Langsung ke konten utama

Postingan

KAKEK SUPER

Sudah 2 bulan jalan menuju komplek perumahan tetangga itu ditutup. Ada pembangunan pintu gerbang katanya. Aku termasuk salah seorang yang merasa kesulitan dengan penutupan jalan tersebut. Komplek perumahan itu letaknya tidak jauh dari komplek rumahku. Sekitar 500 m. Jika aku dari rumah menuju Bintaro jalan pintas terdekat adalah melewati komplek itu. Terutama setelah jalan pintas melewati STAN ditutup. Kini dengan terpaksa aku harus melewati jalan yang sedikit memutar dan.... berlubang-lubang. Sudah 2 bulan jalan menuju komplek perumahan tetangga ditutup, berarti sudah 2 bulan juga aku tidak melihat seorang kakek-kakek yang biasa berjualan pisang di komplek itu. Pertama kali melihat Sang Kakek sekitar 4 tahun yang lalu. Sebelum Papih sakit. Seminggu sekali Papih datang ke Jakarta dengan travel. Aku yang biasa menjemputnya di Bintaro. Ketika melewati komplek itulah kami melihat Sang Kakek. Sudah sangat tua, ketika itu dia berumur 80 tahun. Bungkuk dan Keriput. Langkahnya kecil dan la...

Sekecil Itukah Tuhan Bagimu?

Sekecil itukah Tuhan bagimu? Kau katakan Tuhan ada di mana-mana Namun kau pikir Tuhan bisa dimonopoli hanya untuk dirimu saja. Sekecil itukah Tuhan bagimu? Kau katakan Tuhan Maha Penyayang Namun kau pikir Tuhan mendukungmu untuk menyiksa saudara-saudaramu Sekecil itukah Tuhan bagimu? Kau katakan Tuhan Maha Bijaksana Namun kau katakan pemikiranmu adalah ilmuNya maka kaulah yang paling benar dari semuanya. Sekecil itukah Tuhan bagimu? Kau katakan Tuhan Maha Pencipta Namun kau pikir Ia ingin berkuasa di bumi ini maka kau pikir mampu menyediakan singgasana untukNya Ah.. Wahai manusia, dirimu hanya makhluk yang hanya bisa berpikir sebagai makhluk yang hanya bisa memandang sebagai makhluk yang hanya bisa merasa sebagai makhluk Mengapa tiba-tiba dirimu merasa bisa mewakiliNya sebagai Tuhan? Pondok Aren, 14 Januari 2011

Belajar Tentang Kehidupan dari Migrasi Hewan

Sore itu setelah membeli beberapa buah buku cerita anak-anak aku duduk di teras Rumah Buku. Memandang ke langit yang lumayan cerah sambil menunggu kakakku yang masih asik memilih buku. Sekawanan burung terbang bersama. Entah siapa yang menjadi pemimpin di antara mereka. Tapi seolah ada komando, mereka bisa berbelok bersama-sama dalam sebuah barisan yang tetap. Dengan sudut kemiringan yang sama, dengan waktu yang sama,dengan kecepatan terbang yang sama, rapi bagaikan para taruna militer ketika baris berbaris. Luar biasa! Cerita yang hampir sama aku dapat di National Geographic edisi bulan ini. Ketika ratusan ribu burung-burung bermigrasi. Ratusan ribu! Bayangkan! Ya.. ketika burung-burung itu akan bermigrasi, mereka melakukan beberapa persiapan untuk menempuh jarak ribuan, bahkan puluhan ribu kilometer. Persiapannya adalah makan yang banyak untuk mengumpulkan energi, lalu mereka berkumpul bersama-sama. Ya... mereka berkumpul bersama-sama, melakukannya bersama-sama. Luar biasa bukan? ...

Mbah Maridjan dan Sebuah Kearifan

Peti mati bertabur harum melati itu perlahan bergerak dikawal oleh para Abdi Dalem yang sangat berduka. Rakyat menyemut di kedua sisi jalan, ikut berduka dengan kepergian Sang Raja, di sekitar tahun 1988. Aku selalu kagum dengan pengabdian para Abdi Dalem. Mengabdi dan menghormati Sang Raja. Orang-orang yang sebagian tidak sekolah seperti halnya Mbah Maridjan ini bagiku bagaikan dongeng-dongeng kesetiaan para shogun kepada tuannya di Jepang sana. Sungguh, kesetiaan ini, kesetiaan Abdi Dalem sangat langka di jaman seperti ini, dan mungkin hanya dimiliki orang-orang tua jaman dahulu (jadi teringat alm. pengasuhku yang sangat setia mengasuh ibuku, paman-bibiku, aku sampai adikku, tanpa pernah mengeluh, menganggap anak2 yg diasuhnya seperti anaknya sendiri) Aku memang bukan Jawa, aku Sunda. Hanya sedikit yang aku pahami dari falsafah Jawa. Namun secara umum falsafah yang dianut dalam budaya asli Indonesia hampir sama. Pada dasarnya adat istiadat asli Indonesia mengambil simbol hubungan a...

JANGAN MAU JADI RAKYAT DI NEGERI INI!

Ya.. jangan mau jadi rakyat di negeri ini. Kalau ada bencana rakyat selalu disalahkan. Yang katanya kelakuannya bejat dan koruplah.. Yang katanya suka buang sampah sembaranganlah.. Yang katanya ngeyel karena ga mau disuruh ngungsilah.. Yang katanya salah sendiri takut ombak kok tinggal di pinggir pantailah.. Yang suka proteslah.. Jangan mau jadi rakyat di negeri ini!! Cuman bisa jadi penonton mall-mall mewah yang dibangun, yang mengambil banyak ruang hijau kota. Cuman bisa membayangkan jadi orang kaya seperti di tv, punya apartemen mewah yang katanya bebas banjir dan menyebabkan intrusi air laut. Cuman jadi penonton mobil-mobil mewah yang melaju dikawal provost ketika berdesak2an di antara bau keringat angkutan umum. Cuman menikmati kesenangan sesaat ketika pemilu saja. Ya.. jangan mau jadi rakyat di negeri ini!! Sekali lagi, Kalian, jangan hanya mau jadi rakyat di negeri ini! Karena sebenarnya kalian adalah PEMILIK negeri ini! Bapak-bapak kita dahulu menyerahkan jiwa raganya, dan...

ZUHUD, SEBUAH KEBUTUHAN DALAM LEADERSHIP NASIONAL

Ketika dunia begitu gemerlap dan melenakan mayoritas penghuni negeri ini dari akar rumput hingga pucuk kekuasaan, maka pada akhirnya mata kepala kita pun melihat betapa yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar, kekuasaan adalah uang dan uang adalah kekuasaan. Dunia menjadi pusat, menjadi centre dalam pikiran manusia. Yang paling berbahaya adalah ketika pucuk-pucuk pimpinan negeri juga menjadikan dunia sebagai ambisi dan tujuan. Perih hati rakyat menyaksikannya. Dan itu adalah bencana bagi seorang pemimpin. Ya.. bencana bagi seorang pemimpin bukanlah ketika ia kehilangan kekuasaannya, bukanlah ketika ia kehilangan hartanya, tapi ketika rakyat merasakan perih yang amat sangat melihat perilaku Sang Pemimpin, sehingga rakyatnya tidak lagi memberikan ridha mereka kepada Sang Pemimpin. Wah.. kalau sudah seperti itu, seharusnyalah setiap melangkah Sang Pemimpin akan merasa berjalan di atas bara api. Begitu berbahayanya ambisi dunia bagi seorang pemimpin sehingga Ali bin Abi Tha...

CERMIN RETAK

Manusia... oh.. manusia.... Makhluk sempurna yang diciptakan Tuhan. Dikaruniai kebebasan untuk memilih, baik ataupun buruk. Dikaruniai akal dan hati. Membangun peradaban dan membuat inovasi. Maka peradaban manusia akan selalu mengalami kemajuan dari detik ke detik, hari ke hari, tahun ke tahun, abad ke abad. Manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ketidaksempurnaan manusia adalah sebuah kesempurnaan. Maksudnya?? Bahwa Tuhan menganugerahkan peradaban itu kepada manusia dari sebuah ketidaksempurnaan manusia itu sendiri. Apa ketidaksempurnaan itu? Mata!! Loh kok?? Ya mata manusia. Indera yang membuat manusia mampu memandang dunia. Dari pandangannya terhadap dunia itu kemudian manusia mencerna, mengakumulasikan ke dalam otaknya, lalu mulai berkreasi, mulai mencipta. Dengan mata, manusia melihat, memandang dan mengamati dunia dan seisinya. Namun ada satu yang tidak bisa dilakukan oleh mata. Ada satu, dan hanya satu: melihat wajah pemiliknya sendiri. Itulah keunikan ciptaan Tuhan...