Kamis, 17 April 2014

Sesungguhnya Anak-anak Kita Adalah Guru Bagi Kita



Hari ini, 17 April 2014, si Bungsu mengikuti Lomba Baca Puisi dalam rangka Peringatan Hari Kartini di TK-nya. Beberapa minggu sebelumnya dia merayu saya untuk tidak masuk sekolah di hari ini.
"Maula nggak bisa apal-apal" begitu keluhnya.
Dan... aku pun terus meyakinkan dia, bahwa:
"Kalau Maula berusaha pasti bisa kok. Kan Maula sendiri yang bilang kalau Bunda ga bisa Bunda harus bilang: pasti bisa! pasti bisa! pasti bisa! nanti kalau bilang begitu pasti beneran bisa. Nah Maula harus gitu juga dong. Ayok.. kita sama-sama ngapalin."

Kata-kata di dalam puisi itu memang cukup sulit untuk anak TK seusianya, bahkan mungkin Maula tidak mengerti arti dari kata-kata tersebut, seperti: "kaum hawa", "menyemangati", "nusantara", "berperan serta", "pembangunan" dan "bangsa". Agar mudah menghapal, aku harus menjelaskan secara sederhana arti kata-kata itu. Karena akan lebih sulit menghapal kalau ia tidak mengerti artinya. 
Maka.. mulailah setiap hari Maula berusaha menghapal bait-bait puisi singkat Kartini. Di mobil sepulang sekolah, sebelum berangkat sekolah, di rumah di sela-sela waktu luang. Sampai aku sendiri juga hapal di luar kepala :) Kalau kemudian ada bait yang terlupa, dia akan bilang:
"Zzzzzzzzzzz!!! ulang.. ulang.. fokus! fokus!" :D

Ketika kemudian dia berhasil menghapal tanpa ada bagian yang terlewat ataupun salah ejaannya, kami semua.. aku dan ayahnya mengapresiasi keberhasilan Maula.
"Nah.. bisa kan? Jadi sekarang Maula ga perlu tidak masuk pas Lomba Puisi nanti kan?"
Ia mengangguk.
"Berarti Maula bisa dapet piala dong. Maula mau dapat piala?" tanyaku lagi.
"Mau! Pialanya buat Bunda.."
"Waaaah.. makasiiih"
"Buat Ayah juga. Buat Budhe juga"
"Ayah sama Budhe pasti senang. Buat Kakak juga kan?"
"Nggak.. ah. Lagi marahan sama Kakak"
Errrrrr..... :D
Setelah diam sejenak dia menambahkan:
"Tapi kayaknya Maula nanti nggak dapat piala deh."
Kaget aku mendengarnya. Baru aku sadar sudah membuat kesalahan memotivasinya dengan piala. Buru-buru kukatakan padanya kalau itu tidak menjadi masalah buatku, buat ayahnya dan buat budhenya.
"Ya nggak apa-apa dong. Buat Bunda, Ayah, Budhe dan Kakak, Maula udah berani tampil baca puisi itu sudah menang. Menang itu kan tidak perlu harus dapat piala"

Maka demikianlah hari ini Maula tampil membaca puisi pertama kalinya di depan para juri dengan menggunakan pakaian adat Sunda. Tidak seperti latihan di rumah, Ia membaca terlalu cepat.. hihihiii.. mungkin masih ada rasa malu. Tapi tak apa.. meski aku tau tidak mendapat piala aku puji terus keberhasilan dia untuk berani tampil di panggung.
"Adek keren ya.. sudah berani membaca puisi sendiri tadi."
"Terima kasiiiiiih" jawabnya dengan senyum yang lebar.

Di mobil adalah waktunya evaluasi. Bukan.. bukan evaluasi mengenai penampilannya. Karena sebelumnya kami sudah sepakat bahwa target kemenangan kami adalah keberaniannya untuk tampil sendiri.
"Jadi tadi siapa Dek yang dapat piala?" tanyaku sambil menyetir mobil.
"Eeeeng... Farah, Ara.." Jawabnya.
"Oh, iya. Bunda tadi lihat Ara bagus baca puisinya. Ara berani pake gaya. Maula nggak apa-apa kan ga dapet piala?"
"Nggak apa-apa, Maula nggak nangis."
"Oh.. iya dong. Buat apa nangis. Yang penting kan Maula sudah berani tampil dengan keren."
Kami terdiam sejenak.
"Maula senang nggak Ara sama teman-teman Maula yang lain dapat piala?" tanyaku lagi.
"Senang doooong..."
"Alhamdulillah.. kenapa Maula merasa senang teman-teman yang lain dapat piala?"
"Eeeeenggg... nggak tau. Ya Maula ngerasa senang aja." jawabnya. Hihihiiii...
"Kalau Maula merasa senang teman-teman Maula dapat piala meskipun Maula nggak dapat piala, itu artinya Maula anak yang baiiiiik banget hatinya. Buat Bunda, itu lebih hebat lagi dari dapat piala. Hari ini Bunda senangnya dua kali. Pertama, Bunda senang Maula sudah berani tampil baca puisi. Kedua, Bunda lebih senang lagi ternyata Maula itu teman yang baik hati. Maula merasa senang kalau teman-teman Maula dapat piala meskipun Maula sendiri tidak dapat piala. Keren sekali. Maula ngerti kan maksud Bunda?"
Maula mengangguk. Dan akupun berhenti sampai di situ. Khawatir kalau aku lanjutkan, Ia belum bisa memahaminya.

Yang mau aku sampaikan ke Maula sebenarnya..:
seringkali kita siap untuk menang, tapi tak siap untuk kalah. Lebih menyedihkan lagi kalau persaingan ternyata lebih berharga daripada ikatan persaudaraan ataupun pertemanan di antara kita. Kalau menang jumawa, kalau kalah kita menjelek-jelekan yang menang. Mencari celah untuk menjatuhkan yang menang. Inilah maksud yang ingin aku sampaikan kepada Maula. Mungkin untuk saat ini hanya sampai di situ yang aku bisa sampaikan padanya. Kelak kalau ia sudah bisa lebih memahami, aku akan mengajarkan padanya apa artinya: "menang tanpa menjatuhkan saingan kita, menang secara terhormat"

Aku harus sampaikan padanya, terus mengingatkan ia bahwa hidup ini memang sebuah persaingan. Tapi kita harus menjalaninya secara terhormat. Mengingat bagaimana manusia-manusia dewasa sekarang ini tak mampu untuk bersaing secara terhormat, tak mampu kalah dengan terhormat. Jangankan untuk mengajari anak-anaknya agar hidup dengan terhormat, untuk mengajari anak-anaknya agar memiliki harga diri yang tinggi dengan bersaing secara sehat. Menjalani untuk dirinya sendiri pun manusia-manusia dewasa sekarang ini tak mampu. Kita, manusia-manusia dewasa sekarang ini hanya mampu bersaing dengan menjelek-jelekan lawan kita. Dan itu sekarang menjadi biasa. Sangat biasa.

Kalau kita sebagai manusia dewasa tidak mampu untuk bersaing secara sehat dan terhormat, tidak mampu kalah secara sehat dan terhormat, tidak mampu menang secara sehat dan terhormat, mungkin sekarang waktunya kita belajar dari anak-anak kita. Jangan malu belajar dari mereka. Sesungguhnya mereka adalah guru bagi kita.

Kamis, 03 April 2014

Halloooo Indaah :)

Hallo Indah dan semua kawan yang bertanya tentang ulasan saya mengenai Data KPK Watch di Kompasiana ( http://politik.kompasiana.com/2014/04/03/analisa-sederhana-kejanggalan-data-kpkwatch-644252.html ). Sebetulnya saya merasa sangat tidak perlu membuat tulisan ini lagi. Karena jawaban atas tulisan Indah sudah sangat jelas di ulasan saya tersebut. Tapi mungkin Indah dan beberapa kawan yang lain belum bisa memahami kalau saya tidak menerangkannya secara grafis serta dengan contoh-contoh sederhana lainnya. Juga karena saran beberapa kawan ya pada akhirnya saya buat juga. Karena saya bukan anggota Kompasiana, maka saya tidak bisa memberikan komentar di tulisan Indah tsb.

Mohon maaf kalau saya menjelaskannya dengan soal cerita matematika sederhana kelas 6 SD. Tidak bermaksud merendahkan dan menyamakan taraf pemahaman dengan anak kelas 6 SD, tapi memang ilmu statistik yang saya gunakan bukan ilmu statistik yang rumit, hanya ilmu statistik sederhana dan perbandingan sederhana yang ada di pelajaran kelas 6 SD.

1. Mengenai alasan Indah data diambil dari tahun 2002 karena KPK dibentuk sejak tahun 2002. Silakan dicek kembali data KPK Watch yang tidak hanya mengambil data KPK, tapi juga dari Kejaksaan. Dan kita tahu bahwa Kejaksaan dan Kepolisian sudah berdiri jauh sejak sebelum KPK berdiri. Kenapa data yang diambil sejak tahun 2002?

2. Mengenai keraguan terhadap objektifitas saya yang dihubung-hubungkan dengan tulisan "Pendekatan Pembangunan Ala Jokowi", saya tidak melihat korelasinya. Apakah seseorang yang menulis dan memuji Jokowi berarti tidak bisa membuat opini yang obyektif? Jika demikian anggapannya, maka Anda harus memahami apa itu Objektif, dan apa itu Subjektif. Silakan dibaca tulisan saya di blog ini yang berjudul "Antara Apa dan Siapa". Seseorang yang Objektif tidak akan mellihat siapa yang menulis, tetapi dia melihat apa yang ditulis/pemikirannya.

Silakan juga dilihat jawaban saya terhadap satu komentar di tulisan ttg KPK Watch tsb. Kalau saya mengulas data KPK Watch untuk menguntungkan satu partai, saya tidak akan menyatakan akun @KPK_Watch_RI yang membalikkan data akun @KPKWatch_RI sebagai abal2. Saya pasti akan membenarkan data @KPK_Watch_RI karena menguntungkan PDIP bukan? :)




Nah sekarang kita bahas pertanyaan yang sebenarnya sudah beberapa kali saya bahas di komen. Dan supaya tidak berulang lagi (capek juga menjelaskannya berulang2 kali... :) ) maka baiklah saya bahas lagi di sini. Sekali lagi mohon maaf saya menjelaskan dengan contoh soal cerita anak kelas 6 SD. Ayok coba kita kerjakan soal cerita di bawah ini:



Saya yakin dan berharap semua kawan-kawan tidak ada yang salah menjawab soal cerita ini ya.. Semua menjawab dengan jawaban yang benar bukan? :)

Nah kalau semuanya benar menjawab soal cerita tersebut, saya coba kasih lagi satu soal cerita yang modelnya sedikit mirip, tetapi angka dan kasusnya berbeda. Yuk kita coba jawab lagi soal cerita di bawah ini:


Bagaimana... apa jawaban kawan2? yang benar atau yang salah? Kalau jawabannya ternyata sama dengan jawaban yang salah... ya seperti itulah metoda yang digunakan oleh KPK Watch dengan memasukkan caleg, kepala daerah, mantan kepala desa pada jumlah koruptor lalu membaginya dengan perolehan suara partai di pemilu 2009.
Bagaimana... sudah jelaskah? Kalau masih belum jelas juga... ya... mohon maaf saya bingung harus menjelaskannya bagaimana lagi. Hanya butuh 1 hal untuk memahaminya kok: KEJUJURAN.

Salam :)

Rabu, 02 April 2014

Allah Tidak Membutuhkan Ibadah Kita




Allah tidak membutuhkan sholat kita.
Ia menyuruh kita sholat agar terlatih sabar, damai, kasih sayang dalam hati kita.
Sehingga ketika kita berkecimpung dalam masyarakat, sholat kita akan memancarkan rasa damai, sabar dan kasih sayang kepada sesama makhluk.

Allah tidak membutuhkan bacaan Quran kita.
Ia menyuruh kita membaca dan mengaji Al Quran agar kita memahami tuntunan2Nya dalam menjalani hidup kita.
Sehingga ketika kita bersosialisasi dlm masyarakat, kita bersosialisasi dgn pribadi Al Quran: membawa ke arah kebaikan, bukan kerusakan.

Allah tidak membutuhkan puasa dan zakat kita.
Ia menyuruh kita berpuasa dan berzakat agar terlatih hati kita melihat orang-orang yg teraniaya. Sehingga ketika kita terjun ke masyarakat, tidak keras hati kita seperti batu saat melihat orang2 yg lemah.

Allah tidak membutuhkan haji kita.
Ia menyuruh kita berhaji agar merdeka jiwa kita, tak ada lagi thagut. Syahadat! Tauhid!
Tak ada lagi rasa tunduk kita, takut kita, taklid kita, patuh kita selain kepada Allah.
Sehingga dalam bermasyarakat, bebas merdeka jiwa kita untuk mengatakan yang benar adalah benar, yang salah adalah salah.

Sudahkah kita "sholat"?
Sudahkah kita "mengaji" Al Quran?
Sudahkah kita "berpuasa" & "berzakat"?
Sudahkah kita "berhaji"?

#NoteToMySelf

Minggu, 30 Maret 2014

KENYANG NYOBLOS



Sesungguhnya masa-masa pemilu adalah..

Masa ketika calon-calon pemimpin itu memperlihatkan wajah yang sesungguhnya.
Yang berlagak gagah jadi lebay,
yang berlagak alim jadi culas,
yang berlagak merakyat jadi memprovokasi
yang berlagak pintar jadi bodoh.

Masa ketika para ulama dan cendekiawan melelang hartanya yang paling berharga
yang seharusnya menyejukkan malah menyiram bensin,
yang seharusnya meluruskan logika malah membelokkan.

Masa ketika para pendukung saling menjelekkan dan saling menjatuhkan,
tidak peduli menjual agama,
tidak peduli menjual intelektual,
tidak peduli menjual nurani.

Mual rasa orang-orang yang menonton dari balik aquarium itu.

Tetapi meskipun mereka saling menyerang, ternyata ada satu hal yang membuat mereka bersatu.
Satu hal itu adalah golput.
Golongan putih.
Hanya di masa pemilu golongan putih inilah yang menjadi musuh bersama.
Golongan putus asa katanya.
Golongan apatis katanya.
Golongan egois katanya.

"Di mana ya beli tinta pemilu? minder kalau besok nggak ada tanda ungunya"
Demikian seorang kawan.

Lalu satu ketika seorang kakek memanggul bayam dan daun singkong berjalan menjajakan hasil kebunnya
"Ikut nyoblos besok, Ki?"
Si Aki hanya tersenyum.
"Ikut nyoblos besok, Ki?" ulangku.Si Aki hanya tersenyum.
"Kenapa nggak mau nyoblos Ki?"
"Sudah kenyang nyoblos, sejak nyoblos pertama"

Kenyang nyoblos kata si Aki.
Aku tak perlu bertanya lagi pada si Aki, bukan?
Kenyang nyoblos tapi perut tak pernah kenyang.
Sejak pemilu pertama.
Aku tak perlu berkata lagi "tapi sekarang ada harapan baru, Ki"
Tentu si Aki akan menjawab: "sudah kenyang"
ya... aku paham itu: kenyang harapan.

Aku tak perlu memusuhi si Aki.
Malu aku menudingkan telunjukku padanya sambil berkata: Golongan Putus Harapan!
Jika ia putus harapan, ia tak akan bercucuran keringat menjajakan bayam dan daun singkong.
Malu aku menudingkan telunjukku padanya sambil berkata: Golongan Apatis, Golongan Egois!
Jika si Aki apatis, jika si Aki egois, ia tak akan kenyang nyoblos, tak akan kenyang harapan.
Tudingan telunjukku hanya akan menambah kenyang yang lain bagi Aki: kenyang luka.
Bukan memberikan kenyang perut.
Bayam, Singkong yang dijajakannya, adalah jawaban dari kenyang nyoblos, jawaban dari kenyang harapan.

Bagaimana aku bisa menudingkan telunjukku pada si Aki?
Malu aku..
Sedangkan aku tak bisa memberikan kenyang perut untuknya.
Dia yang memberikan aku sumbangan rasa kenyang: kenyang asam garamnya.

Rabu, 26 Maret 2014

Allah Memberikan RahmatNya, Lalu Manusia Mendeskripsikan Allah Secara Mengerikan





Kecelakaan terjadi di jalan layang nontol Casablanca menewaskan  Windawati yang sedang hamil 7 bulan. Kepala Sub Bagian Humas Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Aswin mengatakan pengendara sepeda motor bernama Faisal, suami Windawati, sengaja menghindari razia, sehingga nekat mengemudikan sepeda motor di jalur yang berlawanan arus. “Jadi, memang dia melawan arus karena menghindari razia,” katanya saat dihubungi, Selasa, 28 Januari 2014.

Kecelakaan itu terjadi Senin malam, 27 Januari 2014. Saat itu, Faisal baru saja menjemput istrinya yang bekerja di kawasan Casablanca. Mereka pun hendak pulang dan mengambil jalan layang nontol untuk mempercepat akses jalan menuju Tanah Abang. Namun di turunan
flyover itu, tepatnya di depan gedung Standard Charter, polisi sedang menggelar razia lalu lintas.

Karena takut ditilang, Faisal pun memutar balik motor Honda Beat B-3842-SLA miliknya tepat di depan Mal Ambasador. Dia takut ditilang karena pengendara sepeda motor memang dilarang menggunakan
flyover yang baru diresmikan akhir 2013 lalu itu. Faisal nekat memutar balik meski harus melawan arus lalu lintas di atas flyover.

Tak lama setelah melawan arus, motor yang ditumpangi Faisal dan Windawati ditabrak oleh mobil Honda City yang dikemudikan seorang laki-laki. Akibat tabrakan itu, Windawati terpental hingga jatuh ke bawah
flyover. Helm yang digunakannya pun pecah. (Tempo.co, 28 Januari 2014)

Inalillahi wa inna ilaihi rajiun…

Sebagai makhluk sosial manusia tidak pernah bisa hidup sendiri, selalu hidup dan menjadi bagian dalam sebuah lingkungan masyarakat. Interaksi yang tumbuh antara manusia di dalam lingkungan sosial itu dan juga kepentingan yang berbeda di antara mereka akan menimbulkan potensi terjadinya konflik di antara mereka. Maka dibutuhkanlah sebuah tata aturan yang disepakati dan dilaksanakan secara bersama-sama untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang baik. Sayangnya tidak semua manusia memiliki kesadaran bahwa tata aturan tersebut dibuat untuk kepentingan bersama. Ada banyak manusia-manusia yang tidak peduli terhadap kepentingan bersama itu. Yang didahulukan selalu kepentingan pribadinya, meskipun cara yang dilakukannya akan merugikan orang lain. Untuk menjaga tata aturan ini terlaksana dengan baik, terutama terhadap manusia-manusia seperti itu, maka tata aturan biasanya disertai dengan konsekuensi punish and reward, selain konsekuensi hasil dari perbuatan itu sendiri.

Dalam menanggapi tata aturan yang dilengkapi dengan punish and reward ini sendiri ada 3 level manusia dalam masyarakat:
1.      

  1. Level orang-orang yang memang menghendaki terciptanya sebuah lingkungan masyarakat yang tertib dan baik. Kesadaran golongan ini lebih tinggi. Mereka menyadari bahwa setiap perbuatan akan memiliki sebuah konsekuensi yang akan mempengerahui kondisi masyarakat karena mereka adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Tanpa ada punish and reward pun mereka akan berusaha untuk menciptakan lingkungan sosial masyarakat yang lebih baik dimulai dari diri mereka sendiri.
  2. Level orang-orang yang tunduk dan patuh dengan sendirinya terhadap tata aturan tersebut tanpa memiliki kesadaran untuk apa peraturan2 itu dibuat (taqlid)
  3. Level orang-orang yang tidak peduli terhadap  kondisi masyarakat di sekitarnya. Mereka hanya peduli pada dirinya sendiri, mereka juga tidak peduli jika orang lain dan masyarakat merugi karena tindakannya.  Golongan ini hanya akan mematuhi tata aturan jika ada ‘razia’. Contoh dari golongan ini adalah pengendara motor yang diceritakan pada kasus kecelakaan di atas.

Peranan pendidikan sangat kuat dalam menentukan ketiga level di atas. Level 3 umumnya terjadi pada lingkungan masyarakat terbelakang. Di mana taraf pendidikan kurang sehingga selalu harus dipaksa dengan punish and reward. Jika sudah terbiasa dengan disiplin punish and reward seiring dengan meningkatnya taraf pendidikan dan pemahaman, maka level manusia itu akan meningkat secara berkesinambungan hingga mencapai level pertama.

Dalam Islam, Allah juga menurunkan tata aturan untuk kebaikan umat manusia itu sendiri. Ketika manusia diciptakan, Jibril sudah mengetahui bahwa manusia memiliki potensi untuk melakukan kerusakan di muka bumi. Tetapi Allah memiliki mekanismeNya sendiri. Kerusakan di muka bumi bisa dieliminir dengan proses pembelajaran akal dan pikiran manusia sehingga pada akhirnya akal dan pikiran manusia tsb akan menghasilkan produk berupa tata aturan seperti yang telah disebutkan di atas. Namun sayangnya, akal dan pikiran manusia sangat terbatas. Banyak sekali persoalan di muka bumi ini yang belum mampu dipecahkan oleh akal pikiran maupun ilmu pengetahuan manusia. Ada banyak pula persoalan baik-buruk, salah-benar yang tidak masuk ke dalam lingkup peraturan produk manusia karena manusia tidak mampu atau tidak mau untuk mengaturnya.

Dalam tata aturan yang telah diturunkan Allah tersebut, punish dan reward diwujudkan dalam bentuk pahala dan dosa. Kedua hal inilah yang menjadi tiket untuk menuju surga ataupun neraka bagi seorang manusia. Sama halnya dengan uraian sebelumnya, dalam menjalankan agama manusia juga terbagi ke dalam 3 level.  Mekanisme pahala dan dosa adalah mekanisme yang diterapkan untuk golongan kelas 2 dan 3 tersebut di atas yang sulit sekali memahami bahwa segala tata aturan yang Allah turunkan tersebut adalah untuk kebaikan mereka bersama di dunia, bukan karena untuk kebaikan Allah SWT.
  
Tidak, sama sekali tidak. Allah tidak mempunyai kepentingan terhadap manusia dan tidak juga berkepentingan terhadap bagaimana kondisi manusia di dunia ini. Tuhan adalah sosok Prima Causa yang tidak memiliki ketergantungan maupun kebutuhan terhadap manusia dan apa yang terjadi pada manusia. Apakah kondisi tatanan masyarakat akan berantakan karena ulah manusia itu sendiri, Allah tidak memiliki kepentingan terhadap itu semua. Jjika Allah menghendaki, maka Dia bisa membuat semua manusia patuh kepadanya. Allah bisa, sangat bisa membuat manusia hanya melakukan kebaikan semata.

Namun jika demikian adanya, apakah bedanya manusia dengan makhluk lainnya? Apa bedanya manusia dengan burung-burung di atas pohon? Apa bedanya manusia dengan harimau di padang rumput? Apa bedanya manusia dengan ikan-ikan yang berenang di lautan? Nyatanya Allah menempatkan manusia lebih tinggi dari makhluk-makhluk itu semua. Allah merahmatkan akal, pikiran dan kebebasan untuk manusia. Dengan akal, pikiran dan kebebasan yang dirahmatkan Allah kepada manusia tersebut, manusia mampu membuat tata aturan bagi mereka sendiri untuk mengatasi berbagai macam permasalahan dan konflik maupun potensi konflik yang terjadi dalam interaksi antar manusia di masyarakat. Namun ilmu manusia sangat kecil jika dibandingkan dengan ilmu Allah. Ada banyak hal yang belum bisa dijangkau oleh ilmu pengetahuan manusia. Ego dan nafsu manusia juga biasanya sangat besar. Bahkan seringkali lebih besar daripada akal dan pikirannya itu sendiri. Ego dan nafsu manusia itu dapat mengalahkan akal dan pikiran. Di dalam agama Allah memberikan petunjuk berbagai hal yang belum mampu dicapai oleh akal dan pikiran manusia. Dan belum  mampu dijangkau oleh ilmu pengetahuan manusia. Jika akal dan pikiran seorang manusia belum mampu untuk mengalahkan ego dan nafsunya, maka mekanisme pahala dan dosalah yang akan mendorong manusia untuk mengalahkan ego dan nafsu tersebut. Maka tidak lain, Allah memberikan petunjuk itu, memberikan tata aturan itu agar manusia dapat hidup dengan baik di dunia. Bukan untuk kepentingan Allah. Sekali lagi, Allah bebas dari kepentingan terhadap manusia. Agama adalah wujud kasih sayang Allah kepada Manusia.

Karena tata aturan itu diturunkan Allah atas kasih sayangNya, maka Dia tidak pernah menjatuhkan hukuman dengan semena-mena. Allah tidak pernah murka pada manusia karena perbuatan manusia merugikanNya. Sekali lagi Allah tidak memiliki kepentingan terhadap manusia. Allah tidak bergantung pada perilaku manusia. Jika Allah murka karena manusia mengabaikan perintah dan larangannya, murka Allah bukan karena kepentinganNya terganggu. Tapi karena pelanggaran yang dilakukan oleh manusia itu akan merugikan orang lain dan masyarakat di lingkungannya.

Allah memberikan hukuman  untuk pendidikan umatnya agar menjadi insan kamil, menjadi manusia yang lebih baik. Semuanya adalah bentuk kasih sayangNya, bentuk Rahman-Nya. Pahala dan dosa ini adalah sebagai SALAH SATU CARA untuk mendidik dan mendisiplinkan umat. Masih ada cara yang lain untuk mendidik masyarakat selain punish and reward, pahala dan dosa ini, yaitu bagi umat yang sudah dapat memahami dan menjalankan kebaikan itu sendiri. Mereka sudah tidak perlu punish and reward lagi, tinggal berjalan saja menuju tahapan selanjutnya: level 0, yaitu level manusia-manusia yang hanya berharap dapat berjalan menuju Allah karena cinta.

Tapi meskipun Allah menurunkan tata aturan karena rahmat dan rahimNya, manusia selalu berprasangka buruk pada Allah. Allah digambarkan sebagai Zat yang senang menyiksa makhluk yang diciptakanNya sendiri, Allah digambarkan mudah sekali membakar manusia dalam api neraka tanpa alasan-alasan yang kuat. Padahal dalam pengadilan di dunia saja, dalam memberikan ganjaran bagi pelanggar-pelanggar hukum, manusia dapat mengambil kemanusiaan sebagai bahan pertimbangan hukumnya. Lalu bagaimana bisa manusia memberikan gambaran tentang Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu sebagai zat yang mudah menyiksa manusia? Senang membakarnya dalam api neraka?
Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: 

Ketika Allah menetapkan penciptaan makhluq, Dia menulis di dalam Kitab-Nya, yang berada di sisi-Nya di atas ‘Arsy (yang isinya):
"Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.” (Shahih al-Bukhari no. 2955 dari  Qutaibah bin Sa’id dari Mughirah bin ‘Abdur Rahman Al Qurasyiy dari Abu Az Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Allah selalu mendahulukan rahmatNya. Dosa, azab yang Allah berikan bukan dalam rangka mendzalimi manusia, bukan dalam rangka menyiksa manusia dan bukan dalam rangka murka kepada manusia. Tapi untuk mendidik manusia.

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (QS An Nisa, 4:40)

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (QS Yunus, 10:44)

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. (QS Fussilat 41:46)

Bagi orang-orang yang sulit untuk memahaminya, ganjaran pahala dan dosa adalah cara yang baik sebagai pemacu semangat untuk berbuat kebaikan. Tetapi manusia harus terus maju dalam berproses. Maka meskipun dipacu dengan pahala dan dosa, mereka tetap harus diberikan pemahaman mengenai pentingnya kepentingan dan kebaikan bersama.

Demikianlah, ketika Allah menerapkan sebuah ‘sistem pendidikan’ bagi manusia, di satu sisi manusia tidak dapat menangkap maksudNya. Sehingga menggambarkan Allah sebagai Tuhan yang senang menyiksa manusia. Pahala dan dosa hanyalah salah satu cara Allah untuk mendidik manusia. Masih ada cara lain? Tentu saja. Sebagaimana kita halnya manusia, hukum dan penghargaan bukan satu-satunya cara untuk mendidik rakyat. Cara mendidik yang paling baik adalah dengan menumbuhkan kesadaran pemahaman mengenai pentingnya mewujudkan kebaikan bersama. Dan cara Allah memberikan petunjuk agar tumbuh kesadaran itu dalam diri manusia banyak sekali. Petunjuk-petunjuk Allah tersebut tersebar di seluruh alam raya ini. Tidak ada setitik ruang pun di alam raya ini yang tidak berisi petunjukNya. Tetapi ada satu syarat bagi seseorang untuk mampu naik ke level pertama seperti yang disebutkan di atas ini: Berpikir. Berpikir dengan menggunakan akal dan pikiran yang telah dirahmatkan Allah kepada manusia itu. Berulang kali Allah memerintahkan manusia berpikir, seperti yang tersebut dalam Al Quran.

Katakanlah: "Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu". Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya? (QS Yunus 10:16)

Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) supaya kamu memahaminya. (QS Al Baqarah 2:242)

Maka, beribadahlah dengan menggunakan akal dan pikiran yang telah dirahmatkan Allah kepada kita, bukan hanya didorong oleh punish dan reward semata. Sudah saatnya pula kita menggunakan pendekatan-pendekatan yang lebih baik lagi dalam amar ma'ruf nahi munkar. Dengan mendidik, menumbuhkan kesadaran manusia, tidak lagi dengan pendekatan ancaman-ancaman yang mengerikan.  Kecuali... jika memang masyarakat yang kita hadapi ketika melakukan amar ma'ruf nahi munkar adalah masyarakat jahiliyah seperti yang dihadapi Rasulullah SAW dulu. Wallahu alam bi sawab..


Rabu, 19 Maret 2014

Hindari Berbohong dalam Berpolitik: INDEKS KORUPSI PARTAI POLITIK VERSI KPK WATCH: QUALIFIED ATAU ABAL-ABAL?



Akhir-akhir ini banyak beredar di dunia maya Indeks Korupsi Partai Politik yang dibuat oleh semacam lembaga (entah lembaga resmi, entah lembaga dadakan)dengan nama KPK Watch sebagai berikut di bawah.




Bagaimana metode perhitungan Indeks Korupsi Partai Politik versi KPK Watch ini? KPK Watch mengambil data jumlah koruptor selama periode 2002-2014 dari laman ICW. Setelah diperoleh angka jumlah koruptor, KPK Watch membagi angka tersebut dengan jumlah suara yang diperoleh pada pemilu 2009. Maka didapatlah angka Indeks Korupsi Partai Politik yang kemudian dipublikasikan via social media. Tentu saja publikasi ini tidak melewati publikasi media cetak dan media elektronik. Mengapa? Entahlah.. kita tidak akan membahas itu. Kita hanya akan membahas bagaimana metoda perhitungan KPK Watch ini dan apa pengaruhnya pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2014 ini. Tapi mungkin dari pembahasan ini kita akan paham kenapa Indeks Korupsi Partai Politik yang dikeluarkan KPK Watch tidak dirilis di media cetak atau media elektronik.


Apakah Anda melihat ada yang aneh dari perhitungan Indeks Korupsi Partai Politik yang dikeluarkan oleh KPK Watch di atas? Coba perhatikan. Data yang diambil adalah jumlah Koruptor Parpol dari tahun 2002-2014. Sedangkan angka pembanding yang digunakan adalah jumlah suara di Pemilu 2009. Padahal dari periode 2002-2014 tersebut ada 2 kali pemilihan anggota legislatif yaitu tahun 2004 dan 2009. Koruptor yang tertangkap di tahun 2002-2004 adalah anggota legislatif yang melewati proses pileg tahun 1999. Koruptor yang tertangkap antara tahun 2004-2009 adalah anggota legislatif yang melewati proses pileg tahun 2004. Dan Koruptor yang tertangkap antara tahun 2009-2014 adalah anggota legislatif yang melewati proses pileg tahun 2009. Sedangkan -sekali lagi- angka indeks diperoleh dengan mengakumulasikan jumlah koruptor sejak tahun 2002-2014 lalu membandingkannya dengan jumlah suara pada pileg tahun 2009 saja. Tentu saja ini sangat absurd. Jika ingin membandingkan dengan jumlah suara pada pileg tahun 2009, seharusnya data jumlah koruptor yang digunakan adalah selama masa 2009-2014, bukan akumulasi dari tahun 2002-2014. Harus menjadi pertanyaan bagi kita semua mengapa KPK Watch mengambil data akumulasi dari tahun 2002-2014 dan membandingkannya dengan (hanya) jumlah suara tahun 2009? Apakah murni hanya karena ketidakpahaman dalam metode perhitungan saja? 

Hal yang aneh lainnya adalah jika kita melihat detail data jumlah koruptor pada partai politik tersebut. Kita ambil contoh data koruptor dari partai Hanura:



Dari gambar di atas terungkap bahwa koruptor yang dimasukkan ke dalam sistem perhitungan dan dibagi dengan angka pembanding (jumlah perolehan suara partai pada pemilu 2009) tidak hanya anggota legislatif saja, Bupati dan mantan Kades juga dimasukkan ke dalam angka ini. Tentu ini lebih absurd lagi. Bagaimana bisa Bupati dan Mantan Kades yang perolehan suaranya tidak diperoleh dari pemilu legislatif 2009 dimasukkan ke dalam perhitungan dan diproses dengan angka pembanding suara partai dari pemilu legislatif 2009?

Contoh data koruptor yang dirilis oleh KPK Watch kita ambil dari partai Golkar:



Selain Bupati, mantan Kades yang dimasukkan ke dalam data ini ada juga Ketua MK, Caleg dan 'Gunung Kidul'. Dua jabatan yang terakhir ini sangat tidak jelas maksudnya. Apakah caleg yang ikut pileg namun gagal memperoleh kursi sebagai anggota legislatif? Lebih tidak jelas lagi dengan jabatan 'Gunung Kidul'. Jabatan Gunung Kidul ini masuk ke dalam pemilu yang mana? Pileg? Pilpres? Pilkada? atau Pilkades?
Keanehan-keanehan membuat metoda perhitungan dari KPK Watch sangat tidak pantas untuk diproses lebih lanjut, apalagi jika dijadikan bahan untuk menilai indeks korupsi sebuah partai. Cara perhitungan ini mengandung kesalahan sistemik yang menimbulkan rambatan kesalahan terhadap KESIMPULAN yang dibuat.
Lalu jika seandainya pun angka indeks korupsi ini tidak absurd, dan menggunakan metoda penghitungan yang benar, bagaimanakah pengaruhnya terhadap pemilu legislatif 2014? 

Sejak tahun 1955-1999 Pemilu Legislatif di Indonesia menggunakan sistem proporsional tertutup. Pada model pemilu seperti ini masyarakat hanya memilih tanda gambar partai saja. Anggota legislatif akan ditentukan oleh partai berdasarkan jumlah perolehan suara partai. Tahun 2004 Indonesia menerapkan pemilu legislatif proporsional semi terbuka. Di sini masyarakat tidak memilih partainya tetapi memilih calon-calon legislatif. Hanya saja model ini tidak 100% terbuka karena nomor urut caleg masih sangat menentukan berhasil atau tidaknya orang atau caleg tersebut memperoleh kursi.
 

Mulai tahun 2009 Pemilu Legislatif di Indonesia sudah menerapkan pemilu proporsional terbuka 100%. Masyarakat memilih caleg sesuai dengan keinginannya. Data-data caleg dibuka untuk masyarakat umum. Nomor urut caleg tidak menentukan perolehan kursi. Semua caleg baik nomor urut atas ataupun bawah mendapat peluang yang sama terhadap perolehan kursi. Maka sistem proporsional terbuka ini dinilai banyak kalangan sebagai sistem pemilu yang paling ideal. Masyarakat tidak lagi membeli kucing dalam karung. Mereka menentukan sendiri siapa caleg yang akan mewakili aspirasi mereka nantinya.

Kalau saat ini yang digunakan adalah pemilu dengan sistem proporsional terbuka, maka Indeks korupsi Partai Politik yang dibuat oleh KPK Watch di atas tidak bisa disangkutpautkan terhadap partai politik JIKA korupsi tersebut dilakukan secara individual. Karena yang dipilih oleh masyarakat adalah anggota legislatifnya, bukan partainya. Pada korupsi yang dilakukan secara individual, Partai tidak memiliki peran terhadap kasus-kasus tersebut. Jika demikian adanya, kalau masyarakat menilai bahwa anggota parlemen yang sebelumnya adalah politisi busuk dan korup, maka pilihlah caleg2 baru yang berkualitas, apapun partainya untuk menggantikan politisi2 lama yang busuk.. yang absensi kehadiran rapatnya saja dikorupsi.

Akan sangat berbeda permasalahannya jika korupsi dilakukan secara sistematis oleh partai, bukan individual. Pada korupsi yang berlangsung secara sistematis oleh partai, bagaimanapun kualitas seorang caleg, jika ia berhasil mendapat kursi maka kemungkinan ia melakukan korupsi menjadi besar. Karena korupsi sudah tersistimatis dalam partai tersebut. Jika demikian maka Indeks Korupsi di atas dapat disangkutpautkan terhadap partai politik

Namun, pembahasan ini bukan berniat untuk memunculkan peran mana yang lebih dominan dalam kasus korupsi. Apakah sebagai organisasi/sistem atau individual, karena pada dasarnya sistem dan individu harus sama-sama memiliki akuntabilitas dan transparansi dalam penyelenggaraannya.  

Dua hal yang bisa kita simpulkan dari pembahasan system pemilu legislatif saat ini dan hubungannya dengan Indeks Korupsi Partai Politik yang dikeluarkan oleh KPK Watch di atas adalah:

  1.  Indeks Korupsi Partai Politik versi KPK Watch tersebut telah menggiring persepsi masyarakat untuk kembali kepada metoda pemilu model proporsional tertutup di mana masyarakat memilih Partai Politiknya, bukan calon anggota legislatifnya.
  2. Karena Angka Indeks Korupsi hanya bisa disangkutpautkan terhadap Partai Politik jika korupsi dilakukan secara sistematis oleh partai tersebut (bukan dilakukan secara individual), maka faktor ini harus dimasukkan pada metoda penghitungan Angka Indeks Korupsi tersebut. Harus dilakukan pembobotan terhadap bagaimana tersistimatisnya korupsi tersebut berlangsung di dalam partai, apakah terkait pada partai atau tidak dan bagaimana peran pelaku korupsi di partai. Tentu saja jika ketua partai yang melakukan korupsi maka kemungkinan korupsi dilakukan secara sistematis akan menjadi lebih besar daripada jika hanya kader partai yang melakukan korupsi.
Lalu jika demikian apa kepentingannya Indeks Korupsi Partai Politik tersebut dikeluarkan? Karena pemilu legislative saat ini menggunakan sistem proporsional terbuka maka Indeks Korupsi Parpol yang dikeluarkan oleh KPK Watch tersebut bukan bertujuan untuk mencegah politisi-politisi busuk masuk ke dalam lembaga legislatif. Jika ingin mencegah politisi-politisi seperti itu masuk lembaga legislatif, yang dikupas tentunya bukan partainya, tapi caleg-caleg yang bermasalah dari partai tersebut. 


Karena Indeks tersebut memiliki metoda penilaian yang absurd saya pun hanya bisa meraba-raba apa kepentingan dibalik dikeluarkannya indeks tersebut. Apalagi dengan peringatan “waspadai partai di atas indeks 1.5”. Darimana angka indeks 1.5 itu diperoleh semakin membuat penilaian ini menjadi lebih absurd dan membuat kita bisa membaca apa kepentingan di balik dikeluarkannya penilaian absurd ini. Dari sini, harus menjadi pertanyaan kritis bagi kita semua: apakah lembaga KPK Watch ini adalah lembaga yang qualified ataukah lembaga abal-abal yang dibuat dengan kepentingan tertentu?


Tapi apapun itu mulailah kita berpolitik dengan dasar yang bener bukan berbohong.

Notes:
1. Sebagai jawaban atas tanggapan posting ini di Kompasiana, silakan membaca jawaban saya di blog ini: Hallooo Indah

2. Untuk tambahan referensi jika ingin mengetahui bagaimana mengukur indeks korupsi parpol secara teori silakan dibaca juga link berikut: Mengukur Indeks Partai Terkorup