Minggu, 10 Mei 2015

Jujur Itu Bukan Hebat


"Target UN bukan lagi 100% lulus tetapi 100% jujur. Ke depan jujur bukan lagi hebat. Tetapi, jujur itu normal..."
~Anies Baswedan

Sesungguhnya saya tidak pernah ngefans dengan Anies. Tapi pernyataan di atas itu makjleb banget.
Good bye lomba pasang spanduk: "100% lulus" di sekolah2. Dan saya berharap mereka sekarang berlomba2 untuk 'memasang spanduk': "100% jujur"... meskipun kita sebagai manusia tidak pernah bisa mengukur kejujuran seseorang toh? :D

Intinya adalah... inilah titik balik dunia pendidikan Indonesia. Ketika bangsa ini kembali kepada khittah pendidikan yang sesungguhnya.
Ketika...:
~ Dulu angka nilai yg menjadi tolok ukur tingkat keberhasilan pendidikan, sekarang berbalik: PROSES yg menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan. Karena pendidikan itu sendiri pada hakekatnya adalah sebuah proses. Selama ini kita telah keluar jalur dari hakikat dan khittah pendidikan itu sendiri. Semua..  baik murid, guru & orang tua berlomba2 meraih angka nilai. Apapun dilakukan demi nilai.. dari menyontek, menyogok, bayar joki, sampai klenik juga dilakukan oleh murid, guru dan orang tua. Karena apa?? Karena prosesnya tidak dilihat... tidak dinilai. Hanya angka nilai yang dijadikan faktor penentu.

~ Dulu kelulusan yg menjadi tolok ukur.. sekarang berbalik: kejujuran. Kalimat: "jujur itu bukan hebat.. jujur itu normal" yang dikemukakan seorang penentu kebijakan pendidikan di Indonesia ini menampar... berarti selama ini kita memang tidak normal. Karena menyonteklah selama ini yg normal. Saya sendiri pernah ada dalam situasi seperti itu... ketika hampir 80% teman2 menyontek.. dan nilainya bagus2 semua. Saya yg ketika itu masih kecil dan mendapat nilai jelek...bukannya tidak terguncang.. bertahan untuk tidak menyontek dlm kondisi seperti itu sungguh berat. Sampai akhirnya SMP kelas 1... selama 1 semester pertahanan saya jebol. Saya menyontek parah. Parah sekali. Perasaan dan otak saya resah.. saya kemudian berproses merasa dan berpikir. Kelas 1 SMP semester 2 di Bandung saya taubat nasuha :P .. bahwa menyontek itu adalah perbuatan pengecut dan lari dari tanggung jawab.. lari dari konsekuensi: "kalau elu mau nilai bagus ya belajar.. kalau ga belajar ya terima dong akibatnya: nilai jelek.. bukannya lari dr konsekuensi dengan nyontek."

Mengingat beratnya berada di tengah2 kondisi seperti itu.. dari dulu saya bermimpi ketika anak2 saya sekolah mereka tidak akan menghadapi seperti yg saya hadapi.. tapi itu dulu cuman mimpi. Keadaan malah lebih parah dengan adanya 'teror': ketidaklulusan. Tidak lulus menjadi momok yang menakutkan. Secara nasional tingkat kelulusan kemudian diukur setiap daerah. Bukan lagi sekolah yang berlomba2 memasang spanduk: "100% lulus".. tapi berkembang menjadi setiap daerah dan propinsi. Di media-media nasional akan dijadikan headline besar-besar: "Ini 10 Provinsi Peserta Lulus Ujian Nasional Tertinggi"  Perkembangan selanjutnya... semua yang terlibat dalam pendidikan pun pada akhirnya menempuh berbagai cara untuk mencapai target kelulusan tersebut.. baik murid, guru, dan orang tua. Bisa dibayangkan... bagaimana seorang anak kecil yang dituntut untuk jujur menghadapi arus ketidakjujuran yang begitu kuat seperti itu?

Saya mencoba melawan arus. Setiap anak2 menyodorkan nilai ulangan.. saya tidak mau melihat hasilnya sebelum mereka menjawab pertanyaan saya: "itu hasil jerih payah Nisa/Maula sendiri atau hasil kerja sama teman2?" Lanjutannya adalah: "Kalau hasil kerja sama teman2.. Bunda ga perlu lihat. Apapun hasilnya kan percuma: itu bukan hasil kerja kamu sendiri. Tapi kl hasil kerja kamu sendiri.. baru Bunda mau lihat.. apapun hasilnya Bunda senang. Kl jelek juga ga pa pa.. tinggal kita perbaiki CARA BELAJARNYA... ingat ya.. yg diperbaiki itu CARA BELAJAR.. bukan nilainya"

Ketika ngobrol dengan orang tua murid yg lain... mereka bangga dengan nilai anaknya yang bagus2.. alhamdulillah aku ikut senang...
Nilai anakku? Tidak memuaskan! Tapi saya merasa bahagia ketika ada seorang ibu yg cerita: "aku udah bilang ke Almer: 'kenapa ga kasih tau jawabannya ke Maula?' Anakku bilang.. kan ga boleh sama Bunda-nya"
Alhamdulillah... saya senang luar biasa mendengarnya... bangga meskipun nilainya tidak memuaskan! Itu berarti si Bungsu pernah menolak untuk diberitahu. PERNAH yaaaa.... hahahaha... karena pernah satu kali saya bertanya: "Bagus nilainya... hasil sendiri?" Jawaban Maula: "Iya... hasil sendiri.. eh.. ada ding satu yang Maula nanya ke temen" :D Ok... saya hargai kejujurannya untuk berterus terang. Maka saya bilang: "kalau begitu harusnya nilai Adek dikurangi 1 dooong". Saya tekankan lagi untuk jangan takut mendapat nilai jelek. Lebih baik mendapat nilai jelek tapi hasil sendiri daripada mendapat nilai bagus dari hasil menyontek dengan teman. Karena kalau menyontek, kita tidak bisa tau bagaimana cara belajar Maula, apa sudah benar atau tidak cara belajarnya. Kita juga tidak tau materi bagian mana yang belum dimengerti. Menyontek juga membuat kita menjadi malas belajar.. merasa santai karena merasa kalau kita tidak bisa toh kita bisa menyontek. Yang lebih saya tekankan lagi adalah bahwa menyontek itu adalah bibit korupsi. Karena kita mendapatkan sesuatu yang bukan hasil usaha sendiri. Sifat-sifat yang menjadi dasar menyontek dan korupsi itu sama. Maka jangan heran kalau di negara kita korupsi sudah menjadi budaya. Karena menyontek juga dijadikan budaya. (penjelasan bagian ini tentunya untuk konsumsi kakaknya :D ) Jadi kita harus jujur mulai dari hal kecil.

Ya... jujur itu harusnya normal.. bukan hebat! Kita sering mendengar bagaimana kesulitan org2 jujur berada di tengah2 lingkungan yg abnormal: lingkungan yg korup...
Bagaimana kita berharap korupsi bisa hilang dr bumi Indonesia kl kita tidak menanamkan kejujuran sedari dini pada anak2 kita?
Bagaimana kita berharap anak2 kita bisa jujur jika yang normal di lingkungan anak2 kita adalah ketidakjujuran? Berat sekali perjuangan mereka untuk jujur jika kita para orangtuanya dan pengambil kebijakan negeri ini tidak membangun lingkungan yg kondusif untuk itu.

Pemerintah harus mulai membangun lingkungan yg jujur bagi anak2 kita... utamakan kejujuran... bukan nilai atau kelulusan.
Sedangkan kita para orang tua harus mendorong anak2 kita untuk selalu jujur... dengan cara merubah pandangan kita terhadap tolok ukur keberhasilan belajar. Tekankanlah kejujuran ketika menjalani evaluasi belajarnya.. bukan menekankan pada nilainya. Ujian harus dilihat sebagai hakikatnya: untuk mengevaluasi proses belajar. Untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dan mengetahui bagaimana proses belajar berjalan. Sekali lagi... tekankanlah pada: PROSESnya... bukan NILAInya..

Selasa, 05 Mei 2015

Antara Membangun, Merenovasi Dan Memoles Sebuah Bangunan


Kali ini kita bicara tentang sesuatu yang berhubungan dengan dunia yang menjadi latar belakang saya: design & arsitektur.

Mungkin banyak dari teman-teman yang sudah pernah membangun atau merenovasi rumah, bukan? Bagaimana.. tentunya paham dong apa perbedaan antara membangun dan merenovasi. Jika membangun itu berarti memulai dari nol. Dari hanya sebidang tanah kosong, lalu kita membangun sebuah bangunan di atasnya. Sedangkan merenovasi berarti kita memperbaiki atau merubah bangunan yang sudah ada, jadi kita tidak memulainya dari nol. Ah... soal ini tentunya kita semua sudah sangat memahami ya... bahkan anak SD juga mungkin sudah memahami perbedaannya.

Tapi coba kita gali lebih dalam lagi perbedaannya. Manakah yang lebih rumit: membangun atau merenovasi? Bagi seorang arsitek, bagi seorang tukang, maupun bagi seorang owner/pemilik proyek pada umumnya merasakan bahwa merenovasi jauh lebih rumit daripada membangun sebuah bangunan dari nol JIKA renovasi merubah struktur bangunan. Mosok sih?? bukannya lebih mudah merenovasi? Kan kalau merenovasi sudah ada bangunannya, sedangkan membangun harus mulai dari nol dulu?

Bagi seorang arsitek, untuk mendesign renovasi sebuah bangunan, maka dia harus menyelaraskan antara keinginan owner, ide-ide design, dengan struktur bangunan yang ada yang biasanya didesign oleh orang yang berbeda. Dan ini jauh lebih rumit daripada mulai membangun dari nol. Seringkali struktur, dan instalasi dalam bangunan seperti electrical dan plumbing yang sudah ada tidak mendukung design renovasi yang arsitek ajukan. Pilihannya adalah merubah design atau merubah struktur/instalasi dalam bangunan. Ini memerlukan pertimbangan yang lebih jauh, baik dari efisiensi waktu dan biaya. Oleh sebab itu dari sisi waktu merenovasi sebuah bangunan juga membutuhkan waktu yang lebih lama karena ada satu proses pekerjaan yang harus dilewati dan membutuhkan waktu yang lumayan: membongkar. Baik membongkar peralatan/furniture yang ada di dalam bangunan maupun membongkar fisik bangunan.. apalagi jika harus membongkar struktur bangunan juga. Bagi seorang tukang, membongkar adalah pekerjaan yang paling berat karena membutuhkan tenaga lebih daripada membangun baru. Maka harus disediakan waktu dan biaya lebih untuk pekerjaan membongkar ini.

Bagi seorang owner sendiri, membongkar itu adalah tahapan yang melelahkan. Kondisi bangunan yang direnovasi baik di bagian dalam maupun di bagian luar akan terlihat sangat berantakan, kotor dan berdebu sekali. Bukan tidak mungkin owner terpaksa harus pindah tempat untuk  sementara waktu. Jika owner tidak berhati-hati terhadap barang/furniture yang berada di bagian tempat yang direnovasi, maka barang/furniture tersebut akan rusak. Maka selain owner yang terpaksa pindah (pada renovasi mayor), barang-barang di dalam bangunan tersebut juga harus dibereskan dan dipindahkan ke tempat yang lebih aman.

Demikianlah... maka merenovasi sebuah bangunan itu lebih rumit, lebih berat, lebih membutuhkan waktu, biaya dan tenaga daripada membangun dari nol.. apalagi jika renovasi tersebut adalah renovasi mayor/besar.

Kita juga harus bisa membedakan antara merenovasi dengan memoles bangunan. Masih ingat di sebuah stasiun TV dulu ada acara semacam 'Bedah Ru**h' bagi orang-orang tidak mampu? Selama saya menyimak episode2 acara itu, saya menyimpulkan bahwa yang dilakukan oleh crew bukanlah renovasi, tetapi hanya memoles saja. Rumah tidak dirubah secara fisik maupun strukturnya. Hanya dirapikan, diganti barang/furnitur, dinding hanya dicat, lantai dilapisi karpet plastik, dan sejenisnya. Mengapa? karena untuk merubah fisik dan struktur bangunan membutuhkan waktu dan biaya yang jauh lebih banyak daripada hanya sekedar memoles bangunan.

Dari sini kita bisa memahami mengapa dalam industri fashion baik sepatu maupun pakaian kita sering mendengar istilah 'barang reject' yang dijual lebih murah. Karena baik bagi owner pabrik, maupun buruh/pekerjaan pabrik, memperbaiki barang reject berarti harus membongkar terlebih dahulu. Membongkar cacat pada produk lalu memperbaikinya lebih rumit dan membutuhkan waktu + tenaga lebih.. meskipun produk tersebut akan bisa dijual dengan harga normal, tetapi waktu dan tenaga lebih itu berarti sebuah kerugian yang besar... lebih besar daripada memasukan produk tersebut pada kategori 'barang reject' dan menjualnya dengan harga yang jauh lebih murah.

Setelah kita memahami dengan jelas perbedaan antara membangun, merenovasi.... dan memoles, cobalah sekarang kita merenung dengan meletakkan ketiga hal tersebut sebagai analogi terhadap apa yang sedang bangsa kita jalani saat ini: membangun dari nol, merenovasi atau memoles? Ya... bangsa ini sekarang tengah merenovasi dirinya. Ini adalah tahap awal dari proses renovasi. Maka kondisinya terasa berat karena perombakan di berbagai bidang. Segala sesuatunya terlihat berantakan. Namun kondisi ini tidak akan berlangsung seterusnya. Nanti perlahan-lahan jika tahap perombakan/pembongkaran telah selesai dan kita masuk ke perbaikan fisik 'bangunan' maka akan mulai terlihat bentuk 'bangunan' yang baru.

Senin, 20 April 2015

Aku Yang Bermasalah, Laba-Laba Yang Kumatikan... Bagaimana Denganmu?



Setiap orang mungkin memiliki phobia terhadap sesuatu. Entah itu binatang, tumbuhan, ataupun sebuah benda mati. Dulu waktu kelas 5 SD, sekolah mengadakan kemping pramuka. Di hari kedua Ibuku datang membawa pisang. Tiba-tiba kawanku yang phobia terhadap pisang langsung lari begitu Ibuku memberikan pisang kepadanya. Aku waktu itu bingung dan bertanya-tanya: "Kok ada ya yang takut terhadap pisang?"

Aku sendiri punya phobia terhadap serangga seperti laba-laba dan sejenisnya. Ya yang terutama laba-laba besar. Meskipun orang-orang tua berkata bahwa kita tidak boleh membunuh laba-laba, tetapi tetap saja... ada serangga itu di dekatku membuatku merasa tidak nyaman.. kalau berada di kamar pasti aku tidak bisa tidur. Maka hal kejam selanjutnya yang kulakukan adalah mengambil obat nyamuk semprot lalu membunuh laba-laba itu. Aku tidak peduli apakah si laba-laba itu masih bayi atau sudah dewasa.... laba-laba tetap laba-laba. Kaki-kakinya yang berjumlah 8 serta berwarna hitam itu selalu membuatku bergidik. Meskipun laba-laba itu berjarak cukup jauh dariku, tapi jika ada di satu ruangan denganku, maka kukejar dan kusemprot dengan obat nyamuk. Jika tidak ada obat nyamuk, maka sapu menjadi senjataku. Kejam ya... :(

Ya.. itu alam bawah sadarku. Sementara ketika akalku berjalan maka aku memaki2 diriku sendiri. Antara aku dan laba-laba itu, akulah yang bermasalah.. akulah yang ngaco. Laba-laba itu hanya menjalani hidupnya. Mungkin dia hanya berjalan di dinding rumahku. Dan sial bagi laba-laba itu ketika aku yang membencinya melihat dia melintas di depan mataku.. itu berarti kematian baginya. Seharusnya bukan laba-laba itu yang kumatikan. Tapi aku yang mengobati dan membenahi diriku sendiri. Ya karena sekali lagi laba-laba itu hanya menjalani hidupnya. Entah mungkin si laba-laba itu ada keperluan berkunjung ke kawannya atau rapat RW dengan tetangganya sehingga ia harus melintas di depanku. Sama sekali tidak ada maksud atau niatan baginya untuk menyerangku. Kenalpun tidak denganku.... tidak punya masalah apa2 denganku... kenapa pula dia harus menyerangku?? :P

Aku yang menyerang si laba-laba itu. Ujug-ujug kalau istilah orang sunda mah... teu pugah puguh main semprot saja, mematikan si laba2. Menggunakan berbagai pembenaran: "laba-laba itu kan ada yang beracun... laba-laba itu kan mengerikan... laba-laba itu... blablabla..." Heyyyy.... Nopeeee... elu mencari2 pembenaran untuk menutupi masalah elo sendiri.. untuk menutupi kebencianmu pada si Laba2! (talk to my self). Membunuh tanpa alasan yang jelas itu berdosa loh... meskipun itu hanya seekor laba2. Coba ingat2 apa kata malaikat saat berdialog ketika Allah SWT akan menciptakan manusia: "...Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah.." Nah... kan... bener kan.. teu pugah puguh menumpahkan darah seekor laba2?

Maka yang seharusnya aku lakukan untuk menghindari dosa itu adalah membenahi persepsiku sendiri.. seekor laba2 tidak akan menyerang kalau tidak merasa terganggu. Dan try to standing on the spider shoes.... meureun kata si laba2; "Lha.. guweh mau bezoek Emak guweh di sinih kok malah dipateni?? trus... salah guweh kalau lewat rumahnya gitu?" Ayolah... laba-laba hanya seekor binatang kecil.. Dibandingkan aku yang raksasa baginya ini.. kata si laba2: "da saya mah apah atuh". Kubalang bakiak juga si laba2 langsung penyet. Trus kenapa juga harus aku lakukan itu? Dua kata yang ini mungkin bisa menjawab: "merasa puasssssssss"..

Yah.. jadi begitulah.. manusia membunuh dan menyerang makhluk2 yang tidak berdaya itu sebenarnya hanya untuk memuaskan diri sendiri saja. Benar apa kata Malaikat... bahwa manusia itu hanya merusak dan menumpahkan darah. Jangan sampailah pendapat Mas Keanu Reeves di film "The Day The Earth Stood Still" menjadi benar: bahwa untuk menyelamatkan bumi, spesies manusia ini harus dipunahkan... oh tidaaaak...

Lalu bagaimana dengan Anda... apakah Anda juga memiliki phobia atau kebencian terhadap hewan tertentu? atau terhadap seseorang? atau terhadap sebuah komunitas? atau terhadap golongan tertentu yang berbeda? Kalau iya... mari perbaiki persepsi dan otak kita. Jangan membunuh atau menyerang karena phobia atau kebencian kita terhadap sesuatu, seseorang, ataupun satu golongan/kaum. Percayalah... diri kita yang harus dibenahi... bukan sesuatu/orang/kaum atau golongan yang kita benci itu. Berbuatlah adil kalau memang kamu bertaqwa:

"..Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan.." QS Al Maidah: 8


Minggu, 04 Januari 2015

Manusia Luar Biasa Yang Masih Bersedia Menyalakan Lilin Bagi Manusia-manusia yang Terbuang



Pada beberapa titik saya sering merasa kagum terhadap orang lain berdasarkan hal-hal yang mungkin remeh temeh bagi sebagian orang. Misalnya, ketika saya shalat di musholla sebuah mall saya begitu mengagumi orang-orang yang langsung menuju mushola untuk menjalankan shalat ketika adzan berkumandang di tengah-tengah kemewahan mall yang luar biasa luasnya. Karena ketika kita berhadapan dengan gemerlap materi yang disodorkan oleh peradaban mall, ternyata cukup banyak manusia-manusia yang mampu langsung split dari gemerlap duniawi ke gemerlap akhirat. Dan kekaguman saya bertambah ketika manusia-manusia yang saya lihat itu tidak menggunakan atribut yang digunakan oleh muslim 'taat' pada umumnya. Yang wanita cukup banyak yang tidak berjilbab, yang pria juga sebagian besar tak ada tanda hitam di keningnya.

Atau... kekaguman saya pada seorang guru SD yang bisa tetap sabar menghadapi kenakalan anak-anak kecil yang harus dihadapinya sehari-hari. Sampai kadang saya merasa khawatir jika kesabarannya akan habis :D

Dan tulisan saya ini juga akan menceritakan tentang kekaguman saya. Kekaguman pada sebuah profesi yang selama ini tidak pernah saya perhatikan: dokter spesialis kesehatan jiwa.

Saya sudah sering mendengar tentang istilah Schizophrenia. Tetapi saya mulai tertarik dengan topik tersebut setelah menonton film Beautiful Mind. Kisah tentang seorang ahli matematika penderita Schizophrenia yang berhasil menundukkan penyakitnya sampai kemudian mendapatkan penghargaan Nobel. Sangat inspiratif!

Ketertarikan saya bertambah ketika membaca sebuah artikel mengenai kampanye "Lighting of Hope" yang digaungkan oleh para dokter spesialis kesehatan jiwa. Tiba-tiba saya seperti merasa diri saya menciut menjadi mengecil.

Schizophrenia adalah sebuah penyakit gangguan kejiwaan. Dari level terendah sampai yang paling akut, penyakit ini bukan hanya menjadi masalah bagi si penderita, tetapi juga keluarga dan lingkungan di sekitarnya. Namun karena adat, kebiasaan dan persepsi masyarakat Indonesia, penderita Schizophrenia seringkali malah dibawa oleh pihak keluarga untuk berobat secara alternatif ke 'orang pintar'. Alih-alih mengobati, tindakan ini justru bisa membuahkan kondisi yang semakin buruk.

Jika sudah dirasakan sangat mengganggu, atau membahayakan orang lain, tidak jarang pihak keluarga mengambil tindakan memasung atau 'memenjarakan' penderita. Meskipun kita tahu bahwa berat sekali bagi keluarga melakukan tindakan tersebut. Tidak bisa kita begitu saja menunjuk hidung pada keluarga pasien dan memberikan cap "tidak manusiawi" kepada mereka.  Kalau keluarga tidak memiliki kasih sayang terhadap penderita, tentu sudah dibiarkan saja penderita pergi entah ke mana, terombang-ambing di jalanan... sampai kemudian ada kabar berita si penderita tinggal namanya saja :(

Coba kita lihat di sekeliling kita. Adakah penderita gangguan jiwa yang berkeliaran di jalanan? Berbicara sendiri, tertawa sendiri, melakukan tindakan dan hal-hal yang kita anggap aneh. Tapi apakah kita peduli? Paling-paling mereka hanya menjadi perhatian kita 1-2 detik. Setelah itu kita pergi begitu saja. Atau bahkan terkadang kita memilih menghindar dan cepat-cepat berlalu.

Saya akui bahwa saya seringkali bersikap seperti itu. Memang siapa yang peduli? Bahkan mungkin keluarganya saja tidak peduli. Apalagi orang lain? Maka dari itu saya merasa takjub ketika kemudian para dokter ahli kesehatan jiwa mengkampanyekan "Lighting of Hope for Schizophrenia". Siapakah penderita Schizophrenia ini bagi para ahli kesehatan jiwa tersebut sehingga mereka peduli untuk menyalakan lagi harapan untuk para penderita Schizophrenia?

"Together we help them to shape their future"!!! kedua tagline itu membuat saya merinding. Penderita schizophrenia adalah tetap manusia bagi para ahli kesehatan jiwa. Manusia yang memiliki harapan dan masa depan. Manusia yang tetap memiliki hak-haknya. Di saat orang lain tak peduli, menghindar... bahkan mungkin keluarganya sendiri sudah berputus asa, dan angkat tangan... para ahli kesehatan jiwa inilah yang tetap optimis untuk menyalakan harapan para penderita.

Maka dari itulah saya merasa kagum kepada mereka... para ahli kesehatan jiwa. Di sela rasa kagum dan takjub itu, saya mendoakan semoga kepedulian dan usaha mereka mengembalikan masa depan penderita schizophrenia menjadi ladang amal, amal jariyah yang terus tak berhenti membuahkan kebaikan. Aamiin...

Senin, 08 Desember 2014

"Jika Anakmu Sering Berbohong, Mungkin Itu Karena Kau Sering Menghukumnya" ??

"Jika Anakmu Sering Berbohong, Mungkin Itu Karena Kau Sering Menghukumnya"

Benar? Ya benar.
Lalu? Apa itu berarti kita tidak boleh sering-sering menghukumnya kalau ia berbuat kesalahan?
Sama sekali tidak.
Jika anak berbuat salah dan melanggar peraturan yang sudah disepakati, maka dia harus menerima resikonya: dihukum. Kalau kadang-kadang dihukum dan kadang-kadang dibebaskan... lalu di mana konsistensinya? Kalau tidak konsisten, bagaimana peraturan itu akan ditegakkan?

Tapi nanti untuk menghindari hukuman dia akan berbohong?
Jalan keluarnya bukan dengan membebaskan dia dari hukuman. Tetapi berikanlah kesadaran baginya bahwa berbohong agar tidak dihukum atau agar tidak dimarahi itu adalah sebuah tindakan yang sangat pengecut. Selain tindakan pengecut, orang lain juga akan sulit untuk percaya lagi dengan perkataannya.

"Kalau kamu berbuat salah, kamu harus berani menerima resikonya. Maka, sebelum berbuat salah... pikirkan dulu resikonya. Kalau kamu siap menerima akibat  kerugian buat kamu sendiri plus resiko dihukum atau dimarahi ... ya silakan berbuat. Ingat... semua peraturan kita buat untuk kebaikan kamu sendiri. Jadi kalau kamu siap dan berani dengan itu semua ya terserah... silakan. Tapi kalau kamu tidak siap dengan semua resiko itu... ya jangan lakukan kesalahan itu. Jadi... jangan kamu mau berbuat kesalahan, kemudian kamu malah lari dari resikonya, tidak berani menanggungnya. Itu tindakan yang pengecut. Berani dong... hadapi semua resiko itu dengan gagah... segagah kamu melakukan kesalahan itu. Jangan tutupi dengan berbohong. Karena yang ditutupi itu nanti akan terbuka juga"***

***dikutip dari omelan panjang emak-emak galak ke anaknya :P


Kamis, 04 Desember 2014

How would it be if you were standing in my shoes?




How would it be if you were standing in my shoes?
Can't you see that it's impossible to choose?”

Petikan lirik di atas adalah penggalan lagu Too Much Love Will Kill You-nya Queen. Pernah juga dinyanyikan solo oleh Brian May. Lagu ini bagi saya merupakan penutup yang teramat sangat manis atas debut Freddie Mercury semasa hidupnya.

Nah... akhir-akhir ini kalimat dalam petikan lagu itu selalu menempel di kepalaku. How would it be if you were standing in my shoes? Sebuah kalimat yang rasa-rasanya telah abai dan hilang dalam benak kita sekarang. Dalam benak masyarakat kita yang katanya adalah bagian dari sebuah bangsa yang besar, yang bhineka, yang heterogen (jikasanya kata plural sudah menjadi alergen bagi sebagian masyarakat kita). Dan sekarang masyarakat kita tengah gemar-gemarnya men-judge, menunjuk hidung kepada orang lain. Bagaimana jika kita berdiri di atas sepatu orang lain? Bagaimana jika kita memandang sesuatu dengan kacamata orang lain? Pernahkah kita mencoba hal ini?

Kemudian ada pertanyaan ‘bodoh’ lain yang juga berkeliaran di kepalaku: Kalau seandainya Allah SWT adalah Maha Kuasa dan berkehendak menjadikan Islam sebagai agama satu-satunya yang diridhai-Nya, mengapa Ia mentakdirkan makhluk mulia yang sangat Ia cintai: Muhammad SAW bertahun-tahun menderita kesulitan, kesusahan, penghinaan, penindasan sebelum Islam tegak di Mekkah? Padahal Allah SWT sangat berkuasa untuk mempermudah dan menjadikan Islam tegak di Mekkah dengan langsung kun-fayakun tanpa harus ‘membuat’ manusia yang dicintaiNya itu menderita?
Jawaban yang tentunya semua orang sudah tau adalah: Untuk menjadi ujian bagi Rasulullah.. bahwa mencintai Rasulullah berarti adalah mengujinya sehingga akan menjadikan Beliau sosok pemimpin yang kuat, teruji dsb.. dsb.. dsb..

Tapi ada satu sisi lain yang harusnya kita pelajari juga dari “pesan Allah” kepada umat manusia dengan memberikan ujian berat bertahun-tahun kepada Rasulullah dan para sahabat ketika itu.

Jika seseorang mengalami penderitaan, penindasan dan cobaan selama bertahun-tahun, ada 2 macam karakter yang bisa lahir dari proses tersebut: 1. Terbentuknya karakter yang positif, tidak mau menindas orang lain, mengasihi orang lain dan menjadi lebih kuat. Karakter kedua yang mungkin bisa terbentuk adalah karakter negatif, meneruskan menindas orang lain, bahkan mungkin lebih daripada perlakuan yang ia terima sebelumnya.

Kedua karakter itu terbentuk bergantung dari bagaimana basic karakter orang itu sendiri sebelumnya. Sebagaimana kita ketahui selama ini, sebelum diangkat menjadi rasul Muhammad SAW memang sudah memiliki budi pekerti luhur. Bahkan dipercaya oleh tokoh2 di Mekkah. Bisa digambarkan ketika itu Rasulullah juga ditokohkan oleh masyarakat Mekkah. Mapan dari sisi ekonomi (Beliau bersama istrinya adalah pengusaha yang cukup sukses) dan sosial. 
Tiba2 semua kondisi tersebut dibalik oleh Allah SWT. Rasulullah harus melawan arus kepercayaan dan tradisi di lingkungan sekitarnya, harus menanggung hidup para umatnya yang terusir dari lingkungan dan pekerjaan karena mengikuti Rasulullah. Rasulullah juga harus mengalami penindasan dan terusir dari kampung halaman yang dicintainya.

Tapi satu hal yang harus kita catat besar-besar di dalam kepala kita: meskipun Rasulullah dan para sahabat mengalami penindasan, penghinaan dan pengusiran yang luar biasa kejamnya, itu semua TIDAK MENJADIKAN mereka melakukan hal yang sama kepada umat lain ketika mereka mengambil alih Mekkah dan Islam berada di puncak kejayaannya. Bahkan kepada orang-orang yang dulu melakukan kekejaman kepada mereka, kaum muslimin ketika itu tidak pernah melakukan tindakan yang sama (balas dendam). Rasulullah tidak mengusir dan menindas mereka, sebaliknya.. Beliau melindungi orang-orang yang berbeda dengannya, Cobaan, hinaan, pengusiran dan penindasan yang mereka alami selama bertahun-tahun itu justru membuat mereka bisa merasakan bagaimana berdiri di atas sepatu orang-orang yang ditindas, dihina dan diusir. Maka mereka tidak akan melakukan hal yang sama pada mereka. Dengan demikian... di masa Rasulullah Islam menjadi rahmatan lil alamin. Menjadi rahmat dan anugerah bagi semua umat manusia.

Itulah pesan yang saya tangkap mengapa Allah memberikan ujian yang begitu berat kepada Rasulullah dan para pengikutnya: agar mereka bisa merasakan bagaimana berdiri di atas sepatu orang-orang yang tertindas, sehingga ketika kelak mereka menjadi pemimpin di muka bumi, mereka tidak akan menjadi pemimpin yang menindas, mengusir, menghina manusia-manusia lain yang dianggap berbeda dan berseberangan dengan mereka.


Sebaliknya dari Rasulullah dan para sahabat.... ada juga orang-orang yang mengalami perlakuan penindasan, namun setelah mereka bisa berdiri tegak.. mereka akan melakukan hal yang sama pada orang lain.

Menurutmu... mengapa senioritas di SMP/SMA berlangsung dari tahun ke tahun? Dulu ketika SMP di Bandung ada istilah "gencet". Kalau di Jakarta istilahnya "labrak". Siswa kelas 1 & 2 diberlakukan berbagai peraturan oleh kelas 3, kalau melanggar mereka akan digencet/dilabrak. Setelah siswa kelas 1 & 2 naik ke kelas 3, mereka akan melakukan hal yang sama pada adik kelasnya. Tapi tidak semua siswa melakukan hal itu. Ada anak-anak yang bisa mengambil hikmah dan sisi posistif dari apa yang mereka alami sebelumnya: mereka tidak ingin melakukan hal yang sama pada adik kelasnya. Karena mereka sudah pernah merasakan bahwa diperlakukan seperti itu rasanya menyakitkan. Sayangnya anak-anak yang bisa berdiri di atas sepatu orang lain ini jumlahnya tidak banyak. Karena jumlahnya kecil inilah maka senioritas bisa berlangsung bertahun-tahun. Kalau anak-anak positif itu lebih banyak jumlahnya tentu saja senioritas tersebut sudah hilang dari dulu-dulu bukan?

Yah.. kita bisa memahami bahwa mereka itu hanya anak-anak.. yang mereka lakukan hanya kenakalan2 masa remaja saja. Pikiran dan mentalnya belum matang. Pengalaman dan pengetahuannya masih belum banyak. Masih sangat mudah terpengaruh orang lain dan lingkungan.

Tapi.... jangan salah... lihat di sekeliling kita. Betapa banyaknya orang-orang dewasa yang bermental seperti anak-anak itu. Melakukan penindasan, pengusiran, kekerasan pada orang lain yang dianggap berbeda.
Yang menyedihkan dari mereka, ada juga yang mengatasnamakan agama dan keyakinan yang saya anut. Mereka membaca, namun tidak belajar dari sejarah Rasulullah.

Berdiri di atas sepatu orang lain..
Sedemikian sulit kita melakukannya karena ego kita sangat besar. Kita selalu memandang satu persoalan dari kacamata kita sendiri.

Beberapa waktu yang lalu masyarakat kita ribut dengan diperbolehkannya mengosongkan kolom agama di KTP. Karena kita tidak bisa berdiri di atas sepatu orang-orang yang agama dan kepercayaannya tidak diakui negara... maka kita mencemooh pengosongan kolom agama di KTP. Cobalah berdiri di atas sepatu mereka. Bagaimana jika agama kita Sunda Wiwitan yang tidak diakui negara, namun kita harus menulis agama kita dengan memilih: Islam, Kristen, Protestan, Hindu atau Budha? Apa yang kita rasakan? sakit?

“Ah... daripada dikosongkan lebih baik mereka disadarkan bahwa kepercayaan mereka itu salah dan memilih satu di antara agama2 yang diakui negara itu” ~> nah... ini karena kita tidak bisa berdiri di atas sepatu mereka dan hanya mau berdiri di atas sepatu kita sendiri. Mencoba berdiri di atas sepatu orang lain itu tidak sama dengan membenarkan apa kepercayaan mereka. Dengan mencoba berdiri di atas sepatu orang lain kita mengasah kemanusiaan dan tepa selira kita. Jika kita merasa sakit saat berdiri atas sepatu mereka... maka jangan lakukan hal yang sama pada orang lain.
Jujur.. saya juga pernah menjadi orang yang sangat egois dan tidak bersedia berdiri di atas sepatu orang lain. Ketika dengan mudahnya saya menjudge Ibu-Ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya dengan berbagai tuduhan: malas, kurang pendidikan, kurang membaca dsb.. dsb.. Atau ketika saya memandang sinis pada kawan2 yang tidak mengenakan jilbab, atau pada kawan yang berjilbab tapi tidak berkaus kaki. Atau pada kawan2 yang memilih duduk di kelas mengikuti kuliah ketika saya di jalanan berdemo dan berhadapan dengan polisi anti huru hara.. saya menjudge kawan-kawan saya itu apatis, tidak peduli pada kesulitan rakyat kecil.

Pada akhirnya Allah membukakan mata saya. 
Memperlihatkan pada saya bagaimana penuhnya musholla di awal masuk waktu sholat oleh wanita-wanita yang tidak berjilbab, padahal saya yang berjilbab ini sering kali menunda-nunda waktu sholat. 
Atau ketika Allah memperlihatkan kepada saya bagaimana seorang Ibu yang sangat ingin sekali menyusui anaknya, namun secara fisik tidak memungkinkan meskipun telah berusaha dengan berbagai cara. Sehingga ada kesedihan dan rasa bersalah si Ibu ini... terluka oleh pandangan orang lain yang menuduhnya kurang mencintai bayinya. 
Juga ketika Allah memperlihatkan kepada saya bahwa kawan saya yang lebih memilih duduk di kelas mengikuti kuliah dulu (ketika saya berdemo di jalanan), saat ini jauh lebih banyak menolong orang-orang tidak mampu dengan menggunakan ilmunya. Jauh lebih bermanfaat bagi rakyat kecil daripada saya.

Maka... cobalah kita semua belajar untuk berdiri di atas sepatu orang lain. Agar kita bisa merasakan bagaimana jika ada di posisi orang tersebut dan kita tidak akan mudah menjudge orang lain.
Atau seperti kata Rano Karno dulu: “Bukalah kacamatamu...” (nyanyi) :P :P ;)

Rabu, 19 November 2014

Tentang Si Mata Satu... eh... Si Mata Hati

Sering mendengar tentang istilah mata hati. Apaan sii tuuh? Apaaann yaaaa...? Kalau didefinisiin kesannya teoritis banget yak.. :D

Yang jelas, mata hati ini seringkali membantu menjadi bodyguard bagi kita dalam membaca persoalan di sekeliling kita, dalam mengambil langkah dan keputusan.

Bagiku mata hati itu seperti pisau. Bisa tajam, bisa tumpul, bisa membantu kita dalam melangkah, namun bisa juga melukai kita.
Mata hati yang tajam, seringkali membantu dlm mengambil keputusan dan langkah yg tepat meskipun kita tengah berada dalam kebimbangan dan kegalauan. Semakin tajam mata hati, semakin mudah kita merasakan mana pilihan dan langkah yg tepat & baik dalam hidup. Semakin tepat juga analisa2 kita dalam menghadapi satu persoalan. Enaknya org2 yg tajam mata hatinya, mereka lebih tenang, lebih woles.. tidak mudah galau, tidak mudah resah dan gelisah bagai semut merah yang berbaris di dinding mena... (stop!! Kembali ke laptop!!!!)
*lanjut*
Tapi kalau mata hati sudah tumpul, maka dia akan menjerumuskan diri kita dalam kubangan lumpur kesulitan serta kegelisahan.

Maka... mata hati harus selalu diasah. (Eh... ini mah kata lagunya Iwan Fals yak? Hehehee...) Bagaimana cara mengasahnya? Mengasah mata hati bukan hanya dengan rajin beribadah ritual saja (makanya tidak sedikit org2 yg rajin beribadah ritual... tapi kok.... yaaa... gitu deh..).

Rajin berinteraksi dengan masyarakat miskin, melihat sendiri dari dekat penderitaan mereka, bersentuhan kulit dan hati dengan mereka juga sangat membantu mengasah mata hati kita. Ingat yaa kata kuncinya: BERINTERAKSI. Bukan hanya berdiskusi, berteori dan berbicara tentang kemiskinan sambil ngopi2 di cafe atau sambil berapi2 di socmed :D

Selain itu... "iqra" terhadap lingkungan di sekitar kita adalah cara lain yg juga bagus untuk mempertajam mata hati. Termasuk di sini 'iqra' terhadap pendapat dan pengalaman org lain... siapapun itu, meskipun org itu lebih bodoh, lebih minim pengalaman, bahkan lbh bejat dari kita.
Sebaik2nya batu asahan untuk mata hati adalah iqra dr org yg kita benci dan kita pandang sebelah mata.

Ada cara mengasah... ada juga cara menumpulkan mata hati. Bagaimana cara menumpulkannya? Berbuat maksiat adalah salah satu yg membuat mata hati kita mudah tumpul. Menyakiti org2 dekat kita juga membuat mata hati kita menjadi tumpul. Ketika pada awalnya berbuat maksiat atau menyakiti org lain, mata hati kita masih berfungsi sbg bodyguard.. memberikan sinyal agar kita mengambil langkah lain yg lebih tepat. Dan jika kita mengabaikan sinyal itu, kita tak peduli... terus maju jalan bermaksiat.. juga menyakiti org2 di sekitar kita. Walhasil... seringnya mengabaikan sinyal ini membuat si mata hati menjadi tumpul.

Sombong, angkuh, merasa diri lebih hebat, merasa lebih berpengalaman, lebih pintar, lebih benar dr orang lain... inilah yg paling ampuh menumpulkan mata hati seseorg.

Satu lagi yg rawan sekali menumpulkan mata hati... adalah... yg sekarang semua org seperti berlomba2 terjun ke dalamnya: politik dan kekuasaan :D Karena ketika kita terpenjara dalam ikatan politik seringkali kita terpaksa harus mengabaikan "sinyal peringatan mata hati" dlm berpendapat, mengambil keputusan atau bertindak. Yg benar disalahkan dan yg salah dibenarkan karena kita sudah terikat. Sekali lagi... mengabaikan sinyal mata hati inilah yg mudah sekali menumpulkannya.

Jadiiiiii... KALAU berniat terjun dalam politik dan kekuasaan.. tetaplah terus mengasah mata hati kita dengan bersedia bahkan rajin berinteraksi dengan masyarakat yg tidak beruntung, yang dekil dan bau itu. Juga rajin "iqra" persoalan yg ada di sekeliling kita dari org2 yg kita benci/pandang sebelah mata. Perbedaannya sangat nyata loh dalam tindak tanduk serta pendapat org2 yg tajam mata hatinya, dengan yg sudah tumpul.

Jadi... mari kita rajin2 mengasah mata hati.

*Catatanku yg berkaca dari pengalaman tumpulnya mata hatiku sendiri :D

Rabu, 22 Oktober 2014

Pekerjaan Paling Hina Di Dunia

Siang yang panas. Aku dan Maula mengambil tempat duduk plastik di atas trotoar dan mulai memesan makanan. Satu mangkok mie ayam untukku dan satu piring siomay dengan saus kacang di pinggir piring untuk Maula. Tentunya 2 teh botol dingin sebagai penyeimbang udara dan makanan yang panas.

Makanan belum datang, seorang ibu berpakaian lusuh dan menggendong bayi yang ditutupi kain menghampiri kami sambil menengadahkan tangannya. Maula berbisik:
"Bun... kasih Bun, kasian."
"Adek aja yang kasih." jawabku.
Maula mengambil uang 2000 rupiah yang kupegang dan memberikannya pada Ibu itu. Dia lalu mengamati si Ibu sampai menghilang dari pandangan.

Piring siomay Maula datang. Sebelum memasukkan suapan pertama ke mulutnya Maula bertanya:
"Bun, mengemis itu pekerjaan yang hina ya?"
"Maksud Adek mengemis kayak Ibu itu?"
Maula mengangguk.
"Tergantung, Dek. Kalau dia sebenarnya mampu bekerja tapi lebih senang  mengemis karena malas ya itu tidak baik."
"Kalau dia tidak mampu bekerja tidak apa-apa mengemis?"
"Ya kalau dia tidak punya pilihan lain selain mengemis ya nggak apa-apa. Asal jangan berbohong dan menipu."
Maula manggut-manggut. sementara aku bergulat pada pikiranku. Aku ingin bercerita pada Maula tentang pekerjaan paling hina. Tapi aku tidak mau memberikan input negatif padanya. Maka pikiranku pun bergulat sendiri.

Pekerjaan paling hina di jaman teknologi. Orang yang melakukan pekerjaan ini tidak berpakaian lusuh seperti pengemis, tidak berwajah kusut. Bahkan mungkin dia berpakaian rapi dan memakai parfum mahal. Mungkin dia ke mana-mana membawa gadget yang canggih dan handphone yang terbaru. Mereka bukan orang-orang yang bodoh. Bahkan mungkin lulusan pendidikan tinggi. Namun pekerjaan yang dilakukannya jauh lebih hina daripada mengemis dengan cara berbohong. Jauh lebih hina daripada para wanita panggilan yang menjajakan tubuhnya. Mereka yang melakukan pekerjaan hina itu adalah mereka yang mendapatkan uang dari menjual dan menyebarkan fitnah.

Fitnah itu sendiri sangat keji. Bahkan konon lebih keji daripada pembunuhan. Fitnah bukan hanya berdampak pada korban yang difitnah. Tapi juga orang-orang dekat korban. Mereka yang melakukan pekerjaan ini  menjual diri, intelektual dan kemanusiaannya. Maka pekerjaan yang menghasilkan uang dari menjual fitnah adalah pekerjaan yang paling hina. Sebagaimana Rasulullah mengibaratkan bergunjing dengan memakan bangkai saudara sendiri, lalu bagaimanakah mengibaratkan mencari uang dengan menjual fitnah?

Minggu, 08 Juni 2014

PISA dan Logika Masyarakat Indonesia




Test PISA (Programme International Student Assessment) adalah sebuah test internasional yang diadakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengukur kemampuan matematika, sains dan literasi anak-anak di sebuah negara. Soal-soal dalam test ini pada dasarnya adalah soal-soal yang sederhana.  Jika pemecahan soal dirumuskan dalam sebuah kalimat matematika, maka rumusan kalimat matematikanya sangat sederhana.  Untuk level awal, rumusan matematika tersebut bisa seperti penjumlahan dan pengurangan sederhana serta perkalian dan pembagian sederhana namun itu semua disajikan dalam sebuah soal cerita yang kontekstual.

Banyak pihak yang mengkritik metode penilaian PISA. Namun kita juga tidak bisa mengabaikan sebuah penilaian yang bermaksud untuk memberikan masukan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan sistem pendidikan. 
Indonesia selama ini selalu menduduki peringkat akhir dalam pemeringkatan PISA. Tahun 2012 Indonesia berada di peringkat 64 dari 65 negara. Satu tingkat di atas Peru. Menanggapi hal ini Kemendikbud menyatakan tidak akan tinggal diam. Namun sayangnya tindakan yang dilakukan oleh Kemendikbud untuk meningkatkan kemampuan siswa Indonesia berdasarkan standard PISA tersebut hanya dengan memasukkan soal-soal PISA dalam soal UN tahun 2014. Ada beberapa soal yang diambil dari test PISA (UN SMA Memuat Soal Standar Internasional). 

Tentu saja apa yang dilakukan oleh Kemendikbud tidak akan mendongkrak rangking Indonesia dalam pemeringkatan PISA. Bagaimana bisa peringkat Indonesia naik hanya dengan mencantumkan soal2 PISA dalam UN SMA dan SMP?

Jika dilihat dari soal-soalnya, bisa kita simpulkan bahwa yang diukur dalam test PISA adalah seberapa kuat logika anak-anak Indonesia. Bagaimana mereka bisa menangkap sebuah permasalahan kemudian merumuskan pemecahannya. Hasil test yang rendah tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa anak2 kita yang telah diajarkan membaca, menulis dan berhitung sejak TK tidak mampu untuk menangkap sebuah persoalan.

Anak-anak kita sudah bisa berhitung sejak TK. Mereka sudah diajarkan 5+6=11, dan mereka pun bisa menjawab dengan benar jika disodorkan rumusan matematika seperti itu. Tetapi mereka gelagapan ketika disodorkan soal:

"Doni berbelanja ke pasar bersama-sama Jaka. Mereka membeli buah di sebuah kios. Doni membeli 5 buah jambu dan Jaka membeli 6 buah jambu serta 3 buah sawo. Sesampainya di rumah mereka memasukkan semua buah yang mereka beli ke dalam kulkas. Berapa buah jambu yang ada di dalam kulkas?"

Padahal kalimat/rumusan matematika yang benar dari soal cerita tersebut sama: 5+6=... Tapi mereka tidak mampu untuk merumuskan kalimat matematikanya. Kenapa? karena mereka tidak mampu untuk menangkap apa inti permasalahan dalam soal cerita di atas. Nah inilah yang terjadi dalam pembelajaran anak-anak kita: Ketidakmampuan dalam melihat dan menangkap sebuah persoalan. Jika langsung disodorkan rumusan matematikanya 5+6=...? mereka langsung bisa menjawab dalam tempo hitungan detik. Tapi ketika disodorkan soal cerita kontekstual, mereka kebingungan. Menghapal rumus mereka sangat bisa. Tapi menerapkan rumus tersebut dalam sebuah soal cerita kontekstual, mereka kelimpungan.

Yang harus disadari oleh para orang tua, para pengajar dan pemerintah, tujuan anak-anak kita belajar bukan agar mereka bisa menyelesaikan soal-soal di kertas ujian atau ulangan saja. Mereka belajar agar mereka bisa memecahkan persoalan-persoalan yang akan mereka hadapi kelak, dalam kehidupannya dan dalam pekerjaan sehari-hari yang akan mereka geluti nanti. Jadi yang terpenting dalam belajar adalah bagaimana agar anak-anak kita mampu untuk menangkap dan merumuskan sebuah permasalahan. Nalar, logika itulah yang harus diasah. Jangan terlalu senang jika anak-anak kita sudah bisa berhitung 5+6=11 sejak TK, tapi ketika SMP disodori soal cerita sederhana, bingung.

Kalau kita melihat dalam buku matematika anak-anak kita, soal-soal latihan berupa rumusan matematika langsung, porsinya jauh lebih banyak daripada soal cerita kontekstual. Padahal dari soal ceritalah pola pikir anak-anak akan terbentuk. Ada 3 tahap yang harus dilalui seorang anak dalam memecahkan soal cerita: bagaimana alur berpikir dalam menangkap sebuah persoalan, lalu membuat rumusan matematikanya, baru menghitung hasilnya. Sangat berbeda dengan soal latihan berupa rumusan matematika, di mana anak-anak langsung menghitung hasilnya, tanpa melalui tahapan pertama dan kedua: menangkap sebuah persoalan, dan membuat rumusan matematikanya. Jadi anak-anak tidak terlatih untuk kedua tahapan tersebut. Pola pikir mereka tidak terlatih untuk menangkap sebuah persoalan. Sehingga nalarnya juga tidak terbentuk. Padahal pola pikir ini sangat berguna bagi mereka, bukan hanya untuk memecahkan soal-soal matematika, tapi juga untuk memecahkan persoalan sehari-hari yang ada dalam kehidupan di sekitar kita.

Dari sini mungkin bisa dimengerti mengapa dalam kehidupan masyarakat kita sekarang banyak terlahir pemikiran-pemikiran dan  gagasan-gagasan dengan logika yang ajaib. Karena masyarakat kita memang tidak terlatih untuk dapat melihat apa inti persoalan dari sebuah permasalahan. Tidak paham persoalannya apa, maka solusi, ide, gagasan yang ditawarkan juga ajaib, tidak menyentuh dan memecahkan inti persoalannya itu sendiri. Alur logika, nalar masyarakat kita memang tidak terbentuk dengan baik sejak di bangku sekolah.
Contoh nyata dan jelas yang kita lihat sekarang adalah: permasalahan peringkat PISA anak-anak yang jeblok diatasi dengan memasukkan soal-soal test PISA ke dalam tahapan akhir proses belajar anak-anak: UN. Apa inti masalah yang menjadi penyebab rendahnya peringkat PISA itu sendiri tidak didalami.. langsung instant: masukkan test PISA ke dalam UN. Ajaib bukan? :)