Langsung ke konten utama

Postingan

CERITA SAJADAH

Di dalam masjid besar di pusat kota, sebuah Sajadah sedang mencurahkan isi hatinya pada seuntai Tasbih. "Wahai Tasbih, aku adalah Sajadah. Lihatlah aku. Ketebalan dan kelembutanku membuat kaki-kaki yang menginjakku akan merasakan sebuah kenyamanan." Sang Tasbih memperhatikan Sajadah dengan seksama. Ya.. Sajadah itu terlihat sangat lembut dan tebal. Motif-motif yang tergambar pada permukaannya sangat indah. Terlihat sangat mewah. Pasti ia datang ke negeri ini melewati sebuah perjalanan yang sangat jauh. Dan biaya yang tidak sedikit. Pasti dia dimiliki oleh orang berkecukupan. "Dari mana asalmu?" Tanya si biji Tasbih "Aku berasal dari sebuah negeri, nun jauh di ujung sana" "Wah.. Kau beruntung sekali. Tentulah Kau adalah Sajadah yang istimewa bagi Tuanmu." Sajadah itu menunduk sedih. Terdiam. Biji Tasbih tampak heran. "Ya, aku sangat istimewa bagi Tuanku. Bahkan katanya aku sangat istimewa" Sajadah kembali terdiam. Gerak t...

PADA SEBUAH TELAGA

Pada sebuah telaga di muka bumi, Langit yang jauh tinggi, beserta awan yang mengiringinya berhenti sejenak untuk bercermin. Bayangannya terlukis dengan nyata di permukaan telaga. Pada sebuah telaga di bawah inilah Langit bisa memahami apa warna yang dilukisnya kini. Pada sebuah telaga langit bisa melihat apakah awan yang dibawanya memberikan kelabu, ataukah mengantarkan cerah matahari di atas sana bagi penghuni bumi. --#-- Begitulah pemimpin. Ibarat langit di atas dan telaga di bawah. Posisi pemimpin yang ada di atas harus berkaca pada rakyat di bawah. Ketika berkaca pada rakyat itulah seorang pemimpin bisa melihat bagaimana wujud aslinya sebagai seorang pemimpin. Ketika rakyat di bawah banyak menderita, seharusnya seorang pemimpin bisa melihat bagaimana leadershipnya. Langit tidak bisa berkaca pada awan. Pemimpin tidak bisa "berkaca" pada anak buah. Karena terkadang anak buah yang tidak merdeka tidak bisa memberikan kritik kepada atasannya. M...

Gerimis dan Matahari

Ketika gerimis yang dingin itu bertemu dengan matahari yang panas, sesungguhnya mereka akan segera melukiskan sebuah pelangi. Cahaya matahari menerobos melewati butir-butir gerimis. Dalam setiap butir itu gerimis mampu mengurai cahaya matahari yang satu. Gerimis menunjukkan pada dunia, bahwa satu cahaya benderang itu mengandung paduan warna indah. Lalu ia menghibur setiap mata yang memandangnya. Sebelum sesaat kemudian pelangi itu hilang. Setelah panas matahari meresap butir-butir gerimis yang telah mengurainya. Published with Blogger-droid v2.0.4

BAGAIMANA MUNGKIN AKU BISA?

Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu sendiri di sana? Sedangkan siang ini matahari bersinar begitu teriknya. Kalau aku bisa, seharian pun aku sanggup memayungimu. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu sendiri di sana? Sedangkan malam nanti udara akan terasa sangat dingin. Seandainya bisa tentu aku akan menyelimutimu dengan nyaman. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendiri di dalam sana. Dalam gelap, tak ada setitikpun cahaya. Seandainya bisa ingin kutemani dengan sebuah lilin untuk menerangi jalanmu. Tapi sekarang aku memilih berada di sini. Jauh darimu. Karena aku yakin segala amal semasa hidupmu akan menjadi payung yang akan melindungimu di sana. Karena aku yakin segala kebaikan semasa hidupmu akan menjadi selimut yang memberikan kehangatan bagimu di sana. Dan karena aku yakin segala doa dari orang-orang yang mendapatkan kebaikan darimu, selama hidupmu, akan menjadi cahaya penerang dalam jalanmu di sana, menuju Tuhanmu. Pondok Aren 18 Ju...

SEBUAH PABRIK BERNAMA UJIAN NASIONAL

Pagi itu saya sangat terkejut membaca sebuah berita di dunia maya. Wawancara Wakil Menteri Pendidikan mengenai Ujian Nasional yang saya baca di sini membuat saya terpukul: "Percayalah, kalau tidak diberi ujian, yakin saya sekolah itu tidak akan menerapkan proses belajar. Coba bayangkan Indonesia tidak ada semangat untuk belajar. Untung ada UN, mereka jadi belajar." Pernyataan ini membuat saya bertanya-tanya. Bagaimana bisa seorang Wakil Menteri Pendidikan berbicara seperti ini? Apakah ini didasari pengalaman pribadi Sang Profesor? Sehingga Wamen merasa sangat pesimis dengan berlangsungnya proses belajar di sekolah? Mungkin banyak pertanyaan di masyarakat: "apa sih yang salah dengan UN?" atau "perasaan jaman dulu Ujian nggak ribut-ribut seperti ini". Sungguh pada awalnya saya juga merasa heran, apa yang salah dengan UN? toh jaman dulu ini tidak ada masalah? Pada awalnya saya pernah menyatakan: Tidak ada yang salah dengan UN dan saya mendukung ad...

DI RUMAH ITU..

Minggu siang yang mendung. Dan kali ini aku mencoba untuk berjalan mundur ke belakang. Terus berjalan mundur. Dan terus berjalan mundur, mengikuti jejak kaki yang pernah ada. Sampai aku tiba di depan sebuah rumah. Tempat di mana tirai tersingkap. Dan film itu kembali diputar ulang. Terlihat olehku rumah kecil dengan taman yang indah. Taman sentuhan seorang ibu. Ada bunga berwarna ungu di sana. Dan wangi kecubung melayang terbang dari gantungannya. Film tersendat berputar. Lalu memulai kembali gambar di seberang rumah itu. Pada trotoar di bawah pohon tanjung. Tempat yang nyaman untuk memulai percakapan, hingga pertengkaran tentang sebatang rokok. Berhenti di depan garasi, pada satu adegan di bawah hujan. Ketika jari-jari itu menghapus jejak air di jendela. Sampai sebuah tangan membuatnya berhenti. Adegan masih terus berlanjut. Di sebuah paviliun beratap rendah. Dengan aquarium bulat di atas meja. Yang dipenuhi mawar merah, mengapung di atas air....

GERAKAN ANTI KEBODOHAN (Catatan Kecil 20 Mei 2012 Untuk Anak Muda Bangsa Ini)

Jika kita menuliskan "Gerakan Anti Kebodohan" pada search engine via internet, hasil pencarian yang muncul sebagian besar merujuk pada sebuah gerakan mahasiswa di ITB. Ya Gerakan Anti Kebodohan dicetuskan oleh Dewan Mahasiswa ITB pada tahun 1977. Gerakan mahasiswa ini tidak bisa dipisahkan dengan Gerakan Mahasiswa ITB setahun kemudian: 1978, yang menjadi bagian dari sejarah kelam gerakan mahasiswa Indonesia. Awal mula organisasi mahasiswa dibekukan. Awal mula Perguruan Tinggi kehilangan independensinya. Ketika tentara menyerbu kampus, mahasiswa ditangkap dan dipenjara karena menolak Soeharto. Gerakan Anti Kebodohan sendiri lebih banyak menyoroti persoalan-persoalan dunia pendidikan yang terjadi pada masa itu. Tingginya angka buta huruf, putus sekolah, kesejahteraan guru, dan lain sebagainya. Namun bagi saya Gerakan Anti Kebodohan adalah sebuah gerakan yang abadi. Bagi saya, Gerakan Anti Kebodohan tahun 1977 bukanlah Gerakan Anti Kebodohan yang pertama. Bagi saya Gerak...