Selasa, 20 Februari 2018

Di Raudhah, Allah "Berkisah" Tentang Umat Muslim Saat Ini

Ada sebuah tempat di dalam Masjid Nabawi Madinah yang disebut-sebut oleh Rasulullah sebagai taman surga,

                             "Antara mimbarku dan rumahku merupakan taman dari taman-taman surga"                                                                                                                    (H.R. Al Bukhari & Muslim)

Tempat itu adalah Raudhah. Tempat yang disebut sebagai tempat mustajab untuk berdoa. Setiap umat muslim yang datang ke Masjid Nabawi tidak pernah melepaskan kesempatan untuk masuk ke Raudhah. Ada yang sekedar berdoa dengan khusyuk.. ada pula yang menyempatkan untuk bisa sholat beberapa raka'at di sana.

Untuk masuk ke dalam Raudhah ada pembagian waktu bagi kaum wanita.. yang tentu saja pintu masuknya pun dipisahkan antara wanita dan pria. Selain itu juga ada jalur khusus untuk pengguna kursi roda.
Pertama kali masuk ke Raudhah, saya sambil mendorong kursi roda ibu saya. Tadinya kami berdua mau bergabung dengan rombongan biasa. Tetapi kemudian diarahkan oleh Petugas Askar ke jalur khusus pengguna kursi roda.

Sebelum masuk ke antrian jalur khusus kursi roda, saya dan Ibu saya dihadang oleh seorang Ibu yang menggunakan bahasa Indonesia. Dia memegang tangan saya dan bertanya,
"Bu.. saya boleh ikut tidak dengan Ibu untuk masuk ke jalur kursi roda? Saya minta tolong, karena besok saya sudah harus umrah ke Mekkah.. ini kesempatan terakhir saya".
Saya mempersilakan Ibu itu untuk ikut kami berdua. Setelah melewati "pintu" penjagaan pertama, Ibu itu berkata lagi kepada saya mengenai alasannya untuk ikut dengan kami,
"Kalau jalur kursi roda, antriannya lebih sedikit. Setiap kursi roda boleh didampingi dua orang, Bu.."
Saya hanya menyimak penjelasannya..
"Oh, Begitu.."

Melewati penjagaan Petugas Askar berikutnya, Ibu itu memisahkan diri dari kami sambil mengucapkan terima kasih. Dan saya tidak melihatnya lagi sejak itu.

Memang terlihat antrian jamaah yang menggunakan kursi roda berbaris rapi dan teratur. Beberapa kali rombongan lain yang tidak menggunakan kursi roda memotong antrian namun selalu diusir oleh Askar. Di antara mereka ngotot memaksa masuk dan berdebat sampai Petugas Askar terlihat kesal dan menepuk jidatnya sendiri πŸ˜…
Ada lagi yang berkelit dari Petugas Askar dengan cara berpura-pura akrab dan berbincang-bincang dengan wanita-wanita tua di kursi roda. Mungkin untuk memperlihatkan kepada Askar bahwa ia masuk ke dalam rombongan wanita di atas kursi roda itu. Ya seperti Ibu-Ibu yang bersama kami tadi.. tapi bedanya Ibu-Ibu yang bersama kami itu meminta ijin kami terlebih dahulu 😊

Yaaah..begitulah.. di sana hati harus terus menerus mengucapkan istighfar.. karena ada saja godaan-godaan yang mengundang untuk dikomentari. Ataupun kondisi-kondisi yang membuat kita melakukan perbuatan yg tidak seharusnya demi memenuhi ego kita sendiri dalam beribadah. Intinya menahan diri dan fokuskan diri serta niat untuk mendekatkan diri kepada Allah di sana.. bukan yang lain.



Sekitar 1 jam menunggu dalam antrian, dari jauh terlihat pintu makam Rasulullah. Dan mulai terlihat pula sistem yang diterapkan oleh Askar di dalam Raudhah yang khusus untuk pengguna kursi roda itu. Memang tempatnya kecil. Mungkin hanya sekitar 3x3m. Jamaah diijinkan masuk sesuai jumlah kapasitas tempat. Untuk kursi roda ditempatkan di bagian depan sekitar 3 shaf, sedangkan di bagian belakangnya ada 2 shaf tempat sholat untuk pendamping yang mendorong kursi roda. Jadi memang tempat untuk jamaah yang menggunakan kursi roda itu hanya bisa menampung 5 shaf saja.

Setelah jamaah masuk ke dalam Raudhah, Askar menutup pintu masuk dengan tali lalu mempersilakan jamaah di dalamnya sholat dengan tenang. Tak ada dorong-dorongan sama sekali. Semua berjalan dengan tenang dan khusyuk. Setelah beberapa menit, Askar akan mulai memerintahkan Jamaah untuk keluar. Beberapa Askar bertanya pada jamaah berparas Melayu, "Ibu sudah, Ibu?" Lalu Askar membantu mendorong kursi roda Ibu itu keluar dari Raudhah.

Semakin lama semakin mendekat, akhirnya tiba juga giliran saya dan Ibu saya masuk ke dalam Raudhah. Tidak usah dikisahkan bagaimana sholat dan perasaan kami di Raudhah. Biar itu menjadi cerita antara kami dan AllahπŸ˜™
Hanya saja... meskipun para jamaah di dalam Raudhah yang disediakan khusus untuk kursi roda itu bisa sholat dan berdoa dengan tenang, rasanya ada yang mengganjal karena dari tempat itu jamaah langsung diarahkan keluar Raudhah tanpa bisa mendekat dan mengunjungi makam Rasulullah.. kami hanya bisa memandang bagian atas makam Rasulullah dari jauh.. πŸ˜₯

Bagaimana mungkin datang dari Indonesia ke Madinah..  ke Masjid Nabawi, Rumah Rasulullah tanpa mengunjungi jasad Rasulullah? Manusia yang paling dirindukan umat Muslim di berbagai belahan dunia?

Maka di malam terakhir di Madinah, saya minta ijin pada Ibu dan Suami untuk kembali ke Raudhah menggunakan jalur biasa. Bukan jalur kursi roda. Kebetulan Ibu saya malam itu ingin istirahat di kamar, mempersiapkan diri dan tenaga untuk berangkat umrah ke Mekkah keesokan harinya.

Setelah Isya saya pun menunggu pintu Raudhah dibuka di bagian "Kumpulan Berbahasa Melayu". Memang antrian di bagian ini berbeda sistem dengan antrian di jalur khusus kursi roda
yang saya jalani bersama Ibu saya sebelumnya. Di bagian ini jamaah dibagi berdasarkan bangsanya: "Kumpulan Berbahasa Melayu", "Arab/Timur Tengah/Turki" dan "India-Afrika". Saya berusaha berpikir positif bahwa pengelompokan ini dimaksudkan untuk memudahkan komunikasi antara Askar dan jamaah dalam bahasa yang sama di dalam kelompok. Askar juga tidak menerapkan sistem barisan antrian seperti halnya untuk jamaah yang menggunakan kursi roda. Jadi tiap-tiap kelompok dipersilakan masuk berbondong-bondong. Kadang kala di dalam satu kelompok menyusuplah kelompok dari bangsa lain.

Seperti yang terjadi malam itu (Dan mungkin biasa terjadi sebelumnya), ketika jamaah dalam "Kumpulan Berbahasa Melayu" sedang duduk menunggu instruksi Askar yang mendampingi kelompok ini untuk melangkah maju, masuklah beberapa orang jamaah yang sepertinya dari Turki ke dalam kelompok kami. Rupanya dia tidak sabar untuk menunggu.. dan memilih merangsek masuk ke dalam barisan kelompok kami. Askar sudah menegur. Dan seperti biasa,.. Askar hanya bisa marah-marah dan berdebat.. lalu diakhiri dengan menepuk jidatnya sendiri saking kesalnya. Orang-orang Turki yang berbadan besar-besar itu melangkah maju sambil menekan kepala orang-orang Melayu yang sedang duduk agar mereka bisa bertumpu dan menjaga keseimbangan badannya πŸ˜›
Ada juga orang Turki yang lain yang menangis dan meratap "Yaaaaa Rasulullaaaaah... Yaaaa... Rasulullaaaah" sambil perlahan-lahan merangsek masuk ke dalam kelompok kami dan tiba-tiba saja sudah berada di tengah-tengah. Seperti biasa terjadi perdebatan antara orang Turki tersebut dan Askar.. dan akhirnya... ya seperti biasa juga.. Askar pasrah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.



Dalam hal ketertiban dan kerapihan memang orang-orang Melayu terkenal lebih di depan daripada jamaah lainnya.
Sebelum masuk Raudhah sendiri ada arahan yang ditulis besar-besar  pada selembar spanduk dan digantung agar jamaah tidak saling menyakiti untuk bisa masuk ke dalam Raudhah. Tapi ya entah kenapa seringkali arahan dan peringatan itu diabaikan.

Dan tibalah waktunya kelompok jamaah Berbahasa Melayu yang jumlahnya ratusan ini masuk ke dalam Raudhah. Askar pendamping memberikan aba-aba dan menghitung mundur. Maka yang selanjutnya terjadi... ibarat orang-orang yang merangsek masuk ke dalam toko discount besar-besaran setelah berjam-jam mengantri di luar. Berdesak-desakan, saling dorong, saling berebut.

Terus terang meskipun sudah sering mendengar cerita suasana di Rhaudah, tapi tetap saja saya shock dengan keadaan itu. Lalu saya merasa ada dorongan yang kuat sekali dari belakang. Saya menoleh dan melihat rombongan orang-orang Turki yang berbadan besar itu ikut masuk ke Raudhah bersama rombongan orang-orang Melayu. Mereka terus mendorong merangsek ke depan. Saya lihat beberapa orang wanita sedang shalat tepat di depan saya. Maka saya berusaha mati-matian menahan dorongan itu, tangan saya rentangkan dengan harapan bisa menghalangi orang-orang Turki itu merangsek ke depan dan mendorong jamaah yang sedang shalat di depan saya. "Don't push us, please... don't push us, they're praying!!" Tapi tentu saja permintaan saya tidak mereka dengarkan. Siapa saya? Askar saja dilawan.. 😌😌 Maka saya sekuat tenaga bertahan supaya bisa menjaga jamaah yang sedang shalat itu. Luar biasa tenaganya... badannya besar-besar.. πŸ˜…πŸ˜…

Di saat-saat itu, beberapa kali saya menoleh ke makam Rasulullah dan mengucapkan salam. Sedih rasanya.. sangat sedih sekali bercampur aduk dengan rasa shock. Tiba-tiba ada insiden kecil di depan mata saya: seorang jamaah yang terlihat seperti dari Bangladesh atau India atau entah apalah itu.. memukul jamaah di sampingnya. Wajahnya merah padam memandang wanita yang dipukulnya itu.. Entah karena didorong atau apa.. saya tidak tau apa yang menyebabkan ia begitu marahnya. Saking kuatnya jamaah Bangladesh/India itu memukul wanita di sampingnya, kain penutup kepalanya sampai tertarik ke belakang.

Maka ketika itulah,,, menyaksikan peristiwa itu.. puncak rasa shock saya. Tanpa terkendali saya menangis, tidak bisa saya kendalikan. Lalu sekali lagi saya memandang makam Rasulullah sambil merasa malu. Maluuuu sekali.

Yaa Rasulullah.. maafkan kami umatmu. Engkau memohon kepada Allah agar umatmu di masa datang tidak terpecah belah karena perbedaan pendapat. Permohonan itu ditolak oleh Allah.
Maka... di sinilah kami terpecah karena perbedaan pendapat. Namun banyak dari kami terpecah, saling menyakiti bukan karena perbedaan pendapat, tetapi karena memperebutkan surga. Seperti yang saya saksikan malam itu. Mereka saling menyakiti karena berebut tempat di Raudhah... di Taman Surga.
Tapi alangkah malunya saya ketika itu semua dilakukan di depan.. di hadapan.. jasad Rasulullah! Sedih bukan main saya membayangkan bagaimana perasaan Rasulullah ketika mengetahui umatnya saling menyakiti tepat di hadapannya. Jangankan di belahan dunia lain.. di hadapan jasad Rasulullah saja umat Muslim bisa saling menyakiti satu dengan yang lainnya demi sekeping tempat di Taman Surga,..

Di situ saya menangis dan berkali-kali memohon maaf kepada Rasulullah atas perilaku kami umatnya. Saya merasa tidak tega untuk berlama-lama di sana. Saya hanya berdoa sebentar di dekat makam Rasulullah untuk kawan dan saudara yang menitipkan doa padaku.. terutama untuk alm Kakek yang waktu itu sedang sakit. Sedangkan memanjatkan doa untuk diriku sendiri.. saya sudah tidak punya muka di hadapan Rasulullah.. malu rasanya.

Susah payah saya mencari jalan keluar.. Saling bertabrakan dengan jamaah lain yang memasuki Raudhah karena tidak ada jalur khusus untuk keluar. Di perjalanan ke luar Raudhah itu sekali lagi saya melihat bagaimana susah payahnya orang-orang untuk sholat karena terdorong oleh jemaah di belakangnya. Lagi-lagi saya bersama beberapa orang Melayu berusaha menghalangi dan menjadi pagar betis dari dorongan orang-orang itu..  tetap saja mereka berhasil merangsek ke depan dan mendorong mereka yang sedang sholat.

Semua itu benar-benar menjadi potret bagaimana umat kita sekarang ini. Entah siapa Tuhan kita saat ini.. apakah agama yang menjadi Tuhan kita sekarang? Atau malah Surga yang menjadi Tuhan kita? Jika Allah yang menjadi Tuhan kita, lalu kenapa pula perintahnya agar kita tidak saling menyakiti tidak kita dengarkan? Kenapa pula hanya untuk mendapatkan sekeping tempat di Taman Surga kita tega menyakiti sesama umat Muslim?... melanggar perintah-Nya? Kita menangis-nangis, meratap menyatakan rindu kepada Rasulullah... tetapi di depan jenazahnya saja kita tega untuk saling menyakiti.😭😭

Saya merasa lemas, tenaga sepertinya terkuras habis. Bukan karena menahan dorongan orang-orang bertubuh besar itu, tetapi lemas karena sedih dan malu. Saya tidak tega membayangkan apa yang dirasakan Rasulullah mengetahui semua itu yang mungkin saja terjadi setiap hari di Raudhah.. di hadapan jasadnya sendiri. Sedangkan kita tau betapa sedihnya Rasulullah dulu membayangkan umatnya di masa datang hingga beberapa kali Beliau berucap, "Umatku.. Umatku... Umatku..."😭😭

Yah.. beginilah keadaan kita yang sesungguhnya. Saya seperti diperlihatkan semuanya di Raudhah oleh Allah.. Jangankan umat Islam di Indonesia, di depan jasad Rasulullah saja, kita bisa saling menyakiti tanpa mempedulikan perasaan Beliau jika mengetahuinya.  😭😭

Saya terus berjalan ke luar masjid, ke tempat suami yang duduk menunggu saya di depan Gate 26..


Kamis, 08 Februari 2018

Siapa Yang Mau Punya Anak Macam Dilan?

Iyaaa.. siapa coba yg mau punya anak macam Dilan?
Panglima tempur genk motor...
Suka berantem..
Dikeluarkan dari sekolah..?

Coba.. siapa yang mau punya anak macam Dilan?
Mencintai keluarganya..
Menghormati perempuan..
Menghormati gurunya..
Suka membaca.. bahkan di usianya yg remaja itu minta dibelikan dan melahap habis Tafsir Al Azhar yg 30 buku itu.. dan buku2 sastra lainnya?
Bersedia bertanggung jawab terhadap perbuatannya..
Jujur bicara apa adanya.. juga jujur perilakunya.. bahkan gelisah ketika menerima hadiah barang curian..

Eh.. ada juga ya sisi positifnya Dilan? Ya namanya manusia pastilah ada positif negatifnya dooong aaahhh.. πŸ˜†

Ga bisa milih ya?? Pingin anak kayak Dilan yg positifnya aja..
Hihihiiii... itulah realitanya anak2... Ya jangankan anak2 laaaah... org dewasa saja ada yg keliatannya baiiik bangeet.. alim.. tapi trus korupsi.. atau membohongi istri bertahun2.. tau2 nikah lagi.. 😝 Nah ada positif negatifnya kan??

Percayalah... Manusia yg sempurna cuman ada di film... film Ayat2 Cinta #eh
πŸ˜‚πŸ˜‚

Ahahaha... sebenarnya saya memahami kekhawatiran Mamak2 degan sosok Dilan.. pasti mereka takut anaknya begini begitu.. Padahal coba aja dilist perilaku positif dan negatif anaknya.. dan bandingkan dengan Dilan.. di beberapa bagian pasti ada aja keunggulan Dilan. Ya... di mana2 pasti seperti itu dooong..

Lalu bagaimana dengan saya sendiri? Apakah saya juga merasa khawatir?


                                                    *ilustrasi


Sejak si Sulung SD.. saya ga pernah melarang dia untuk bergaul dengan siapapun. Teman sebangkunya di kelas 4 (cowok) suka merokok.. suka tawuran.. Kelas 4 SD loh ituuuu... Dan anak itu mencoba mempengaruhi si Sulung..
*Nis.. kamu boleh merokok ga?
**Ga suka..
*Boleh tawuran ga?
**Ya nggak dong..
*Boleh bolos nggak?
**Boro2..
*Ga enak banget yaa.. hidup kayak kamu.. ga bebas"

πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Anak SD tuh...
Tapi saya ga khawatir dan ga melarang Si Sulung berteman dengannya. Toh si Sulung udah menceritakan semua pada saya.. Apalagi yg harus saya khawatirkan? Kan lebih baik dia memutuskan mana yg benar dan salah dengan pikirannya sendiri... bukan dengan doktrin ataupun pemaksaan dari saya. Satu hari nanti.. apa yg dia lihat dr teman2nya akan sangat mempengaruhi cara dia berpikir. Maka input seluas2nya harus dia dapatkan agar pandangannya lebih kaya. Dan dengan demikian jadi bisa memutuskan dengan tepat apa yang baik dan tidak baik untuk dirinya sendiri.

Pada kenyataannya.. meskipun berteman dan dipengaruhi oleh teman sebangkunya itu, kelas 6 SD Si Sulung malah memutuskan memakai jilbab sendiri. Sebenarnya saya merasa senang.. pasti dong.. tapi ketika dia memutuskan berjilbab, saya dan Budhenya yg seorang guru malah meracuni niatnya, "Nanti kamu ga bisa bersenang2 dulu loh.. ga bisa gaya2an dulu.. ga bisa pake baju bagus macam2 dulu.. blablabla..." Pokoknya kami berdua (ditambah dengan Uwak Godangnya) malah meracuni niatnya untuk berjilbab... 😊 (Orang tua macam apa kamiii πŸ˜…πŸ˜…)
Tapi dia bersikukuh... ya silakan.. Bahkan menjelang SMA sempat berkeinginan untuk memakai niqab meskipun kemudian niatnya kendur setelah mencoba (Suwer kami tidak meracuni apa-apa seperti sebelumnya... hahhahahaa...)

Saya sendiri tidak terlalu menargetkan bahwa jika dia berjilbab lalu harus drastis benar2 agamis.. Tidak... dia masih buka jilbab ketika berenang.. saya jg tidak masalah.. Silakan aja.. keyakinan saya.. selama niatnya itu tidak berdasarkan pemaksaan, (apalagi sekedar doktrin) tapi berdasarkan pemikiran dan keputusannya sendiri Insya Allah itu akan lebih baik untuknya. (Di bagian yang akan datang, saya akan ceritakan bagaimana sahabatnya dipaksa untuk menggunakan jilbab)

Di SMP dan SMA dia juga banyak berteman dengan anak-anak genk baik cowok maupun cewek. Anak-anak yang suka mabuk dan tawuran. Bahkan ada temannya yang dikeluarkan dari sekolah. Dia merasa sedih sekali ketika itu.
Sama ketika di SD, Saya tidak pernah membatasi pertemanannya. Silakan...

Satu waktu dia cerita kepada saya tentang sahabatnya. Kita sebut saja namanya Nina. Nina dipaksa menggunakan jilbab oleh Ibunya yang selalu menggunakan Khimar. Entah bagaimana hubungan Nina dan Ibunya sehari-hari.. tapi Nina menggunakan jilbab hanya jika ada Ibunya atau teman Ibunya. Nina sering pulang malam... memakai baju2 yang terbuka, merokok, mabuk-mabukan.. dan beberapa perilaku yang .... yaaa... begitulah.. Tapi yang membuat saya kaget adalah.. jika Nina bertengkar dengan ibunya, atau merasa banyak masalah,.. dia akan melakukan cutting. Cutting adalah istilah mereka untuk "melukai tangannya sendiri dengan cutter". Seringkali Nina berkata pada Si Sulung, "Gue capek hidup.. masalah gue itu banyak sekali".
Sungguh.. kalau bukan karena berusaha untuk menghargai posisi Ibunya, saya pasti sudah minta Si Sulung untuk mempertemukan saya dengan Nina dan bicara dengannya. Jadi ya saya biarkan saja dulu. Saya hanya menunjukkan kepada Si Sulung apa yang harus dilakukan dan dikatakan kalau Nina curhat atau mulai cutting lagi.

Si Sulung sangat dekat dengan Nina. Selalu menjadi tempat curhat. Dan saya yakin.. bukan sekali dua kali pastinya Nina mempengaruhi Si Sulung untuk merokok atau minum minuman keras. Ada kekhawatiran tidak dalam hati saya? Jujur.. pasti ada.. Saya pernah gelisah ketika Si Sulung mengerjakan tugas kelompok bersama Nina.. 😁 Wajar kan? Tapi saya tidak menghalangi Si Sulung untuk berteman dengan Nina. Biarkan saja. Kenapa?? Gile lo Noooov... 😩

Heheee... aku yakin dan percaya Nina bisa menjadi guru untuk Si Sulung. Maksudnya.. dari semua perilaku Nina dan permasalahan-permasalahannya, Si Sulung pasti bisa memetik hikmahnya dan menjadikan pelajaran baginya. Toh Si Sulung selalu menceritakan hari-hari yang dilaluinya setiap pulang sekolah. Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi saya untuk merasa khawatir... Tapi yaaa... tetap saja adalah secuil-cuil perasaan itu.... setitiiiiiiik saja.. Dan kemudian saya buang jauh-jauh kekhawatiran itu. Lebih baik bicara sajalah.. hosip-hosip aja dengan Si Sulung.

Pada akhirnya saya selalu bilang pada Si Sulung mengenai teman-temannya yang ikut genk entah hapa-hapa: "Bunda dulu juga dekat anak-anak genk. Dekat sekali. Mereka merokok, mabuk-mabukan, tawuran, ngeganja. Hanya saja Bunda nggak ikut-ikutan melakukan yang mereka lakukan. Kalau kamu dekat dengan orang-orang seperti itu kamu harus selalu berpikir pengaruh positif apa yang bisa kamu berikan ke mereka. Bukan sebaliknya. Kalau ga bisa memberikan pengaruh positif ke mereka mah buat apa.. malah bikin mereka jadi tambah susah nantinya. Kalau kamu bisa memberikan pengaruh positif,.. nantinya mereka dan pengalaman kamu berteman dengan mereka akan menjadi guru yang baik buat kamu. Dan kamu pasti merasa senang sudah mengalaminya. Coba bayangkan dan bandingkan kalau sebaliknya yang terjadi. Coba bayangkan dan bandingkan kalau kamu kayak Nina.. bayangkan perasaan kamu sendiri. Hepi atau tidak?"

Dan beberapa kali, omongan-omongan yang saya sampaikan ke Si Sulung biasanya nyampe juga ke telinga teman-temannya itu 😊
Jadi sebenarnya kalau buat saya pribadi, tidak ada alasan bagi saya untuk merasa khawatir dengan pertemanannya. Apakah dia berteman dengan anak-anak genk atau apalah namanya yang sejenis...

Teman-teman saya yang dulu bhuandel2 itu juga sekarang bisa dibilang 180 derajat sikap dan perilakunya. Banyak yang berhasil dan jadi family man. Eh... ini bukan relasi otomatis jika maka loh yaaa... Bukan "JIKA ketika remaja bhuandel2, MAKA setelah dewasa jadi berhasil dan family man" Bukan itu... hahahahaaa... tetap saja itu tergantung anak-anak itu sendiri. Mereka yang berhasil adalah mereka yang bisa menjadikan masa-masa gelap yang mereka alami sebagai bagian dan bekal pelajaran hidup ke arah yang lebih baik. Kalau yang tidak bisa belajar dari situ mah tetep aja di situ-situ aja..

Posisi seseorang jika ada di lingkungan seperti itu biasanya hanya ada 2: Yang pertama dia ikut melakukan hal-hal yang dilakukan teman-temannya.. dalam arti ikut terpapar hal negatif... atau sebaliknya.. memberikan pengaruh positif bagi teman-temannya. (Tidak usah berpikir memberi pengaruh positif ini berarti menceramahi.. berdakwah etc.. Mendengarkan jadi tempat bercerita dan memahami anak-anak itu pun sudah bisa dikategorikan memberikan pengaruh positif). Saya sendiri yakin Si Sulung pasti akan lebih merasa berharga, lebih merasa berarti jika dia bisa memberikan sesuatu yang positif buat teman-temannya. Itu saja yang saya tekankan bagi Si Sulung.

Nah... dari sini saya melihat bahwa kebanyakan dari orang tua lebih senang anaknya mendapatkan hal-hal yang positif dari lingkungan pergaulan anak-anaknya. Jadi mereka akan membatasi pergaulan dan pertemanan anak-anaknya. Seperti banyak yang tersebar di sosmed "Waspada virus Dilan" Hahahhahahaaa... Ya wajar sih .. kan...
Tapi kalau saya pribadi lebih senang kalau Si Sulung yang memberikan dampak positif kepada teman-temannya... siapa pun teman-temannya. Jika itu terjadi, nanti otomatis Si Sulung juga akan mendapatkan berbagai hal positif dari situ. Percayalah... 😊 Memberi itu lebih membahagiakan dari hanya menerima..

Maka tidak ada alasan bagi saya untuk khawatir dengan pertemanan Si Sulung.

Anak genk model Dilan itu langka.. sisi positifnya kereeeen sekalii... hahahhaa...
Jadi... kalau berteman dengan anak genk model teman-temannya Si Sulung saja saya tidak perlu merasa khawatir.. konon lagi berteman dengan anak genk model Dilan... Bersyukur malah kalau ada. Si Sulung pasti banyak belajar darinya.. hahahhaaa... 😊



Senin, 01 Mei 2017

Umat Di Persimpangan

Dulu saya pernah ngefans berat dengan Harun Yahya.. saya pikir Beliau adalah ilmuwan Muslim... sampai kemudian saya menyadari arti kata ilmuwan.. πŸ˜ŠπŸ™ˆπŸ™ˆ Baru saya memahami kalau Harun Yahya tidak pernah melahirkan sebuah teori baru di bidang ilmu pengetahuan. Yang Beliau lakukan adalah mengumpulkan berbagai teori2 yang pernah ada di dunia ini dan mengaitkannya dengan Al Quran lalu mempublikasikannya. Maka tidak heran ketika saya membaca buku-buku Harun Yahya soal evolusi ~misalnya~ isi buku itu hampir sama dengan isi buku Biologi SMA saya. Meski begitu, tetap saja upaya Harun Yahya mengumpulkan dan menyalin semua teori-teori itu dalam buku-bukunya harus kita apresiasi :)

Lalu saya pernah juga membaca seseorang yang mengemukakan kritik terhadap Harun Yahya (kita singkat HY).. bahwa HY terlalu terburu2 mengaitkan ilmu pengetahuan dengan Al Quran. Dia menilai langkah Harun Yahya dalam menyimpulkan bahwa teori evolusi itu tidak sesuai dengan Al Quran sebagai sesuatu yang berbahaya.
Saya berkerut membacanya. Di mana bahayanya? Bukankah Al Quran itu isinya penuh dengan ilmu pengetahuan..? Katanya org2 Barat malah "mencuri" isi Al Quran untuk menggali ilmu pengetahuan dan memanfaatkannya untuk kemajuan teknologi mereka. Lalu mengapa kita jangan mengaitkan ilmu pengetahuan dengan Al Quran?

Ya.. memang Al Quran adalah sumber ilmu pengetahuan. Sebagai wahyu dari Allah.. ada banyak sekali ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Tetapi kita tidak boleh lupa.. ketika kita menafsirkan ayat Al Quran, itu adalah penafsiran kita sebagai manusia.. sebagai makhluk.. yang ilmunya hanya setitik debu dari ilmu Allah. Dan kita tidak pernah bisa menjangkau seluruh ilmuNya. Artinya, tafsiran science kita terhadap Al Quran sangat mempunyai kemungkinan besar untuk salah. Kita hanya manusia biasa yang hanya mencoba untuk memahami setitik ilmuNya. Ya oke.. kalau ternyata penafsiran kita benar.. alhamdulillah.. tentunya bermanfaat bagi umat dan masyarakat pada umumnya. Tapi apa yg terjadi ketika penafsiran kita salah?? 

Misalnya... misalnya loh ini.. ketika kita mempercayai bahwa bumi itu datar dengan mengemukakan penafsiran2 kita terhadap beberapa ayat Al Quran. Dan itu digemakan serta dijadikan pegangan agama kita: Bahwa Al Quran mengatakan bumi itu datar.. bahwa karena Al Quran adalah wahyu Allah, maka yang disebutkan oleh Al Quran itu mutlak benar. 
Lalu apa yang terjadi ketika ada kosmonot2 terbang ke luar angkasa dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa bumi itu bulat? Atau apa yang terjadi ketika kita yang terbang dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa bumi itu bulat? Tentu bisa jadi orang akan menyimpulkan bahwa Al Quran itu salah. Padahal yang terjadi adalah manusianya, umatnya yang salah membaca, salah dalam menyimpulkan dan salah dalam menafsirkan ayat Al Quran. Tetapi ketika kita mengklaim bahwa kesimpulan kita, hipotesa kita adalah sama dengan yang ada di dalam Al Quran, maka otomatis Al Quran akan terkait dengan benar salahnya hipotesa kita.

Bukan berarti bahwa kita tidak boleh menggali ilmu pengetahuan dari Al Quran... bukan. Ini adalah 2 hal yang berbeda. Kita sangat boleh menggali ilmu pengetahuan dari Al Quran karena Al Quran memang sumber ilmu pengetahuan. Yang berbahaya adalah ketika kita selalu mengaitkan dan mengklaim bahwa hipotesa kita adalah sama dengan Al Quran. Semua yang terkait dengan sebuah fenomena selalu kita kaitkan dengan Al Quran. Jika ada ilmuwan yang menemukan sebuah teori, langsung kita klaim: "Itu sudah ada di dalam Al Quran!". Bahkan ada yang mengatakan bahwa , "Umat Islam mengalami kemunduran karena mereka semakin meninggalkan agamanya, sedangkan orang2 Barat maju karena mereka mempelajari Islam"
Sebenarnya apa yang kita ingin dapatkan dari klaim-klaim seperti itu? Kepuasankah? Pride? Harga diri?

Persoalan umat kita sekarang ini adalah kita sangat tergila-gila pada kulit, bukan inti dari agama dan Al Quran itu sendiri. Kita berpikir bahwa kemajuan umat Islam berawal dari nama yang besar,.. berawal dari harga diri umat kita yang besar. Kita tergila-gila pada klaim. Kita haus oleh berita-berita bahwa tokoh A, tokoh B, tokoh C menjadi mualaf. Kita haus mengklaim bahwa ilmuwan A dan ilmuwan B sesungguhnya muslim, sambil meninggalkan tradisi ilmu pengetahuan itu sendiri. Atau sambil terus bergelut dan memusuhi mazhab Islam sang Ilmuwan itu sendiri. Bahkan seringkali kita membuat dan mengarang sendiri klaim-klaim itu dengan fake news... berita palsu. Menyedihkan.

Padahal, klaim-klaim itu sama sekali tidak akan mempengaruhi kemajuan umat muslim. Rasa haus terhadap klaim seperti itulah yang hanya akan membuat umat Islam seperti buih di lautan. Banyak.. tapi tak memiliki kekuatan.
Kemajuan umat itu berasal dari budaya ilmu pengetahuannya, budaya membaca, budaya merenung dan berpikir, budaya menganalisa, budaya mengkritisi dan budaya mencari solusi. Dsn kita lihat bahwa budaya seperti ini bisa dikatakan sudah hampir punah dari umat kita. 
Budaya membaca, merenung, berpikir dan menganalisa kita telah berganti dengan budaya menerima secara bulat-bulat dan mengikuti apa yang dikatakan oleh ustadz atau tokoh lain. Budaya mengkritisi dan budaya mencari solusi telah berganti menjadi budaya bergunjing, mencela dan ghibah. Kita selalu merasa insecure terhadap minoritas, tanpa membangun kualitas diri.

Rasa haus terhadap klaim-klaim seperti di atas, dan rasa haus terhadap kebesaran dan harga diri semu itulah yang membuat kita terpuruk lebih jauh. Membuat kita berimajinasi tinggi dengan mengaitkan klaim sebuah teori ilmu pengetahuan dengan Al Quran. Dan ketika klaim itu ternyata salah, kita semakin terpuruk.

Lebih buruk lagi, klaim-klaim ini bukan hanya di tataran ilmu pengetahuan saja, tapi juga di tataran politik dan kekuasaan. Ini yang tengah menjadi fenomena sekarang ini. 
Kita mengaitkan Al Quran dengan politik dan kekuasaan hanya sebatas kulitnya saja. Sedangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam itu sendiri kita tinggalkan. Prosesnya ini saja sudah menempatkan umat kita di titik yang rendah. Hoax dan fitnah pada akhirnya dijadikan senjata dan mudah dipercaya oleh umat kita. Terutama setelah kita meninggalkan budaya ilmu pengetahuan di atas: membaca, menganalisa, mengkritisi. Ini baru di tahap prosesnya.

Di tahapan outputnya, sama seperti yang terjadi terhadap klaim ilmu pengetahuan di atas, klaim terhadap politik dan kekuasaan yang mengaitkannya dengan agama juga akan sangat berbahaya. 
Sebagai contoh... Banyak yang merasa apa yang terjadi di DKI kemarin adalah kemenangan Islam. Padahal, Belum... Sekarang karena klaim itu, mau tidak mau semua orang menantikan hasil dari kepemimpinannya. Jangan salahkan orang yang mengaitkan hasil kepemimpinannya dengan agama, karena dari awal-awal kampanyenya, kita sendiri yang mengaitkannya dengan agama kita.

Pernah terjadi di pemilihan Walikota Medan. Ketika seorang Rahudman yang muslim memperebutkan posisi Walikota dengan seorang keturunan Tionghoa non muslim, Sofyan Tan. Tentunya isu pemimpin muslim dipergunakan sebagai komoditi dalam kampanye-kampanyenya. Rahudman menang. Apakah ini kemenangan Islam? Terlalu picik jika berpikir itu kemenangan Islam. Mengaitkan soal politik kekuasaan dengan agama saja sudah salah. 
Dan itu terbukti kemudian. Sang Walikota terkait berbagai kasus. Di antaranya kasus dugaan penganiayaan seorang pns (kasus lebih detailnya silakan digoogling sendiri), dan pada akhirnya Beliau harus melepaskan jabatannya karena terkait kasus korupsi. Apakah yang harus kita katakan jika di awal-awal kita mengklaim bahwa kemenangan Rahudman sebagai walikota adalah kemenangan Islam, sedangkan di akhirnya Beliau melakukan perbuatan yang jauh dari nilai-nilai Islam? Lalu pride apa yang kita dapatkan dengan semua ini?

Tidak.. Islam tidak pernah bisa maju dengan kebanggaan-kebanggaan semu seperti itu.
Islam akan maju jika kita mau kembali belajar membaca, menganalisa, merenung dan mengkritik sebuah pemikiran dan persoalan. Baik itu Al Quran maupun fenomena-fenomena di sekitar kita. Bukan hanya menghapalkan ayat-ayatnya ya.. Berpikirlah... berpikir.. berpikir.. berpikir... Itu yang disebutkan berkali-kali dalam Al Quran

Senin, 05 Desember 2016

Adli Yang Berguru Ke Negeri Cina

Satu kali saya telat menjemput si Bungsu pulang sekolah. Ketika Si Bungsu masuk ke mobil sambil merasa khawatir saya langsung berkata: "Maaf ya Dek telat jemputnya. Udah tinggal sendirian ya tadi di sekolah?" Si Bungsu mejawab: "Nggak apa-apa... masih ada (sebut saja namanya) Adli kok". Saya manggut-manggut lega. Sementara si Bungsu meneruskan ceritanya tentang Adli:

"Adli mah pulangnya jam 5... jam 6.."
Saya hanya menanggapi selintas: "Ah.. mosok??"
"Iyaaa.. dia dijemputnya jam segitu. Rumahnya di Bogor"
Saya masih menanggapi sekenanya, "Ih.. jauh banget.."
"Iyaaa... perginya jam 4 subuh naik kereta"

Ah.. Tentu saja saya hanya menganggap cerita si Bungsu itu khayalannya saja... namanya juga anak-anak.. banyak sekali fantasinya.

Lalu pada satu waktu saya mendapat tugas untuk memotret anak-anak kelas 3, termasuk kelasnya si Bungsu. Itu adalah pemotretan kedua kalinya.. setelah pemotretan pertama harus diulang karena ketika sesi foto bersama ada 2 anak yang tidak ikut berfoto. Anak-anak itu ternyata kelaparan dan malah makan di kantin... hadeuuuuuuuhhhh... Maka Korlas pun meminta saya untuk bersedia memotret ulang minggu depannya... hahahahaa... dasar anak-anak :D :D

Kali kedua pemotretan ulang itu saya terlebih dahulu mengatur posisi kursi-kursi dan tripod di halaman, sebelum anak-anak dipanggil. Melihat saya mengatur posisi kamera, Ibu Wali Kelas menghampiri dan menyalami saya. Berbincang sebentar, lalu Ibu Wali Kelas berkata: "Ibu... satu orang nggak masuk gimana ya...?"
"Siapa Bu?"
"Adli Bu.."
Saya sedikit merasa lega karena pada pemotretan pertama Adli ikut sesi foto bersama. Jadi saya tidak perlu mengulang lagi minggu depannya.. hahaha..
 "Oh... Adli kan kemarin sudah ikut pemotretan pertama Bu, jadi nanti saya atur aja biar bisa diedit posisinya Adli." ucap saya.
"Iya.. ya... bisa ya diedit.." Ibu Walas pun merasa lega
Saya mengangguk.

Beberapa saat kemudian Korlas datang dan menghampiri kami. Saya kembali mengatur kamera DSLR. Korlas dan Ibu Walas berbincang di samping saya.
"Hadir semua kan ya Bu?" Tanya Korlas
"Adli nggak masuk Bu... kemarin dia pulang jam berapa tuuh.. jam 6" Ibu Walas menjawab dengan mimik wajah merasa gemas.
"Haddduuuuh... saya sudah capek nasihati Ibunya.." Korlas menggeleng-gelengkan kepala, merasa prihatin.

Saya kaget,
"Jadi benar cerita anak saya kalau Adli suka pulang jam 5 atau jam 6?"
Ibu Walas menjawab: "Iyaa.. beneran. Rumahnya kan di Cilebut. Jadi pulang dan pergi sekolah pake kereta. Perginya subuh. Pulangnya jam 6" 
Ternyata cerita si Bungsu itu benar. Adduh.. saya kok underestimate banget sih sama cerita si Bungsu itu.. Saya pikir cerita itu tidak mungkinlah.. ternyata benar ya..
"Ya Allah... kasihan sekali. Terus kenapa harus sekolah di sini? (Daerah Kebayoran)"
"Nah... itu yang sudah berkali-kali saya tanyakan ke ibunya: Apa sih yang kamu cari di sekolah ini?" Jawab Korlas
Ibu Walas menambahi: "Iya... saya juga gimana yaa... kan saya ada kuliah juga di Rawamangun. Jadi kadang-kadang saya tidak bisa nemani Adli. Jadi harus atur-atur dengan guru yang lain"

Anak-anak sudah berdatangan untuk pemotretan. Tapi pikiran saya terus ke Adli. Kasihan sekali.. pergi jam 4 ke sekolah naik kereta, pulang jam 6 sore. Sampai rumahnya mungkin jam 7-8 malam. Pasti sudah capek, besoknya harus bangun lagi jam 3.30. Kapan Adli belajar? Kapan Adli bermain? Duh..

Ketika saya jemput si Bungsu sepulang sekolah, saya minta dia untuk bercerita tentang Adli.
"Dek.. Adli gimana anaknya?" Tanya saya.
"Yaaa.. gitu aja.. kenapa memangnya, Bunda?"
"Nggak.. Bunda pingin tau aja. Baik anaknya?"
Si Bungsu menjawab sambil mulutnya sedikit nyinyir, "Nyebelin... suka marah, suka ngejek... blablablabla..."
Dalam hati saya membenarkan.. dengan ritme hidup seperti itu, anak sekecil itu, wajar kalau dia merasa tertekan dan jadi sering marah-marah.

Malamnya saya menceritakan soal Adli ke suami. Tentu saja Si Abang kaget bukan main . Seperti sudah saya duga.. Si Abang aduh-aduhan mendengar cerita saya dan terus bertanya tentang Adli sambil memegang kepalanya.. langsung pening rupanya kepalanya.
"Addduuuh... memangnya tidak ada sekolah di dekat rumahnya?"
"Pasti adalah... tapi mungkin kalau negeri nggak sebagus sekolah Adek kali yaa.." jawabku
"Bapak Ibunya kerja apa? Masalah biaya mungkin?"
Saya tidak dapat menjawab dengan pasti karena memang belum sempat mendapatkan info lebih detail lagi. 
"Ya sepertinya sih begitu. Nggak sanggup sekolah di swasta di sana jadi ambil yang negeri di Jakarta, mungkin."
Mata Abang menerawang, mencoba membayangkan dan menempatkan diri pada posisi orang tua Adli, 
"Berarti memang Ibu Bapaknya ingin sekolah yang bagus buat anaknya."
"Ini mah dugaanku aja ya.. mungkin.. mungkin ini mah.. Ibunya kerja di Jakarta, nggak ada yang ngurusin Adli kalau di rumah sendiri. Jadi pergi sekolah sekalian sama Adli, terus pulangnya juga barengan sama Ibunya." Saya mencoba sedikit menduga-duga.
"Yaaa... yaaa.. yaaa... mungkin begitu. Tapi addduuuuh... (aduh lagi)... kasian kan anak itu... addddduuuh..." Si Abang kembali mengaduh

Dia diam sebentar. Akhirnya kami berkesimpulan untuk mengajukan ke orang tua Adli.. (seandainya ceritanya benar begitu) agar Adli tinggal di rumah kami dulu, bersama2 si Bungsu selama hari-hari sekolah. Pergi dan pulang sekolah dengan si Bungsu. Nanti hari Jumat baru bersama orang tuanya. Rasanya itu yang terbaik, karena dengan begitu Adli tidak kelelahan sekolah, sementara si Bungsu juga jadi punya teman main dan belajar. 

Tapiiiiii.... Si Abang minta saya untuk mendapatkan informasi yang benar dulu tentang masalah ini. Khawatir kalau menyinggung atau jadi mencampuri urusan rumah tangga orang tuanya.. Dan berkali-kali pula Si Abang menanyakan kesanggupanku untuk mengurus Adli. Saya menyanggupi. Saya katakan juga padanya kalau saya akan minta informasi mengenai Adli terlebih dulu ke Korlas, sebelum bicara dengan Orang tua Adli. 

Si Abang terus menerus menekankan agar jangan sampai urusan rumah tangga keluarganya Adli dicampuri. Pokoknya posisi kami hanya menyampaikan usulan tentang Adli thok, bukan mencampuri urusan keluarganya. Si Abang memang sangat tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga dan keluarga orang lain, karena yang mengetahui kondisi sebenarnya ya mereka sendiri.
"Pintar-pintar ya Bunda bicaranya" Sekali lagi Abang menekankan.

Maka saya pun menghubungi Korlas, dan bertanya-tanya tentang Adli.
Korlas bercerita panjang lebar 
"Duh... Mbak.. persoalan Adli itu sebenarnya sudah lama (walaaaah... saya merasa kecolongan). Adli itu sebenarnya korban Mbak. Orang tuanya sudah berpisah. Adli tinggal sama Ibu dan kakaknya di Cilebut. Saya juga sudah berkali-kali mempertanyakan ke Ibunya.. apa sih yang dia cari sampai harus menyekolahkan anaknya di Jakarta. Kan kasian Adli."
Maka saya pun menjelaskan maksud saya dan suami, "Oh.. begitu.. Apa mungkin karena Ibunya bekerja di Jakarta dan tidak ada lagi yang menjaga Adli di rumah, jadi pergi dan pulang sekolah Adli sekalian sama Ibunya? Kalau begitu, kemarin ayahnya Maula mengusulkan agar Adli tinggal dengan kami saja di hari-hari sekolah, Mbak. Nanti hari Jumat dia pulang sama Ibunya. Jadi Adli tidak terlalu kelelahan."
"Ibunya Adli kerjanya jualan di Stasiun Cilebut, Mbak.." Jawab Korlas.
Nahloh... Saya kaget... sangaattt... sangaaat kaget... luar biasa kagetnya. Gantian jadi saya yang pening... Whaaattt????
"Lho... dagangnya di Stasiun Cilebut? Rumahnya di Cilebut? Trus kenapa sekolahin anaknya di Jakarta?"
"Iya itu yang saya tanyakan berkali-kali ke Ibunya. Dulu juga waktu kelas 1 Bu Leny sudah menawarkan Adli untuk ikut dia dulu. Tapi ibunya nggak mau." Terdengar nada prihatin dalam jawaban yang dikemukakan Korlas.
 "Trus ditanya kenapa sekolahin anaknya di Jakarta, Ibunya menjawab apa?" Saya penasaran
"Ibunya diam saja. Tidak menjawab. Dia tertutup sekali. Ibunya juga ada sakit jantung kalau nggak salah."
Saya tambah nelangsa, "Apalagi kalau Ibunya sakit begitu. Kan Ibunya juga capek harus antar jemput anaknya naik kereta sejauh itu." 
Dan saya pun tiba-tiba merasa gelap untuk masalah ini... Tak punya solusi. Bagaimana mau mengusulkan sebuah solusi kalau apa masalahnya pun tidak bisa kami rumuskan. Usul yang akan kami ajukan sepertinya belum tepat dengan kondisi seperti itu. Maksud Sang Ibu untuk menyekolahkan anaknya di Jakarta disimpannya rapat-rapat. Dan kami tidak bisa membacanya. No clues.

"Kalau seandainya Mbak mau berbicara sama Ibunya Adli, nanti kita coba atur waktunya deh. Tapi tolong jangan katakan informasinya dari saya." Saran Korlas.
 "Ok Mbak.. nanti saya coba bicarakan dulu dengan suami saya."
Tiba-tiba Korlas menambahi, "Alhamdulillah sih Mbak... KJP-nya Adli kemarin sudah disetujui"

Di situ saya merasa mendapatkan sedikit titik terang. Tapi yah.. masih spekulasi... 

Dan sudah bisa ditebak dong, ketika saya ceritakan semua ini ke si Abang, dia kembali aduh-aduhan... merasa pening sambil terus memegang keningnya. Pikiran kami tidak bisa menjangkau, kenapa harus sekolah sejauh itu di Jakarta kalau seandainya Ibunya berdagang di Stasiun Cilebut? Apa mungkin agar anaknya dapat memperoleh KJP di Jakarta? Sebegitunyakah pengorbanan yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan KJP? Tapi ya mungkin bagi keluarga seperti Keluarga Adli, KJP itu sangat besar artinya. 


Entahlah..  Rasanya gelap sekali untuk persoalan ini. Yang jelas pada akhirnya kesimpulan kami: Ibunya sangat ingin Adli maju dan berhasil.

Rabu, 17 Juni 2015

Maudy Kusnaedi dan Kebaya Annie Avantie

Siapa yang tidak kenal Maudy Kusnaedi? Mantan None Jakarta yang melejit lewat peran Zaenab di serial Si Doel. Cantik... pintar (UI booo') dan baik... (hasil investigasi dari adik kelasnya :D ) Ehm... apakah Anda termasuk yang patah hati ketika Maudy menikah dengan Erick Meijer? ahahaha... *pukpukpuk

Coba kita kilas balik kembali bagaimana cantiknya Maudy ;)




Ini waktu Maudy masih muda... lucuuu yaaa.... :O




Dan ini anggunnya Maudy ketika memakai kebaya merah karya Annie Avantie




Mengenakan dress karya Sebastian Gunawan Maudy tetap cantik... berkilau di Red Carpet Cannes




Bahkan ketika Maudy tidak bermake-up pun wajahnya masih menampakkan kecantikannya..

Apakah mengenakan busana casual, kebaya merah, atau dress, bermake up ataupun tidak, Maudy tetap selalu terlihat cantik.

Adalah Allah yang Maha Indah yang menganugerahkan kecantikan pada Maudy. Cantiknya Maudy berasal dari Allah SWT. Sedangkan pakaian yang dikenakan oleh Maudy adalah hasil karya manusia. Allah memberikan akal dan pikiran pada manusia untuk berkarya. Salah satunya adalah berkarya dalam bidang fashion.


Adalah Anne Avantie yang mengerahkan daya pikir, kreativitas dan usaha kerasnya untuk melahirkan sebuah karya kebaya merah.. indah nan anggun yang dikenakan oleh Maudy. Mengenakan kebaya tersebut Maudy terlihat... ah... komen sendiri deh :D


Adalah Sebastian Gunawan, yang merancang gaun elegan Maudy di red carpet Cannes. Gaun rancangan Sebastian Gunawan tersebut menggunakan bahan tenunan asli Indonesia. Cantik sekali.


Demikianlah... karya Allah SWT di wajah cantik Maudy berbalut dengan hasil karya manusia, Sebuah perpaduan yang serasi, melahirkan keindahan yang luar biasa.

Ketika Maudy dan manusia-manusia lainnya berdiri, berjalan dan menjalani hidup di muka bumi ini, 2 tangan berperan dalam kehidupannya. Yang pertama adalah "tangan" Tuhan, tangan Allah SWT. Dengan 'tangan'Nya manusia dan seisi alam semesta ini diciptakan dan diwahyukan. Manusia sebagai makhluk yang sempurna dianugerahi akal dan pikiran oleh Allah. Mengapa Allah menganugerahi akal dan pikiran? mengapa Allah memerintahkan manusia untuk menggunakan akal dan pikirannya dalam menjalani kehidupan di dunia ini? Berapa banyak ayat dalam Al Quran yang memerintahkan manusia untuk berpikir... berpikir... berpikir dan berpikir?  Padahal Allah sudah menciptakan bumi dan seisinya untuk manusia?Bukankah Allah sudah menurunkan Al Quran sebagai pegangan hidup manusia, yang dilengkapi dengan hadist? Untuk apa lagi manusia membutuhkan akal dan pikiran? Mengapa?

Karena kita ini manusia. Karena kita bukan robot yang selalu bergerak ketika diperintah. Karena kita bukan burung-burung yang bergerak hanya karena naluri. Karena Allah tidak menghendaki menjadi dalang yang selalu menggerakkan manusia sesuai dengan keinginannya. Karena manusia adalah makhluk yang sempurna, yang memiliki kebebasan sendiri untuk memilih, untuk bergerak, untuk memutuskan, untuk menjalani hidup. Maka tidak semua kehidupan manusia dikendalikan sepenuhnya oleh Allah SWT.

Tentunya masih ingat ayat di bawah ini:

"Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan seluruh manusia menjadi satu umat saja" (QS An Nahl: 93)


“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman semuanya” (QS Yunus: 99)


Digarisbawahi: JIKA ALLAH MENGHENDAKI. Jika Allah menghendaki, tentu mudah sekali membuat semua umat manusia memiliki satu pandangan terhadap Al Quran, terhadap pandangan siapa Tuhannya. Tetapi Allah tidak menghendaki 'dirinya' menjadi seorang dalang. Allah tidak menghendaki semua manusia menjadi wayang.. yang bergerak hanya jika digerakkan, yang memilih hanya sesuai dengan keinginan Allah, Justru Allah menghendaki manusia untuk memiliki pilihan, Maka diberikanNya akal dan pikiran bagi manusia untuk menentukan hidupnya sendiri.

Kira-kira Allah berkata seperti ini:
"Ini aku berikan modal untuk kalian: Akal dan Pikiran, Bumi dan seisinya, serta Al Quran dan Hadist. Silakan pergunakan ketiga modal ini oleh kalian untuk hidup di dunia ini. Jika ketiganya kalian gunakan sebaik-baiknya, maka hidup kalian di muka bumi ini akan berjalan dengan mulus.. untuk bertemu dengan Aku di ujung kehidupanmu"

Tetapi bagaimana dengan takdir? Bukankah Allah sudah menggariskan takdir kita? Bukankah berarti kita bergerak sesuai dengan keinginan Allah? Tidak...

Quraish Shihab pernah mengatakan bahwa Taqdir berasal dari kata qaddara yang artinya kadar/ukuran/ batas. Secara analogi (agar mudah dipahami) Allah menentukan sebuah wilayah dengan batas-batasnya. Batas itulah Taqdir. Dan manusia bergerak di dalam batas-batas itu... tidak keluar batas. Manusia bergerak di dalam batas wilayah itu dengan menggunakan 3 modal yang diberikan oleh Allah SWT: Akal & Pikiran, Bumi & seisinya serta Al Quran & Hadist.

Demikianlah... maka Allah tidak pernah mengikat dan mengekang manusia dengan ciptaannya. Seorang Maudy Koesnaedi yang diciptakan Allah dengan anugerah kecantikan dengan kesempurnaan wujud, tetap harus menggunakan akal dan pikirannya untuk bergerak hidup. Seorang Maudy dengan kelebihan yang diberikan Allah itu juga tetap membutuhkan akal dan pikiran orang lain untuk tampil sempurna. Maudy membutuhkan olah pikir dan rasa dari seorang Anne Avantie, dari kreativitas seorang Sebastian Gunawan.


Demikianlah... maka Allah tidak pernah mengikat dan mengekang manusia dengan ciptaannya.

Seorang Hee Ah Lee yang dilahirkan dengan keterbatasannya sebagai anugerah Allah, mampu menjalani hidup hingga menjadi seorang gadis remaja dengan bermodalkan akal pikiran dan lingkungan sosialnya (bumi beserta isinya). Dibantu oleh daya dan usaha seorang Ibu, Hee Ah Lee menjadi seorang pianis ternama. Ia melakukan konser di berbagai belahan dunia.
~Pernah mendengar tentang Hee Ah Lee? Seorang gadis kecil Korea yang terlahir berbeda 180 derajat dari Maudy Koesnaedi. Gadis itu lahir dengan tubuh yang cacat, dan menderita Down Syndrome. Kedua telapak tangan Hee Ah Lee membentuk seperti capit kepiting, masing-masing tangan hanya seperti memiliki 2 buah jari~

Tidak... Allah tidak mengikat seorang Hee Ah Lee hanya dengan wujud ciptaanNya semata. Jika Allah tidak memberikan modal akal & pikiran serta Bumi & isinya pada Hee Ah Lee dan Ibunya.... tentu seorang Hee Ah Lee tidak mampu menjalani hidup di dunia ini. (Hee Ah Lee bukan seorang muslim sehingga mungkin tidak mengenal Al Quran & Hadist).


Dari sini kita dapat pahami bahwa Allah tidak menciptakan manusia untuk 100% di bawah kendaliNya. Ada bagian dari hidup manusia yang diserahkan kepada manusia itu sendiri, diperintahkanNya manusia untuk bergerak serta memutuskan sendiri dan Allah hanya memberikan bekal Akal & Pikiran, Bumi & isinya, serta Al Quran & Al Hadist untuk itu. Manusia serta masyarakat yang berhasil memadukan keduanya... antara ciptaan Allah dan karya manusia, insha Allah... selamat dunia akhirat.


Maudy Koesnaedi adalah karya cipta Allah, tetapi kebaya yang dikenakan oleh Maudy adalah karya cipta manusia. Dan Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengenakan pakaian... untuk menutup aurat. Maka Allah memerintahkan manusia menggunakan akal, pikiran, rasa agar bisa membuat pakaian.



"Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang menggunakan akal." (QS Ar Ra'du: 4)



"Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) supaya kamu mau menggunakan akal." (QS Al Baqarah: 242)

Pakaian yang digunakan oleh manusia berkembang seiring waktu dari sejak Nabi Adam sampai saat ini. Perkembangan itu juga dimotori oleh akal dan pikiran manusia. Allah tidak mencampuri proses perkembangan itu. Allah hanya memberikan akal dan pikiran saja.. lalu menyerahkannya kepada manusia untuk melakoninya.

Hee Ah Lee adalah karya cipta Allah, tetapi denting piano yang dimainkannya adalah hasil upaya dan daya pikirnya, juga dorongan dari Sang Ibu.


Al Quran adalah wahyu Allah, tetapi lembar demi lembar kertas dan tinta yang digunakan untuk menulisnya, lukisan indah yang tertuang di covernya adalah hasil olah pikir dan rasa manusia. Kaligrafi yang tergantung di dinding rumah, isinya adalah wahyu Allah, tetapi perpaduan warna bentuk yang membuatnya terlihat indah adalah hasil olah pikir dan rasa manusia.


Sampai di sini tentu kita semua sangat paham tentang uraian di atas. Bahwa ada yang karya cipta Allah, ada yang karya cipta manusia. Dan bahwa Allah sendiri memerintahkan manusia untuk berpikir dan berkarya. Hasil olah pikir dan rasa yang kemudian menjadi kebiasaan dalam satu masyarakat inilah yang disebut oleh budaya. Kebaya yang digunakan oleh Maudy adalah hasil budaya. Denting piano yang dimainkan oleh Hee Ah Lee adalah budaya.


Tetapi ada satu fenomena yang muncul dalam pemikiran masyarakat saat ini, yaitu ketika masyarakat tidak mampu membedakan mana yang ciptaan Allah, mana yang ciptaan manusia. Kesulitan masyarakat ~terutama umat muslim~ untuk membedakan keduanya biasa terjadi ketika menyangkut kebudayaan Arab. Masyarakat kita yang berlokasi nun jauh dari tanah Arab, yang tidak mengenal budaya Arab sebagian besar mengalami kesulitan untuk membedakan antara budaya Arab dan Islam. 


Satu gambaran yang gamblang pernah dijelaskan oleh  KH Mustafa Bisri agar kita mudah membedakan mana yang budaya Arab, mana yang Islam: 


"Rasulallah SAW memakai jubah, sorban dan berjenggot ya karena tradisi orang Arab seperti itu. Abu Jahal juga berpakaian yang sama, berjenggot pula. Bedanya kalau Rasul wajahnya mesem (sarat senyum) karena menghargai tradisi setempat. Nah, kalau Abu Jahal wajahnya kereng (pemarah). Silahkan mau pilih yang mana?”


Ibaratnya, jika Rasulullah lahir di tanah Jawa dan menggunakan blankon, mungkin masyarakat muslim di Arab akan ikut menggunakan blankon juga. Maka sesungguhnya kita telah gagal menerjemahkan Islam sebagai agama yang menghargai budaya. Padahal Allah SWT telah jelas-jelas memerintahkan manusia untuk berpikir dan berkarya. Ketika Rasulullah menggunakan jubah dan sorban, kita seharusnya memahami bahwa jubah dan sorban itu adalah budaya. Lalu nilai Islamnya dalam konteks tersebut apa? Nilai Islamnya adalah ketika Rasulullah menghargai dan mencintai budaya tanah airnya dengan cara mengenakan jubah dan sorban. Maka nilai Islamnya itulah yang seharusnya kita ikuti: menghargai dan mencintai budaya tanah air kita. 


Al Quran adalah wahyu Allah, Al Quran adalah pegangan bagi umat muslim. Yang di maksud Al Quran di sini adalah wahyu-nya.. bukan lembar demi lembar kertas yang dibungkus dengan cover yang dihiasi kaligrafi indah. Kertas, tulisan dan keindahannya itu adalah produk budaya. Pertama kali Al Quran dituliskan, media yang digunakan adalah pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu. Seiring dengan perkembangan teknologi dan budaya maka Al Quran terwujud seperti sekarang ini.



Jika Allah tidak mendorong umat muslim untuk menghargai budaya masyarakatnya masing-masing maka Islam akan mengalami kejumudan dan sulit berkembang bahkan sulit  diterima oleh masyarakat non Arab. Kita tahu bahwa penyebaran Islam di tanah Jawa dimotori oleh walisongo yang menggunakan budaya Jawa sebagai medianya. Jika masyarakat Jawa dicabut dari akar budayanya dan dipaksakan untuk menerima budaya Arab maka Islam sulit diterima di tanah Jawa, bahkan di belahan bumi yang lain. Kita bisa membayangkan bagaimana kesulitan sebuah masyarakat yang memiliki budayanya sendiri tiba-tiba diharuskan untuk menerima budaya lain. Karena budaya setiap masyarakat selalu disesuaikan terhadap kondisi alam dan masyarakatnya. Dan kondisi alam di belahan bumi ini diciptakan Allah dengan keunikannya masing-masing. Tidak ada yang sama. 


Jika memang Allah menghendaki seluruh umat Islam di dunia ini menerima budaya Arab, tentu saja Allah akan menciptakan manusia di dunia ini menjadi satu ras, satu suku, satu bangsa, dan alam yang homogen. Namun kita tahu bahwa itu tidak terjadi, sebaliknyalah yang dikehendaki oleh Allah (QS An Nahl: 93)

Maka dari itu, mari kita pelajari lagi apa itu Islam, dan apa itu budaya. Bahwa Islam berasal dari Allah SWT, sedangkan budaya bersumber dari akal, pikiran dan cita rasa manusia yang dianugerahkan Allah. Sehingga ber-Islam dengan budaya masing-masing tidak pernah dilarang dalam Islam. Tentu saja yang dimaksudkan di sini adalah budaya yang tidak bertentangan dengan inti ajaran Islam. Sebaliknya Allah memerintahkan kita untuk menggunakan akal, pikiran, cita rasa untuk mengolah bumi beserta isinya.

Demikianlah.. Allah telah menganugerahkan semua itu untuk manusia sehingga mereka mampu melahirkan budaya... maka... nikmat mana lagikah yang kau dustakan? :)