Langsung ke konten utama

Postingan

SEBUAH PABRIK BERNAMA UJIAN NASIONAL

Pagi itu saya sangat terkejut membaca sebuah berita di dunia maya. Wawancara Wakil Menteri Pendidikan mengenai Ujian Nasional yang saya baca di sini membuat saya terpukul: "Percayalah, kalau tidak diberi ujian, yakin saya sekolah itu tidak akan menerapkan proses belajar. Coba bayangkan Indonesia tidak ada semangat untuk belajar. Untung ada UN, mereka jadi belajar." Pernyataan ini membuat saya bertanya-tanya. Bagaimana bisa seorang Wakil Menteri Pendidikan berbicara seperti ini? Apakah ini didasari pengalaman pribadi Sang Profesor? Sehingga Wamen merasa sangat pesimis dengan berlangsungnya proses belajar di sekolah? Mungkin banyak pertanyaan di masyarakat: "apa sih yang salah dengan UN?" atau "perasaan jaman dulu Ujian nggak ribut-ribut seperti ini". Sungguh pada awalnya saya juga merasa heran, apa yang salah dengan UN? toh jaman dulu ini tidak ada masalah? Pada awalnya saya pernah menyatakan: Tidak ada yang salah dengan UN dan saya mendukung ad...

DI RUMAH ITU..

Minggu siang yang mendung. Dan kali ini aku mencoba untuk berjalan mundur ke belakang. Terus berjalan mundur. Dan terus berjalan mundur, mengikuti jejak kaki yang pernah ada. Sampai aku tiba di depan sebuah rumah. Tempat di mana tirai tersingkap. Dan film itu kembali diputar ulang. Terlihat olehku rumah kecil dengan taman yang indah. Taman sentuhan seorang ibu. Ada bunga berwarna ungu di sana. Dan wangi kecubung melayang terbang dari gantungannya. Film tersendat berputar. Lalu memulai kembali gambar di seberang rumah itu. Pada trotoar di bawah pohon tanjung. Tempat yang nyaman untuk memulai percakapan, hingga pertengkaran tentang sebatang rokok. Berhenti di depan garasi, pada satu adegan di bawah hujan. Ketika jari-jari itu menghapus jejak air di jendela. Sampai sebuah tangan membuatnya berhenti. Adegan masih terus berlanjut. Di sebuah paviliun beratap rendah. Dengan aquarium bulat di atas meja. Yang dipenuhi mawar merah, mengapung di atas air....

GERAKAN ANTI KEBODOHAN (Catatan Kecil 20 Mei 2012 Untuk Anak Muda Bangsa Ini)

Jika kita menuliskan "Gerakan Anti Kebodohan" pada search engine via internet, hasil pencarian yang muncul sebagian besar merujuk pada sebuah gerakan mahasiswa di ITB. Ya Gerakan Anti Kebodohan dicetuskan oleh Dewan Mahasiswa ITB pada tahun 1977. Gerakan mahasiswa ini tidak bisa dipisahkan dengan Gerakan Mahasiswa ITB setahun kemudian: 1978, yang menjadi bagian dari sejarah kelam gerakan mahasiswa Indonesia. Awal mula organisasi mahasiswa dibekukan. Awal mula Perguruan Tinggi kehilangan independensinya. Ketika tentara menyerbu kampus, mahasiswa ditangkap dan dipenjara karena menolak Soeharto. Gerakan Anti Kebodohan sendiri lebih banyak menyoroti persoalan-persoalan dunia pendidikan yang terjadi pada masa itu. Tingginya angka buta huruf, putus sekolah, kesejahteraan guru, dan lain sebagainya. Namun bagi saya Gerakan Anti Kebodohan adalah sebuah gerakan yang abadi. Bagi saya, Gerakan Anti Kebodohan tahun 1977 bukanlah Gerakan Anti Kebodohan yang pertama. Bagi saya Gerak...

KOMODITI ITU BERNAMA AGAMA

Ya, ini Indonesia. Tempat Agama menjelma menjadi sebuah bentuk baru: komoditi. Komoditi adalah barang dagangan yang menjadi subjek kontrak berjangka yang diperdagangkan. Agama? menjadi komoditi? Benarkah? Agama sebuah sistem tatanan hidup yang suci. Sistem yang mengatur hubungan baik antara Manusia dengan Tuhan maupun antara Manusia dengan Manusia dan antara Manusia dengan alam semesta beserta lingkungannya. Namun bagaimana mungkin sistem yang demikian suci bisa menjadi sebuah komoditi? Saya teringat ketika Alm. Soeharto bersama-sama dengan keluarga besarnya menunaikan ibadah haji menjelang akhir masa jabatan lima tahunannya. Bisik-bisik yang beredar di masyarakat menyebutnya 'haji politik'. Konon katanya itu dilakukan dalam rangka memperpanjang masa kekuasaannya. Maka sepulang dari Baitullah namanya pun diperpanjang menjadi H. Mohammad Soeharto. Sering disingkat menjadi HM Soeharto. Ketika itu saya tidak mau ikut-ikutan berisik dengan isu tersebut. Saya tidak me...

SATU FRASA BERJUTA KONSEKUENSI: TANGGUNG JAWAB

Melihat kehidupan di Jakarta, di Indonesia, di negeriku ini hanya 1 frasa yang bisa mengungkapkan kegelisahannya: Tanggung jawab. Melihat anak-anak kecil mengendarai motor di jalan raya, hanya 1 frasa yang mengungkapkan kegelisahan masyarakat di sekitarnya: Tanggung jawab. Bukan soal kehebatanmu dalam mengemudikan kendaraan itu, anak-anakku. Kalian pastinya lebih hebat dalam hal itu dibandingkan aku. Tapi rasa tanggung jawab dalam berkendara di jalan raya itu yang kugelisahkan. Bagaimana bisa mengatakan tanggung jawab itu bisa kalian mengerti ketika kalian bertiga secara bersama-sama menaiki kendaraan itu? Adakah rasa tanggung jawab terhadap keselamatan pemilik jalan lainnya? Adakah rasa tanggung jawab untuk mematuhi rambu-rambu yang dibuat, yang sejatinya adalah konsekuensi ketika memegang kemudi. Ah, Nak.. Jangankan kalian yang masih belia. Bahkan kami yang berumur inipun seringkali tidak mengerti apakah itu makna tanggung jawab. Membaca berita 'menyontek massal' di med...

Ilmu Yang Merasuk Ke Dalam Hati

Ada diskusi yg menarik tadi siang dari twitterland. Saya menyimak seseorang menulis: "kalau dia seorang akademisi pasti dia akan bisa menghargai perbedaan". Hmmmm... Saya memiliki pandangan yang berbeda dengannya. Tingginya pendidikan seseorang sama sekali tidak bisa menjamin apakah orang tersebut bisa menghargai perbedaan. Saya mengetahui beberapa guru besar perguruan tinggi ternama yg luar biasa keilmuan dalam bidang yg dipegangnya (hormat saya untuk ilmu mereka yg luar biasa), tapi sayangnya sama sekali tidak bisa menerima perbedaan pendapat. Bahkan ilmuwan tersebut tdk segan untuk menggunakan kekuasaan sebagai seorang profesor terhadap mahasiswanya. Dan apakah jumlah kasus seperti ini bisa dihitung dengan jari? Coba telaah lingkungan di sekitar kita. Di Twitterland sering saya temui kenyataannya. Bagaimana pejabat publik senang adu mulut, yang bahkan topik pertengkarannya sdh out of topic keluar jauh dari persoalan, malah menyinggung2 persoalan pribadi. Tinggi pen...

Menjadi Heleconia

Musim kemarau kemarin saya sedikit kewalahan mengurus tanaman karena ART pulang kampung (ayahnya meninggal dunia). Banyak sekali pepohonan di halaman yang menderita karena tidak sempat saya siram. (Selain karena tidak tega juga banyak orang yang kesulitan mendapat air). Beberapa pohon zodia yang saya tanam berderet di depan jendela untuk mengusir nyamuk layu mendekati kering. Pada awalnya dedaunanya tertunduk layu. Semakin lama mulai mengering. Sebagian sudah mulai berwarna kecoklatan. Tapi ketika diamati, pohon zodia yg tumbuh di dekat pohon heliconia (pisang-pisangan) sama sekali tidak kekeringan. Daun-daunnya tetap segar mengkilat. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kekurangan air. Meskipun sudah berhari-hari tidak pernah kusiram, dan berhari-hari pula hujan tak kunjung turun. Tanah sudah mulai merekah pecah-pecah. Rerumputan di halaman pun berganti warna menjadi kecoklatan. Tetapi sama dengan zodia, rerumputan yang tumbuh di sekitar pohon heleconia tetap hijau segar. Tak ada satupun...