Rabu, 19 November 2014

Tentang Si Mata Satu... eh... Si Mata Hati

Sering mendengar tentang istilah mata hati. Apaan sii tuuh? Apaaann yaaaa...? Kalau didefinisiin kesannya teoritis banget yak.. :D

Yang jelas, mata hati ini seringkali membantu menjadi bodyguard bagi kita dalam membaca persoalan di sekeliling kita, dalam mengambil langkah dan keputusan.

Bagiku mata hati itu seperti pisau. Bisa tajam, bisa tumpul, bisa membantu kita dalam melangkah, namun bisa juga melukai kita.
Mata hati yang tajam, seringkali membantu dlm mengambil keputusan dan langkah yg tepat meskipun kita tengah berada dalam kebimbangan dan kegalauan. Semakin tajam mata hati, semakin mudah kita merasakan mana pilihan dan langkah yg tepat & baik dalam hidup. Semakin tepat juga analisa2 kita dalam menghadapi satu persoalan. Enaknya org2 yg tajam mata hatinya, mereka lebih tenang, lebih woles.. tidak mudah galau, tidak mudah resah dan gelisah bagai semut merah yang berbaris di dinding mena... (stop!! Kembali ke laptop!!!!)
*lanjut*
Tapi kalau mata hati sudah tumpul, maka dia akan menjerumuskan diri kita dalam kubangan lumpur kesulitan serta kegelisahan.

Maka... mata hati harus selalu diasah. (Eh... ini mah kata lagunya Iwan Fals yak? Hehehee...) Bagaimana cara mengasahnya? Mengasah mata hati bukan hanya dengan rajin beribadah ritual saja (makanya tidak sedikit org2 yg rajin beribadah ritual... tapi kok.... yaaa... gitu deh..).

Rajin berinteraksi dengan masyarakat miskin, melihat sendiri dari dekat penderitaan mereka, bersentuhan kulit dan hati dengan mereka juga sangat membantu mengasah mata hati kita. Ingat yaa kata kuncinya: BERINTERAKSI. Bukan hanya berdiskusi, berteori dan berbicara tentang kemiskinan sambil ngopi2 di cafe atau sambil berapi2 di socmed :D

Selain itu... "iqra" terhadap lingkungan di sekitar kita adalah cara lain yg juga bagus untuk mempertajam mata hati. Termasuk di sini 'iqra' terhadap pendapat dan pengalaman org lain... siapapun itu, meskipun org itu lebih bodoh, lebih minim pengalaman, bahkan lbh bejat dari kita.
Sebaik2nya batu asahan untuk mata hati adalah iqra dr org yg kita benci dan kita pandang sebelah mata.

Ada cara mengasah... ada juga cara menumpulkan mata hati. Bagaimana cara menumpulkannya? Berbuat maksiat adalah salah satu yg membuat mata hati kita mudah tumpul. Menyakiti org2 dekat kita juga membuat mata hati kita menjadi tumpul. Ketika pada awalnya berbuat maksiat atau menyakiti org lain, mata hati kita masih berfungsi sbg bodyguard.. memberikan sinyal agar kita mengambil langkah lain yg lebih tepat. Dan jika kita mengabaikan sinyal itu, kita tak peduli... terus maju jalan bermaksiat.. juga menyakiti org2 di sekitar kita. Walhasil... seringnya mengabaikan sinyal ini membuat si mata hati menjadi tumpul.

Sombong, angkuh, merasa diri lebih hebat, merasa lebih berpengalaman, lebih pintar, lebih benar dr orang lain... inilah yg paling ampuh menumpulkan mata hati seseorg.

Satu lagi yg rawan sekali menumpulkan mata hati... adalah... yg sekarang semua org seperti berlomba2 terjun ke dalamnya: politik dan kekuasaan :D Karena ketika kita terpenjara dalam ikatan politik seringkali kita terpaksa harus mengabaikan "sinyal peringatan mata hati" dlm berpendapat, mengambil keputusan atau bertindak. Yg benar disalahkan dan yg salah dibenarkan karena kita sudah terikat. Sekali lagi... mengabaikan sinyal mata hati inilah yg mudah sekali menumpulkannya.

Jadiiiiii... KALAU berniat terjun dalam politik dan kekuasaan.. tetaplah terus mengasah mata hati kita dengan bersedia bahkan rajin berinteraksi dengan masyarakat yg tidak beruntung, yang dekil dan bau itu. Juga rajin "iqra" persoalan yg ada di sekeliling kita dari org2 yg kita benci/pandang sebelah mata. Perbedaannya sangat nyata loh dalam tindak tanduk serta pendapat org2 yg tajam mata hatinya, dengan yg sudah tumpul.

Jadi... mari kita rajin2 mengasah mata hati.

*Catatanku yg berkaca dari pengalaman tumpulnya mata hatiku sendiri :D

Rabu, 22 Oktober 2014

Pekerjaan Paling Hina Di Dunia

Siang yang panas. Aku dan Maula mengambil tempat duduk plastik di atas trotoar dan mulai memesan makanan. Satu mangkok mie ayam untukku dan satu piring siomay dengan saus kacang di pinggir piring untuk Maula. Tentunya 2 teh botol dingin sebagai penyeimbang udara dan makanan yang panas.

Makanan belum datang, seorang ibu berpakaian lusuh dan menggendong bayi yang ditutupi kain menghampiri kami sambil menengadahkan tangannya. Maula berbisik:
"Bun... kasih Bun, kasian."
"Adek aja yang kasih." jawabku.
Maula mengambil uang 2000 rupiah yang kupegang dan memberikannya pada Ibu itu. Dia lalu mengamati si Ibu sampai menghilang dari pandangan.

Piring siomay Maula datang. Sebelum memasukkan suapan pertama ke mulutnya Maula bertanya:
"Bun, mengemis itu pekerjaan yang hina ya?"
"Maksud Adek mengemis kayak Ibu itu?"
Maula mengangguk.
"Tergantung, Dek. Kalau dia sebenarnya mampu bekerja tapi lebih senang  mengemis karena malas ya itu tidak baik."
"Kalau dia tidak mampu bekerja tidak apa-apa mengemis?"
"Ya kalau dia tidak punya pilihan lain selain mengemis ya nggak apa-apa. Asal jangan berbohong dan menipu."
Maula manggut-manggut. sementara aku bergulat pada pikiranku. Aku ingin bercerita pada Maula tentang pekerjaan paling hina. Tapi aku tidak mau memberikan input negatif padanya. Maka pikiranku pun bergulat sendiri.

Pekerjaan paling hina di jaman teknologi. Orang yang melakukan pekerjaan ini tidak berpakaian lusuh seperti pengemis, tidak berwajah kusut. Bahkan mungkin dia berpakaian rapi dan memakai parfum mahal. Mungkin dia ke mana-mana membawa gadget yang canggih dan handphone yang terbaru. Mereka bukan orang-orang yang bodoh. Bahkan mungkin lulusan pendidikan tinggi. Namun pekerjaan yang dilakukannya jauh lebih hina daripada mengemis dengan cara berbohong. Jauh lebih hina daripada para wanita panggilan yang menjajakan tubuhnya. Mereka yang melakukan pekerjaan hina itu adalah mereka yang mendapatkan uang dari menjual dan menyebarkan fitnah.

Fitnah itu sendiri sangat keji. Bahkan konon lebih keji daripada pembunuhan. Fitnah bukan hanya berdampak pada korban yang difitnah. Tapi juga orang-orang dekat korban. Mereka yang melakukan pekerjaan ini  menjual diri, intelektual dan kemanusiaannya. Maka pekerjaan yang menghasilkan uang dari menjual fitnah adalah pekerjaan yang paling hina. Sebagaimana Rasulullah mengibaratkan bergunjing dengan memakan bangkai saudara sendiri, lalu bagaimanakah mengibaratkan mencari uang dengan menjual fitnah?

Minggu, 08 Juni 2014

PISA dan Logika Masyarakat Indonesia




Test PISA (Programme International Student Assessment) adalah sebuah test internasional yang diadakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengukur kemampuan matematika, sains dan literasi anak-anak di sebuah negara. Soal-soal dalam test ini pada dasarnya adalah soal-soal yang sederhana.  Jika pemecahan soal dirumuskan dalam sebuah kalimat matematika, maka rumusan kalimat matematikanya sangat sederhana.  Untuk level awal, rumusan matematika tersebut bisa seperti penjumlahan dan pengurangan sederhana serta perkalian dan pembagian sederhana namun itu semua disajikan dalam sebuah soal cerita yang kontekstual.

Banyak pihak yang mengkritik metode penilaian PISA. Namun kita juga tidak bisa mengabaikan sebuah penilaian yang bermaksud untuk memberikan masukan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan sistem pendidikan. 
Indonesia selama ini selalu menduduki peringkat akhir dalam pemeringkatan PISA. Tahun 2012 Indonesia berada di peringkat 64 dari 65 negara. Satu tingkat di atas Peru. Menanggapi hal ini Kemendikbud menyatakan tidak akan tinggal diam. Namun sayangnya tindakan yang dilakukan oleh Kemendikbud untuk meningkatkan kemampuan siswa Indonesia berdasarkan standard PISA tersebut hanya dengan memasukkan soal-soal PISA dalam soal UN tahun 2014. Ada beberapa soal yang diambil dari test PISA (UN SMA Memuat Soal Standar Internasional). 

Tentu saja apa yang dilakukan oleh Kemendikbud tidak akan mendongkrak rangking Indonesia dalam pemeringkatan PISA. Bagaimana bisa peringkat Indonesia naik hanya dengan mencantumkan soal2 PISA dalam UN SMA dan SMP?

Jika dilihat dari soal-soalnya, bisa kita simpulkan bahwa yang diukur dalam test PISA adalah seberapa kuat logika anak-anak Indonesia. Bagaimana mereka bisa menangkap sebuah permasalahan kemudian merumuskan pemecahannya. Hasil test yang rendah tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa anak2 kita yang telah diajarkan membaca, menulis dan berhitung sejak TK tidak mampu untuk menangkap sebuah persoalan.

Anak-anak kita sudah bisa berhitung sejak TK. Mereka sudah diajarkan 5+6=11, dan mereka pun bisa menjawab dengan benar jika disodorkan rumusan matematika seperti itu. Tetapi mereka gelagapan ketika disodorkan soal:

"Doni berbelanja ke pasar bersama-sama Jaka. Mereka membeli buah di sebuah kios. Doni membeli 5 buah jambu dan Jaka membeli 6 buah jambu serta 3 buah sawo. Sesampainya di rumah mereka memasukkan semua buah yang mereka beli ke dalam kulkas. Berapa buah jambu yang ada di dalam kulkas?"

Padahal kalimat/rumusan matematika yang benar dari soal cerita tersebut sama: 5+6=... Tapi mereka tidak mampu untuk merumuskan kalimat matematikanya. Kenapa? karena mereka tidak mampu untuk menangkap apa inti permasalahan dalam soal cerita di atas. Nah inilah yang terjadi dalam pembelajaran anak-anak kita: Ketidakmampuan dalam melihat dan menangkap sebuah persoalan. Jika langsung disodorkan rumusan matematikanya 5+6=...? mereka langsung bisa menjawab dalam tempo hitungan detik. Tapi ketika disodorkan soal cerita kontekstual, mereka kebingungan. Menghapal rumus mereka sangat bisa. Tapi menerapkan rumus tersebut dalam sebuah soal cerita kontekstual, mereka kelimpungan.

Yang harus disadari oleh para orang tua, para pengajar dan pemerintah, tujuan anak-anak kita belajar bukan agar mereka bisa menyelesaikan soal-soal di kertas ujian atau ulangan saja. Mereka belajar agar mereka bisa memecahkan persoalan-persoalan yang akan mereka hadapi kelak, dalam kehidupannya dan dalam pekerjaan sehari-hari yang akan mereka geluti nanti. Jadi yang terpenting dalam belajar adalah bagaimana agar anak-anak kita mampu untuk menangkap dan merumuskan sebuah permasalahan. Nalar, logika itulah yang harus diasah. Jangan terlalu senang jika anak-anak kita sudah bisa berhitung 5+6=11 sejak TK, tapi ketika SMP disodori soal cerita sederhana, bingung.

Kalau kita melihat dalam buku matematika anak-anak kita, soal-soal latihan berupa rumusan matematika langsung, porsinya jauh lebih banyak daripada soal cerita kontekstual. Padahal dari soal ceritalah pola pikir anak-anak akan terbentuk. Ada 3 tahap yang harus dilalui seorang anak dalam memecahkan soal cerita: bagaimana alur berpikir dalam menangkap sebuah persoalan, lalu membuat rumusan matematikanya, baru menghitung hasilnya. Sangat berbeda dengan soal latihan berupa rumusan matematika, di mana anak-anak langsung menghitung hasilnya, tanpa melalui tahapan pertama dan kedua: menangkap sebuah persoalan, dan membuat rumusan matematikanya. Jadi anak-anak tidak terlatih untuk kedua tahapan tersebut. Pola pikir mereka tidak terlatih untuk menangkap sebuah persoalan. Sehingga nalarnya juga tidak terbentuk. Padahal pola pikir ini sangat berguna bagi mereka, bukan hanya untuk memecahkan soal-soal matematika, tapi juga untuk memecahkan persoalan sehari-hari yang ada dalam kehidupan di sekitar kita.

Dari sini mungkin bisa dimengerti mengapa dalam kehidupan masyarakat kita sekarang banyak terlahir pemikiran-pemikiran dan  gagasan-gagasan dengan logika yang ajaib. Karena masyarakat kita memang tidak terlatih untuk dapat melihat apa inti persoalan dari sebuah permasalahan. Tidak paham persoalannya apa, maka solusi, ide, gagasan yang ditawarkan juga ajaib, tidak menyentuh dan memecahkan inti persoalannya itu sendiri. Alur logika, nalar masyarakat kita memang tidak terbentuk dengan baik sejak di bangku sekolah.
Contoh nyata dan jelas yang kita lihat sekarang adalah: permasalahan peringkat PISA anak-anak yang jeblok diatasi dengan memasukkan soal-soal test PISA ke dalam tahapan akhir proses belajar anak-anak: UN. Apa inti masalah yang menjadi penyebab rendahnya peringkat PISA itu sendiri tidak didalami.. langsung instant: masukkan test PISA ke dalam UN. Ajaib bukan? :)

Jumat, 09 Mei 2014

Aku Berlindung Kepada Allah dari Godaan Syaithan Yang Terkutuk



Allah Maha Mengetahui, ilmunya begitu luas namun anugerahnya tak terbatas. Ia memberikan petunjuk kepada manusia agar manusia selalu berpikir, berpikir dan berpikir.
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shaad, 38: 29)
Ayat-ayat Allah tersebar di seluruh jagad raya. Semua petunjuk itu adalah anugerah agar kita manusia berpikir dan merenung lalu mengambil pelajaran darinya.

Sedikit mengambil pelajaran dari alam raya ini, mari kita belajar mengenai kehidupan dari bagaimana pergantian siang dan malam. 10 September 2009, saya pernah menulis puisi ini (Untuk Anak-anakku):
Malam tak pernah datang tiba-tiba

Senja menjadi perantaranya


Langit tak pernah gelap tiba-tiba

Sandyakala menjadi isyaratnya
Puisi itu saya persembahkan untuk anak-anakku agar mereka bisa melihat bahwa Allah merancang sistem yang berjalan di alam raya ini dengan sedemikian sempurnanya. Allah tidak pernah mengganti siang ke malam, terang ke gelap secara tiba-tiba. Ada proses antara yang menyertai perpindahan tersebut. dari siang ke malam Allah menyelipkan senja. Dari malam ke siang Allah menyelipkan subuh. Ini semua adalah mekanisme yang sangat sempurna.

Bagaimana jika Allah mengganti siang ke malam atau malam ke siang secara tiba-tiba? Ketika kondisi gelap gulita lalu tiba-tiba kita menyalakan lampu, maka mata kita tiba-tiba 'buta sesaat' karena silaunya cahaya. Kita sulit untuk melihat keadaan di sekeliling kita. Bahkan seringkali mata kita secara reflek tertutup, menghindari cahaya yang datang dengan terangnya secara tiba-tiba. Begitu juga ketika di malam hari kita menyalakan lampu yang sangat terang, tiba-tiba lampu itu padam. Mata kita mendadak 'buta' karena gelap yang sangat tiba-tiba itu. Namun seiring dengan berjalannya waktu, mata kita bisa menyesuaikan diri dalam gelap. Samar-samar kita bisa tetap melihat bayangan-bayangan di sekitar kita meskipun gelap.

Allah membuat sistem penerima cahaya dengan sangat sempurna pada mata manusia. Retina mata kita memiliki sel bacillus (batang) dan sel conus (kerucut). Sel batang mengandung pigmen  rodopsin (warna jingga). Sel inilah yang berperan untuk melihat waktu gelap. Pigmen ini terurai pada saat cahaya terang sehingga apabila ada perubahan  dari terang ke redup maka akan terjadi buta sesaat karena dibutuhkan waktu agar rodopsin yang terurai berkumpul kembali.

Demikianlah halnya dengan kehidupan kita. Dalam setiap pergantian fase kehidupan, kita selalu butuh penyesuaian. Perubahan yang tiba-tiba akan menimbulkan reaksi 'buta sesaat'. Dari bahagia tiba-tiba berubah duka. Ataupun sebaliknya, dari duka tiba-tiba menjadi sangat bahagia..

Saat menuntut ilmu, buta sesaat ini juga seringkali terjadi. Saya pernah mengalaminya ketika pertama kali belajar agama dan memakai jilbab, kelas 1 SMA. Waktu itu belum banyak yang menggunakan jilbab. Saya termasuk angkatan pertama sejak peraturan yang melarang anak sekolah menggunakan jilbab dicabut. Karena masih sedikit, (satu angkatan hanya 11 anak), jadi rasanya eksklusif sekali. Yang sedikit ini pulalah yang kemudian menjadi harapan para teteh mentor di DKM untuk menjalankan misi dakwah. Merasa mendapatkan misi, merasa eksklusif, merasa sebagai orang2 terpilih, merasa kawan2 yang lain tidak mendapatkan ilmu seperti saya, merasa yang lain tidak memiliki militansi seperti saya, ini semua membuat saya merasa lebih baik daripada kawan-kawan yang lain, terutama yang tidak memakai jilbab. Lalu saya bisa memandang sebelah mata pada kawan2 yang lain yang tidak memakai jilbab. Saya merasa agama saya lebih baik dari mereka. Saya merasa Allah pasti lebih sayang kepada saya daripada kepada  kawan-kawan saya yang tidak berjilbab.

Inilah 'buta sesaat' yang saya alami. Kondisi saya sebelumnya yang awam soal agama, lalu tiba-tiba belajar agama yang selama ini tidak pernah saya dapatkan. Menerima sesuatu yang baru, materi-materi ilmu yang membuat saya berkata dalam hati: "oh begitu ternyata...", lalu saya pun buta. Sebagai seseorang yang mendapatkan misi dakwah (ciiyyyyeeehhh...), saya menyampaikan materi yang saya dapat dan saya telan bulat-bulat itu kepada objek dakwah saya. Jika ada yang tidak sependapat atau menyanggah apa yang saya sampaikan, bukannya berdebat pada konten materinya..   saya malah menghibur diri bahwa itu adalah ujian dakwah, sebagaimana dulu ujian yang didapatkan sahabat2 Rasulullah ketika menjalankan dakwah (hihihiiiii... jauuhh pisaaannnn). Pokoknya yakin sekali bahwa saya yang paling benar untuk soal agama :))

DKM sering mengadakan acara nonton bareng film Risalah, film tentang perjuangan Rasulullah dulu. Dari situ ditanamkan di kepala kami bahwa seperti itu jugalah ujian yang akan kami hadapi nanti untuk menegakkan Islam secara kaffah, untuk mewujudkan negara Islam dan menolak Pancasila sebagai dasar negara. Hahhhhh??? Mendirikan negara Islam? Menolak Pancasila? Hihihiiiii... iya, dan begitulah saya dulu: menelan bulat-bulat apa kata Teteh Mentor. Rasanya eksklusif sekali militansi yang kami miliki: pertemuan dan pembicaraan rahasia yang tidak boleh diketahui sembarangan orang :) Maka saya pun merasa lebih special (ga pake telor ya...), merasa lebih baik, lebih pejuang dari yang lain, karena mereka tidak mendapatkan kaderisasi seperti yang saya dapatkan.

Sampai kemudian ketika Rodopsin telah menyesuaikan diri, siap untuk menerima cahaya kembali, sayapun berangsur sembuh dari 'buta sesaat' itu. Bahkan kemudian saya melihat banyak orang lain yang tidak mendapatkan kaderisasi agama seperti saya, bahkan yang tidak menggunaka jilbab, agamanya lebih baik daripada saya. Itu tercermin dari perilakunya sehari2. Saya merasa tertampar. Bukankah kualitas agama tercermin dari perilaku sehari-hari? Dari tutur katanya? Dari egonya? Bukan dari militansinya? Bukan dari heroiknya? Bukan dari seberapa luas pengetahuan agamanya, seberapa fasihnya ia mengemukakan ayat-ayat Al Quran dan hadist-hadist Nabi SAW, tapi dari seberapa jauh pengetahuannya itu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Maka kemudian sayapun belajar agama lagi dari nol. Belajar bukan hanya dari buku dan hapalan ayat, tapi belajar dari sikap hidup orang lain, belajar dari kebijaksanaan2nya. Kalau dulunya saya hanya merasa senang berkumpul dengan kawan-kawan DKM, sejak itu saya senang berkawan dengan siapapun dan dari golongan manapun. Saya berusaha lebih membuka diri. Berusaha mendapat masukan dari pemikiran manapun.

Ah... ternyata bukan saya sendiri yang mengalami buta sesaat itu. Banyak juga kawan-kawan yang mengakui mengalaminya.. hehehehe.. Buta sesaat ini bisa terjadi pada siapapun yang baru belajar tentang sesuatu yang belum pernah dipelajari sebelumnya. Bukan hanya ilmu agama.
Waktu di kampus dulu saya bertemu dengan seseorang yang baru belajar tentang Marxism. Yang diomongkan olehnya hanya itu-itu saja. Bahkan waktu saya menegurnya karena sikapnya yang tidak sopan, dia mengelak dengan mengemukakan teori kelas2 sosial.. loh... apa hubungannya? Rupanya beliau sedang mengalami buta sesaat juga :)

Buta sesaat juga bisa terjadi berulangkali. Bahkan saya yang sudah menyadari pernah mengalami buta sesaat di masa lalu bisa saja mengalaminya lagi di kemudian hari. Ketika saya baru belajar tentang sufism misalnya, atau ketika saya baru belajar tentang ekonomi, atau baru belajar tentang politik dsb. Oleh karena itu, ketika akan mempelajari sebuah ilmu yang baru bagi kita, penting sekali untuk benar2 memohon perlindungan kepada Allah SWT. Audzubillah himinasyaitonirrajim, bismillahirrahmanirrahiim. Istighfar ketika menuntut ilmu, dan selalu rendah hati. Berusaha untuk tetap sadar bahwa sebagai manusia kita adalah tempatnya salah, tetap sadar bahwa ilmu yang kita punya hanya setitik debu dari luasnya ilmu Sang Maha Mengetahui yang meliputi seluruh alam raya. Dengan demikian, insya Allah kita dihindarkan dari buta sesaat.

.

Rabu, 30 April 2014

Ayah, Bunda.. Ajari Kami Untuk Bisa Memutuskan Sendiri




“Bunda, rumput itu emangnya enak?”
“Wah.. Bunda nggak tau. Kenapa Maula nanya begitu? Pingin makan rumput?”
“Wihihihiii… bukan gitu, kata b* ***u kalau nggak sekolah nanti kayak orang P***a yang cuman makan rumput”

Huwaaaaaaa…. Jadi pingin gigit tiang listrik dengernya… anak gue diracun oraaaaang!! huhuhuuuu…. Inhale…. Exhale… Inhale… Exhale.. (mendinginkan kepala yang tiba-tiba berasap)

“Dek, bilang ke b* ***u ya.. bunda punya banyak teman orang P***a. Dan mereka semua kuliah di ITB mereka hebat-hebat. Memang sekolah itu penting, Dek. Tapi bukan berarti semua orang P***a tidak sekolah. Banyak sekali yang pintar-pintar dan sekolah di sekolah-sekolah hebat.”
“Jadi mereka tidak makan rumput?”
 “Kalaupun ada di antara mereka yang tidak sekolah, tapi mereka yang tidak sekolah juga tidak makan rumput. Mereka makan seperti kita. Makan daging dan makan sayur. Dek… kucing juga nggak sekolah, tapi makannya daging kan? Bukan rumput?”
“Hahahhahaaa… iya yaaaa…”

Obrolan pagi ketika saya mengantar Maula sekolah itu hanya satu dari sekian banyak input-input negative buat anak-anak. Pernah juga dulu terjadi obrolan antara saya dan si sulung di mobil ketika pulang sekolah.

“Nda, nama orang itu harus pake bahasa Arab ya? Ga boleh pake bahasa Indonesia, nanti dosa”
“Haaaa??? Kata siapa, Kak?”
“Kata b**** katanya nama itu doa. Nanti perilaku kita sesuai dengan nama kita. Jadi harus pake bahasa Arab.”
“Kakaaak… apa Allah itu bodoh?”
“Ya nggak dong.”
“Apa Allah itu cuman bisa bahasa Arab saja? Apa Allah tidak bisa bahasa Jepang? Tidak mengerti bahasa Indonesia?”
“Hmmmmm…. Iya juga yaaaa…” (mulai mikir dia)
“Bahwa nama adalah doa dan harapan orang tua.. itu betul. Maka kita harus memberikan nama yang baik-baik untuk anak kita. Tapi Allah kan Maha Mengetahui, jangankan doa yang diucapkan secara lisan. Kalau kita berharap dalam hati saja Allah bisa tau kok. Mau pake bahasa Arab, bahasa Indonesia, bahasa Cina, bahkan tidak diucapkan pun Allah bisa mengetahui.”
“bener… bener.. bener…”

Setelah obrolan itu, satu waktu si sulung cerita padaku usai pelajaran Agama.

“Bunda,.. tadi waktu baca doa bu hajjah bilang: ‘baca doanya yang keraaaassss… supaya didengar Allah’. Trus Nisa bisik-bisik ke Nanda: ‘eh.. emangnya Allah tuli, nggak bisa dengar?’ Nanda ketawa, Nda”
Hahahahaa… aku senang mendengarnya. Berarti apa yang aku sampaikan beberapa waktu sebelumnya membuka ruang dialog di pikirannya.

Dunia anak-anak memang tidak pernah terlepas dari dunia orang dewasa. Apa yang dilakukan dan dibicarakan oleh orang dewasa seringkali menjadi copy paste bagi anak-anak kita. Anak-anak adalah cerminan orang tuanya. Kita sebagai orang tua dituntut untuk lebih berhati-hati agar anak-anak bisa tumbuh ke arah yang positif, lebih baik dari kita orang tuanya.

Dalam pertumbuhannya, lingkungan juga sangat berpengaruh bagi anak-anak. Ada jutaan input dari lingkungan  di sekitar mereka yang masuk ke dalam alam pikiran anak-anak. Orang tua tidak mungkin bisa berada di samping mereka 24 jam penuh. Kita tidak bisa terus mengawasi dan memberikan pengarahan kepada mereka. Kita tidak bisa terus menerus mendikte, memberitahu mana yang baik dan mana yang buruk.  Maka yang bisa kita lakukan kepada mereka sebagai orang tua adalah menumbuhkan daya pikir kritis dan objektif mereka. Kelak mereka harus bisa berpikir sendiri apakah input yang mereka terima itu baik untuk mereka atau tidak. Sehingga jika satu ketika ada input negative seperti contoh di atas, dengan sendirinya mereka mampu menjalankan proses dialog dalam pikirannya, tidak langsung menerima dan menelan bulat-bulat input tersebut.

Pada dasarnya, ruang dialog atau dialektika adalah ketika sebuah tesis/ide menemukan antitesisnya. Keduanya (baik tesis maupun antithesis) akan melahirkan proses dialog pemikiran yang kemudian akan menghasilkan sintesa atau kesimpulan sendiri. Anak-anak yang terlatih menjalani proses tersebut akan memiliki sisi positif diantaranya: memilki rasa ingin tahu yang besar sehingga tidak segan untuk bertanya dan mengkritisi sesuatu, lebih terbuka terhadap pandangan atau pendapat yang berbeda dan mampu mengemukakan hasil pemikirannya. Lambat laun alur pemikiran mereka akan semakin rapi, teratur dan sistematis. Mereka juga lebih mandiri dalam mengambil keputusan, dan siap atas resiko yang akan mereka hadapi dari keputusannya tersebut. Maka dari itu anak-anak yang terlatih terhadap ruang dialog pemikiran akan lebih kuat memegang nilai, etika dan norma yang berlaku di lingkungannya karena itu semua adalah hasil dari dialektikanya.

Ada beberapa hal yang bisa kita perbuat untuk menumbuhkan ruang dialog dalam pemikiran anak-anak. Di antaranya

  1. Berikan bekal  nilai-nilai, norma dan etika kepada mereka. Baik itu yang berlaku secara umum, yang berlaku dalam agama yang dianut maupun yang berlaku di lingkungan di sekitar. Bagaimanapun bekal ini harus menjadi landasan utama sehingga harus diperkuat agar sintesa yang lahir dari proses pemikiran anak-anak kita tetap sejalan dengan nilai, norma dan etika yang berlaku. 
  2. Proses dialog pemikiran ini tidak akan terbentuk jika sebuah tesis/ide tidak menemukan antitesanya. Oleh karena itu jangan tutup dan batasi secara ketat lingkungan mereka. Biarkan mereka melihat bahwa di dunia ini ada dua sisi: positif dan negative, baik dan buruk, sholeh dan bejad. Biarkan mereka menerima input negative secara perlahan-lahan. Dan biarkan mereka bergaul dalam lingkungan yang plural, lingkungan yang terdiri dari berbagai kelas, ras, maupun agama. Agar anak-anak dapat melihat setiap perbedaan dalam lingkungan tersebut. Input yang beragam ini sangat baik untuk menjadi bahan pemikirannya. 
  3. Tidak perlu khawatir jika input-input negative tersebut akan diserap oleh mereka selama kita menemani dan mendampingi mereka dalam melatih dan menumbuhkembangkan proses dialektika tersebut. Maka, bukalah ruang-ruang diskusi dengan mereka. Biasakan untuk mendiskusikan berbagai hal. Mulai dari berbagai persoalan yang terjadi di sekeliling mereka maupun yang dihadapi oleh orang tua.
  4. Biarkan anak-anak berkonflik. Jangan selalu mencampuri konflik di antara mereka. Lewat konflik mereka akan melatih diri mereka bagaimana cara mengelola konflik dan mengambil hikmah dari konflik tersebut. Maka dari itu, meskipun kita sebagai orang tua tidak mencampuri konflik yang terjadi di antara mereka, tetap kita damping mereka. Ajak mereka untuk berdiskusi mengenai hikmah yang mereka dapatkan dari konflik tersebut.
  5. Antitesa juga bisa diperoleh dengan mengajak mereka berdiskusi untuk mengkritisi suatu persoalan di sekitar mereka. Kaitkan persoalan tersebut dengan norma, nilai, etika yang berlaku dalam lingkungannya. Karena ini sifatnya diskusi, bukan kuliah satu arah, maka yang kita lakukan sebaiknya hanya berupa umpan saja agar mereka bisa mengemukakan pendapat dan pemikirannya. 
  6. Hal penting lainnya yang sebaiknya kita tanamkan kepada mereka adalah: berikan kesadaran bahwa setiap manusia adalah berbeda. Maka perbedaan baik secara fisik maupun secara pemikiran hakikatnya adalah sebuah anugerah. Perbedaan itu juga bisa menjadi sebuah potensi bagi kita semua. Oleh karena itu kita harus bisa menghargai dan menghormati perbedaan tersebut.
  7. Sebagai bekal tambahan ajari anak-anak kita agar mereka mampu bersikap objektif dalam membedah satu persoalan. Jangan menilai sebuah idea tau permasalahan dengan melihat latar belakang seseorang. Ajari mereka bagaimana membedakan antara apa dan siapa dalam membedah satu idea atau persoalan.

Saya sendiri selama ini berusaha untuk tidak mengintervensi pandangan ataupun pemikiran anak-anak. Dalam pergaulannya dengan berbagai kalangan, si sulung pernah bercerita tentang kawannya yang tanpa disadarinya sering berbohong dengan berbagai bualan. Saya tidak langsung memberitahu Nisa bahwa kawannya itu sudah membohonginya. Saya biarkan itu berproses secara alami. Dan benar saja… beberapa saat kemudian dia menceritakan kepada saya bahwa kawannya itu sering berbohong. Saya hanya tersenyum.

“Bunda sudah tau kok.”
“Kok? Bunda tau dari mana?”
“Ya Bunda tau dong.Kan Bunda mikir, jadi Bunda bisa tau mana yang bohong dan mana yang tidak. Coba.. Nisa pikirkan saja, kata Nisa dia punya iPad 8. Buat apa coba punya iPad banyak-banyak? Bahkan orang yang paling kaya di Indonesia juga tidak butuh punya iPad segitu banyaknya.”
“Iya juga ya…”
Hihihihiiiii…

Saya juga menghindari untuk mendoktrin mereka. Persoalan politik, terutama akhir-akhir ini pasti menjadi sebuah input bagi mereka. Karena politik adalah sesuatu yang sangat bersifat subyektif, maka saya tidak pernah memberi mereka masukan dari pandangan-pandangan saya.

Satu waktu si sulung bertanya pada saya:

“Bunda milih siapa calon presidennya?”
“Ya belum bisa milih dong, kan sekarang aja belum jelas siapa-siapa aja yang mau maju mencalonkan diri sebagai presiden.”
“yaaa udaaah… kalau gitu dari nama-nama yang muncul sekarang ini, Bunda milih siapa?”
“Tergantung cawapresnya dong… gimana Bunda bisa milih kalau cawapresnya belum ketahuan siapa?”
Dan si sulung pun manyun.. :D

Atau ketika menjelang pemilihan legislative 9 April kemarin si sulung juga bertanya:

“Bunda milih partai apa?”
“Tergantung calon anggota DPRnya nanti. Kalau ada yang Bunda kenal dan dirasa cocok ya Bunda pilih, apapun partainya.”

Saya tidak pernah berusaha mendoktrin si Sulung bahwa si X paling hebat, paling baik, paling cocok jadi presiden atau partai anu paling bagus, partai inu paling hebat, atau juga sebaliknya… si Y paling jahat, tukang bohong, paling tidak amanah, partai anu paling jelek, partai inu paling korup.

Politik tidak pernah bersifat objektif. Apalagi saat ini. Maka saya menghindari untuk memberikan doktrin kepada mereka. Tentunya mereka tidak pernah steril dari input-input tersebut, dan saya membiarkan mereka memiliki pendapatnya sendiri.

Doktrin adalah musuh dari ruang dialog. Bahkan dalam urusan agama juga saya menghindar dari memberikan doktrin. Ketika kemudian si Sulung memutuskan untuk berjilbab di usianya yang baru 11 tahun saya justru memberikan antitesa-antitesa. Bukan karena saya melarangnya memakai jilbab. Itu saya lakukan agar keinginannya itu benar-benar tumbuh dan muncul dari pemikirannya sendiri, dan telah melewati proses dialektika. Jika keputusannya itu muncul dari pemikirannya setelah melewati proses tersebut, maka kelak ia akan teguh dengan keputusan dan pemikirannya itu. Bagi saya sendiri agama sesungguhnya bukan sebuah doktrin. Segala sesuatu dalam agama bisa didialogkan. Dan dialog ini adalah sebuah proses yang sangat dihargai dalam agama saya. Allah SWT menyuruh kita untuk selalu merenung dan berpikir. Maka dari itu, tumbuhkanlah ruang-ruang dialog dalam pemikiran anak-anak kita. Insha Allah, jika mereka sudah benar-benar terlatih, sedikit hilang kekhawatiran kita ketika harus melepaskan mereka dalam bersosialisasi di lingkungannya. 

Semoga…

Kamis, 17 April 2014

Sesungguhnya Anak-anak Kita Adalah Guru Bagi Kita



Hari ini, 17 April 2014, si Bungsu mengikuti Lomba Baca Puisi dalam rangka Peringatan Hari Kartini di TK-nya. Beberapa minggu sebelumnya dia merayu saya untuk tidak masuk sekolah di hari ini.
"Maula nggak bisa apal-apal" begitu keluhnya.
Dan... aku pun terus meyakinkan dia, bahwa:
"Kalau Maula berusaha pasti bisa kok. Kan Maula sendiri yang bilang kalau Bunda ga bisa Bunda harus bilang: pasti bisa! pasti bisa! pasti bisa! nanti kalau bilang begitu pasti beneran bisa. Nah Maula harus gitu juga dong. Ayok.. kita sama-sama ngapalin."

Kata-kata di dalam puisi itu memang cukup sulit untuk anak TK seusianya, bahkan mungkin Maula tidak mengerti arti dari kata-kata tersebut, seperti: "kaum hawa", "menyemangati", "nusantara", "berperan serta", "pembangunan" dan "bangsa". Agar mudah menghapal, aku harus menjelaskan secara sederhana arti kata-kata itu. Karena akan lebih sulit menghapal kalau ia tidak mengerti artinya. 
Maka.. mulailah setiap hari Maula berusaha menghapal bait-bait puisi singkat Kartini. Di mobil sepulang sekolah, sebelum berangkat sekolah, di rumah di sela-sela waktu luang. Sampai aku sendiri juga hapal di luar kepala :) Kalau kemudian ada bait yang terlupa, dia akan bilang:
"Zzzzzzzzzzz!!! ulang.. ulang.. fokus! fokus!" :D

Ketika kemudian dia berhasil menghapal tanpa ada bagian yang terlewat ataupun salah ejaannya, kami semua.. aku dan ayahnya mengapresiasi keberhasilan Maula.
"Nah.. bisa kan? Jadi sekarang Maula ga perlu tidak masuk pas Lomba Puisi nanti kan?"
Ia mengangguk.
"Berarti Maula bisa dapet piala dong. Maula mau dapat piala?" tanyaku lagi.
"Mau! Pialanya buat Bunda.."
"Waaaah.. makasiiih"
"Buat Ayah juga. Buat Budhe juga"
"Ayah sama Budhe pasti senang. Buat Kakak juga kan?"
"Nggak.. ah. Lagi marahan sama Kakak"
Errrrrr..... :D
Setelah diam sejenak dia menambahkan:
"Tapi kayaknya Maula nanti nggak dapat piala deh."
Kaget aku mendengarnya. Baru aku sadar sudah membuat kesalahan memotivasinya dengan piala. Buru-buru kukatakan padanya kalau itu tidak menjadi masalah buatku, buat ayahnya dan buat budhenya.
"Ya nggak apa-apa dong. Buat Bunda, Ayah, Budhe dan Kakak, Maula udah berani tampil baca puisi itu sudah menang. Menang itu kan tidak perlu harus dapat piala"

Maka demikianlah hari ini Maula tampil membaca puisi pertama kalinya di depan para juri dengan menggunakan pakaian adat Sunda. Tidak seperti latihan di rumah, Ia membaca terlalu cepat.. hihihiii.. mungkin masih ada rasa malu. Tapi tak apa.. meski aku tau tidak mendapat piala aku puji terus keberhasilan dia untuk berani tampil di panggung.
"Adek keren ya.. sudah berani membaca puisi sendiri tadi."
"Terima kasiiiiiih" jawabnya dengan senyum yang lebar.

Di mobil adalah waktunya evaluasi. Bukan.. bukan evaluasi mengenai penampilannya. Karena sebelumnya kami sudah sepakat bahwa target kemenangan kami adalah keberaniannya untuk tampil sendiri.
"Jadi tadi siapa Dek yang dapat piala?" tanyaku sambil menyetir mobil.
"Eeeeng... Farah, Ara.." Jawabnya.
"Oh, iya. Bunda tadi lihat Ara bagus baca puisinya. Ara berani pake gaya. Maula nggak apa-apa kan ga dapet piala?"
"Nggak apa-apa, Maula nggak nangis."
"Oh.. iya dong. Buat apa nangis. Yang penting kan Maula sudah berani tampil dengan keren."
Kami terdiam sejenak.
"Maula senang nggak Ara sama teman-teman Maula yang lain dapat piala?" tanyaku lagi.
"Senang doooong..."
"Alhamdulillah.. kenapa Maula merasa senang teman-teman yang lain dapat piala?"
"Eeeeenggg... nggak tau. Ya Maula ngerasa senang aja." jawabnya. Hihihiiii...
"Kalau Maula merasa senang teman-teman Maula dapat piala meskipun Maula nggak dapat piala, itu artinya Maula anak yang baiiiiik banget hatinya. Buat Bunda, itu lebih hebat lagi dari dapat piala. Hari ini Bunda senangnya dua kali. Pertama, Bunda senang Maula sudah berani tampil baca puisi. Kedua, Bunda lebih senang lagi ternyata Maula itu teman yang baik hati. Maula merasa senang kalau teman-teman Maula dapat piala meskipun Maula sendiri tidak dapat piala. Keren sekali. Maula ngerti kan maksud Bunda?"
Maula mengangguk. Dan akupun berhenti sampai di situ. Khawatir kalau aku lanjutkan, Ia belum bisa memahaminya.

Yang mau aku sampaikan ke Maula sebenarnya..:
seringkali kita siap untuk menang, tapi tak siap untuk kalah. Lebih menyedihkan lagi kalau persaingan ternyata lebih berharga daripada ikatan persaudaraan ataupun pertemanan di antara kita. Kalau menang jumawa, kalau kalah kita menjelek-jelekan yang menang. Mencari celah untuk menjatuhkan yang menang. Inilah maksud yang ingin aku sampaikan kepada Maula. Mungkin untuk saat ini hanya sampai di situ yang aku bisa sampaikan padanya. Kelak kalau ia sudah bisa lebih memahami, aku akan mengajarkan padanya apa artinya: "menang tanpa menjatuhkan saingan kita, menang secara terhormat"

Aku harus sampaikan padanya, terus mengingatkan ia bahwa hidup ini memang sebuah persaingan. Tapi kita harus menjalaninya secara terhormat. Mengingat bagaimana manusia-manusia dewasa sekarang ini tak mampu untuk bersaing secara terhormat, tak mampu kalah dengan terhormat. Jangankan untuk mengajari anak-anaknya agar hidup dengan terhormat, untuk mengajari anak-anaknya agar memiliki harga diri yang tinggi dengan bersaing secara sehat. Menjalani untuk dirinya sendiri pun manusia-manusia dewasa sekarang ini tak mampu. Kita, manusia-manusia dewasa sekarang ini hanya mampu bersaing dengan menjelek-jelekan lawan kita. Dan itu sekarang menjadi biasa. Sangat biasa.

Kalau kita sebagai manusia dewasa tidak mampu untuk bersaing secara sehat dan terhormat, tidak mampu kalah secara sehat dan terhormat, tidak mampu menang secara sehat dan terhormat, mungkin sekarang waktunya kita belajar dari anak-anak kita. Jangan malu belajar dari mereka. Sesungguhnya mereka adalah guru bagi kita.

Kamis, 03 April 2014

Halloooo Indaah :)

Hallo Indah dan semua kawan yang bertanya tentang ulasan saya mengenai Data KPK Watch di Kompasiana ( http://politik.kompasiana.com/2014/04/03/analisa-sederhana-kejanggalan-data-kpkwatch-644252.html ). Sebetulnya saya merasa sangat tidak perlu membuat tulisan ini lagi. Karena jawaban atas tulisan Indah sudah sangat jelas di ulasan saya tersebut. Tapi mungkin Indah dan beberapa kawan yang lain belum bisa memahami kalau saya tidak menerangkannya secara grafis serta dengan contoh-contoh sederhana lainnya. Juga karena saran beberapa kawan ya pada akhirnya saya buat juga. Karena saya bukan anggota Kompasiana, maka saya tidak bisa memberikan komentar di tulisan Indah tsb.

Mohon maaf kalau saya menjelaskannya dengan soal cerita matematika sederhana kelas 6 SD. Tidak bermaksud merendahkan dan menyamakan taraf pemahaman dengan anak kelas 6 SD, tapi memang ilmu statistik yang saya gunakan bukan ilmu statistik yang rumit, hanya ilmu statistik sederhana dan perbandingan sederhana yang ada di pelajaran kelas 6 SD.

1. Mengenai alasan Indah data diambil dari tahun 2002 karena KPK dibentuk sejak tahun 2002. Silakan dicek kembali data KPK Watch yang tidak hanya mengambil data KPK, tapi juga dari Kejaksaan. Dan kita tahu bahwa Kejaksaan dan Kepolisian sudah berdiri jauh sejak sebelum KPK berdiri. Kenapa data yang diambil sejak tahun 2002?

2. Mengenai keraguan terhadap objektifitas saya yang dihubung-hubungkan dengan tulisan "Pendekatan Pembangunan Ala Jokowi", saya tidak melihat korelasinya. Apakah seseorang yang menulis dan memuji Jokowi berarti tidak bisa membuat opini yang obyektif? Jika demikian anggapannya, maka Anda harus memahami apa itu Objektif, dan apa itu Subjektif. Silakan dibaca tulisan saya di blog ini yang berjudul "Antara Apa dan Siapa". Seseorang yang Objektif tidak akan mellihat siapa yang menulis, tetapi dia melihat apa yang ditulis/pemikirannya.

Silakan juga dilihat jawaban saya terhadap satu komentar di tulisan ttg KPK Watch tsb. Kalau saya mengulas data KPK Watch untuk menguntungkan satu partai, saya tidak akan menyatakan akun @KPK_Watch_RI yang membalikkan data akun @KPKWatch_RI sebagai abal2. Saya pasti akan membenarkan data @KPK_Watch_RI karena menguntungkan PDIP bukan? :)




Nah sekarang kita bahas pertanyaan yang sebenarnya sudah beberapa kali saya bahas di komen. Dan supaya tidak berulang lagi (capek juga menjelaskannya berulang2 kali... :) ) maka baiklah saya bahas lagi di sini. Sekali lagi mohon maaf saya menjelaskan dengan contoh soal cerita anak kelas 6 SD. Ayok coba kita kerjakan soal cerita di bawah ini:



Saya yakin dan berharap semua kawan-kawan tidak ada yang salah menjawab soal cerita ini ya.. Semua menjawab dengan jawaban yang benar bukan? :)

Nah kalau semuanya benar menjawab soal cerita tersebut, saya coba kasih lagi satu soal cerita yang modelnya sedikit mirip, tetapi angka dan kasusnya berbeda. Yuk kita coba jawab lagi soal cerita di bawah ini:


Bagaimana... apa jawaban kawan2? yang benar atau yang salah? Kalau jawabannya ternyata sama dengan jawaban yang salah... ya seperti itulah metoda yang digunakan oleh KPK Watch dengan memasukkan caleg, kepala daerah, mantan kepala desa pada jumlah koruptor lalu membaginya dengan perolehan suara partai di pemilu 2009.
Bagaimana... sudah jelaskah? Kalau masih belum jelas juga... ya... mohon maaf saya bingung harus menjelaskannya bagaimana lagi. Hanya butuh 1 hal untuk memahaminya kok: KEJUJURAN.

Salam :)

Rabu, 02 April 2014

Allah Tidak Membutuhkan Ibadah Kita




Allah tidak membutuhkan sholat kita.
Ia menyuruh kita sholat agar terlatih sabar, damai, kasih sayang dalam hati kita.
Sehingga ketika kita berkecimpung dalam masyarakat, sholat kita akan memancarkan rasa damai, sabar dan kasih sayang kepada sesama makhluk.

Allah tidak membutuhkan bacaan Quran kita.
Ia menyuruh kita membaca dan mengaji Al Quran agar kita memahami tuntunan2Nya dalam menjalani hidup kita.
Sehingga ketika kita bersosialisasi dlm masyarakat, kita bersosialisasi dgn pribadi Al Quran: membawa ke arah kebaikan, bukan kerusakan.

Allah tidak membutuhkan puasa dan zakat kita.
Ia menyuruh kita berpuasa dan berzakat agar terlatih hati kita melihat orang-orang yg teraniaya. Sehingga ketika kita terjun ke masyarakat, tidak keras hati kita seperti batu saat melihat orang2 yg lemah.

Allah tidak membutuhkan haji kita.
Ia menyuruh kita berhaji agar merdeka jiwa kita, tak ada lagi thagut. Syahadat! Tauhid!
Tak ada lagi rasa tunduk kita, takut kita, taklid kita, patuh kita selain kepada Allah.
Sehingga dalam bermasyarakat, bebas merdeka jiwa kita untuk mengatakan yang benar adalah benar, yang salah adalah salah.

Sudahkah kita "sholat"?
Sudahkah kita "mengaji" Al Quran?
Sudahkah kita "berpuasa" & "berzakat"?
Sudahkah kita "berhaji"?

#NoteToMySelf