terlihat bentuk 'bangunan' yang baru.

Senin, 20 April 2015

Aku Yang Bermasalah, Laba-Laba Yang Kumatikan... Bagaimana Denganmu?



Setiap orang mungkin memiliki phobia terhadap sesuatu. Entah itu binatang, tumbuhan, ataupun sebuah benda mati. Dulu waktu kelas 5 SD, sekolah mengadakan kemping pramuka. Di hari kedua Ibuku datang membawa pisang. Tiba-tiba kawanku yang phobia terhadap pisang langsung lari begitu Ibuku memberikan pisang kepadanya. Aku waktu itu bingung dan bertanya-tanya: "Kok ada ya yang takut terhadap pisang?"

Aku sendiri punya phobia terhadap serangga seperti laba-laba dan sejenisnya. Ya yang terutama laba-laba besar. Meskipun orang-orang tua berkata bahwa kita tidak boleh membunuh laba-laba, tetapi tetap saja... ada serangga itu di dekatku membuatku merasa tidak nyaman.. kalau berada di kamar pasti aku tidak bisa tidur. Maka hal kejam selanjutnya yang kulakukan adalah mengambil obat nyamuk semprot lalu membunuh laba-laba itu. Aku tidak peduli apakah si laba-laba itu masih bayi atau sudah dewasa.... laba-laba tetap laba-laba. Kaki-kakinya yang berjumlah 8 serta berwarna hitam itu selalu membuatku bergidik. Meskipun laba-laba itu berjarak cukup jauh dariku, tapi jika ada di satu ruangan denganku, maka kukejar dan kusemprot dengan obat nyamuk. Jika tidak ada obat nyamuk, maka sapu menjadi senjataku. Kejam ya... :(

Ya.. itu alam bawah sadarku. Sementara ketika akalku berjalan maka aku memaki2 diriku sendiri. Antara aku dan laba-laba itu, akulah yang bermasalah.. akulah yang ngaco. Laba-laba itu hanya menjalani hidupnya. Mungkin dia hanya berjalan di dinding rumahku. Dan sial bagi laba-laba itu ketika aku yang membencinya melihat dia melintas di depan mataku.. itu berarti kematian baginya. Seharusnya bukan laba-laba itu yang kumatikan. Tapi aku yang mengobati dan membenahi diriku sendiri. Ya karena sekali lagi laba-laba itu hanya menjalani hidupnya. Entah mungkin si laba-laba itu ada keperluan berkunjung ke kawannya atau rapat RW dengan tetangganya sehingga ia harus melintas di depanku. Sama sekali tidak ada maksud atau niatan baginya untuk menyerangku. Kenalpun tidak denganku.... tidak punya masalah apa2 denganku... kenapa pula dia harus menyerangku?? :P

Aku yang menyerang si laba-laba itu. Ujug-ujug kalau istilah orang sunda mah... teu pugah puguh main semprot saja, mematikan si laba2. Menggunakan berbagai pembenaran: "laba-laba itu kan ada yang beracun... laba-laba itu kan mengerikan... laba-laba itu... blablabla..." Heyyyy.... Nopeeee... elu mencari2 pembenaran untuk menutupi masalah elo sendiri.. untuk menutupi kebencianmu pada si Laba2! (talk to my self). Membunuh tanpa alasan yang jelas itu berdosa loh... meskipun itu hanya seekor laba2. Coba ingat2 apa kata malaikat saat berdialog ketika Allah SWT akan menciptakan manusia: "...Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah.." Nah... kan... bener kan.. teu pugah puguh menumpahkan darah seekor laba2?

Maka yang seharusnya aku lakukan untuk menghindari dosa itu adalah membenahi persepsiku sendiri.. seekor laba2 tidak akan menyerang kalau tidak merasa terganggu. Dan try to standing on the spider shoes.... meureun kata si laba2; "Lha.. guweh mau bezoek Emak guweh di sinih kok malah dipateni?? trus... salah guweh kalau lewat rumahnya gitu?" Ayolah... laba-laba hanya seekor binatang kecil.. Dibandingkan aku yang raksasa baginya ini.. kata si laba2: "da saya mah apah atuh". Kubalang bakiak juga si laba2 langsung penyet. Trus kenapa juga harus aku lakukan itu? Dua kata yang ini mungkin bisa menjawab: "merasa puasssssssss"..

Yah.. jadi begitulah.. manusia membunuh dan menyerang makhluk2 yang tidak berdaya itu sebenarnya hanya untuk memuaskan diri sendiri saja. Benar apa kata Malaikat... bahwa manusia itu hanya merusak dan menumpahkan darah. Jangan sampailah pendapat Mas Keanu Reeves di film "The Day The Earth Stood Still" menjadi benar: bahwa untuk menyelamatkan bumi, spesies manusia ini harus dipunahkan... oh tidaaaak...

Lalu bagaimana dengan Anda... apakah Anda juga memiliki phobia atau kebencian terhadap hewan tertentu? atau terhadap seseorang? atau terhadap sebuah komunitas? atau terhadap golongan tertentu yang berbeda? Kalau iya... mari perbaiki persepsi dan otak kita. Jangan membunuh atau menyerang karena phobia atau kebencian kita terhadap sesuatu, seseorang, ataupun satu golongan/kaum. Percayalah... diri kita yang harus dibenahi... bukan sesuatu/orang/kaum atau golongan yang kita benci itu. Berbuatlah adil kalau memang kamu bertaqwa:

"..Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan.." QS Al Maidah: 8