Langsung ke konten utama

Postingan

AIR MENGALIR & VIDEO 'MUSEUM'

Ya.. ya.. ya.. Novi Ratnanoviasari saat ini sedang kurang kerjaan, menulis tentang video ‘museum’ artis yang menghebohkan itu. Hahahaaa... ya, aku sebut video ‘museum’ karena orang yang ‘memuseumkannya’ menganggap kejadian itu adalah kejadian langka sehingga dia berpikir perlu untuk ‘memuseumkannya’ hihihihiiii.. Baiklah, dimulai dari cerita tentang sebuah sungai yang memenuhi kebutuhan air di suatu desa. Karena sungai tersebut sangat dibutuhkan maka Sang Kepala Desa menugaskan seorang kuncen untuk mengawasi dan menjaga aliran tersebut. Kuncen yang pandai dan amanah ini sangat menyadari tugasnya. Ia mendirikan sebuah pos di hulu sungai. Setiap hari ia selalu berjaga dan mengamati sungai dari pos tersebut. Namun ia juga selalu menyusuri sungai itu dari hulu menuju hilir untuk memastikan bahwa air itu selalu bisa digunakan penduduk desa dengan aman. Pada suatu pagi, seperti biasa Sang Kuncen berjalan menyusuri hulu sungai. Hal yang selalu ia lakukan adalah menyiduk air dengan ...

MERDEKA

Teringat satu waktu, ketika mengikuti Training for Trainer (TFT) dulu. Topik materinya adalah tentang ‘Kemerdekaan’. Seorang dosen mantan aktivis dari jurusan seberang dipanggil untuk memberikan materi. Sesi tersebut dibuka dengan pertanyaan dari pembicara: “Ada yang tahu Merdeka itu artinya apa?” Peserta TFT ramai berbicara. Dan aku pun ikut mengangkat tangan. Sang pembicara menunjukku. “Merdeka adalah bebas dari rasa takut” jawabku. “Takut terhadap apa? Kalau saya takut terjepit meja, apakah berarti saya tidak merdeka?” selidik Sang Pembicara. “Takut terhadap segala sesuatunya, kecuali takut terhadap Tuhan” kataku lagi. Tiba-tiba Sang Pembicara berujar sesuatu yang jauh dari materi pembicaraan: “Ah...” katanya “Kita di sini jangan berbicara tentang Tuhan deh, tidak semua orang percaya tentang Tuhan. Dosen2 ada juga yang tidak percaya terhadap Tuhan.” Mendengar jawaban Sang Pembicara yang juga dosen itu, aku diam tidak berkata apapun. Sang Pembicara pun berlanjut dengan materi dan d...

Tanggapan untuk Notes Gus Hafidh "'Nabi dan Wahyu' Pancasila"

Terima kasih Gus karena saya sudah ditag dalam tulisan Gus Hafidh. Mohon maaf karena baru sekarang saya bisa menanggapi, karena tanggapannya agak panjang jadi saya berpikir untuk menanggapi lewat notes. Sedangkan beberapa hari ini agak sulit bagi saya terbangun di ujung malam, waktu dimana saya biasa menulis. Menanggapi tulisan Gus Hafidh, saya melihat aura optimisme, aura semangat. Dan saya juga meyakini bahwa GH selalu berpegangan pada usaha dan kerja keras manusia di balik penyerahan diri kepada Allah. Ada 3 pandangan dalam masyarakat yang selama ini saya lihat mengenai hakekat kehidupan manusia di dunia ini dan hubungannya dengan Tuhan YME. Yang pertama pandangan bahwa manusia itu murni ada dan berkegiatan atas usaha manusia itu sendiri tanpa campur tangan Tuhan YME. Pandangan ini tentunya berdekatan dan banyak dipengaruhi dengan paham materialisme. Yang kedua manusia berkegiatan, berbuat, berusaha itu semua digerakkan oleh Tuhan YME. Yang ketiga pandangan bahwa Tuhan mencampuri...

Antara APA dan SIAPA

Setelah menulis notes “Memberontaklah”, komen2 dari Pakde Arif menginspirasiku untuk menulis notes lagi. Masih berkaitan dengan pemberontakan. Mungkin ada sedikit kekhawatiran dari Pakde yang satu ini mengenai istilah 'pemberontakan' yang bisa jadi mengejutkan sebagian orang. Ya... memang kata ini bisa berkonotasi lain. Mungkin konotasi ini muncul karena label pemberontakan pada beberapa peristiwa sejarah seperti “pemberontakan G 30 S PKI” atau “pemberontakan DI TII” dan lain sebagainya. Sebagian lupa bahwa negeri ini berdiri juga karena pemberontakan, ya.. pemberontakan terhadap penjajahan. Dan orang-orang yang memberontak itulah yang kini bisa tidur di alam kubur dengan gelar pahlawan. Karena perjalanan historis di masa lalu tersebut, tentu saja pemberontakan itu memiliki konotasi negatif bagi sebagian orang. Apalagi kalau seandainya kita mengatakan bahwa pemberontakan adalah jiwa dalam Islam. Pasti banyak yang tidak terima dengan kalimat ini. Dan itulah yang membuat tulisan ...

MEMBERONTAKLAH!!

Siang beberapa waktu yang lalu, Kakak dan Abangku membaca email dari sebuah milis sambil sarapan di teras belakang. Aku yang sedang menyulam sedikit2 mencuri dengar percakapan itu. Menarik. Karena kalimat2 dalam email tersebut terdengar sedikit kasar. Ya, email itu ditujukan kepada Abangku itu. Aku senyum2 mendengarnya. Lalu bertanya, “Email dari siapa sih itu??” Dia kemudian menjelaskan kronologis yang panjang dari email itu dengan singkat. Heyyy... heyyyy... heyyyy... hahahaaaa.... memanglah, opini Abangku itu pasti mengundang orang untuk berdebat. Panjang perdebatannya. Tapi yang menarik adalah ketika Dia berkata: “Islam itu pada dasarnya tidak berjiwa kepatuhan. Tapi jiwanya adalah pemberontakan. Kalimat syahadat Laa ilaha ilallah tiada Tuhan selain Allah itu jiwanya pemberontakan!” Yessss!! Aku setuju setuju setuju setuju setuju banget! Sudah aku baca bukunya Ali Syariati yang berjudul ‘Islam Agama Protes’ itu tapi aku baru menemukan korelasinya dengan kalimat Tauhid itu adalah...

Jadi Urang Indonesia Kudu Kreatip!

Apa bedanya manusia dengan jangkrik? Manusia bisa menjadi jangkrik, tetapi jangkrik tidak bisa menjadi manusia. Garing?? Tidak.. saya sedang serius. Sangat serius (kalau Anda melihat saya saat ini, Anda akan melihat alis saya berkerut pertanda serius meskipun mulut saya tetap mengunyah cireng). Saya serius mengatakan bahwa manusia bisa menjadi jangkrik, tetapi jangkrik tidak bisa menjadi manusia. Ya... kalau mau, manusia bisa menjadi jangkrik. Jangkrik adalah makhluk tanpa kreatifitas. Dari sejuta tahun yang lalu (kalau seandainya jangkrik waktu itu sudah ada) sampai saat ini rumah jangkrik tidak berubah. Hanya sebuah lubang atau celah di dalam tanah, di antara semak-semak. Karena kreatifitasnya tidak ada, maka jangkrik tidak bisa mengakali seandainya rumahnya kebanjiran, tidak bisa membuat rumah yang indah dengan interior yang nyaman. Bagaimana dengan manusia? Tentu saja manusia dengan kreatifitas memiliki jalan kemajuannya dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, bahkan dari abad ke...

Ketika Langit, Bumi dan Gunung-gunung Tak Sanggup

Tuhan, Sungguh amanatMu telah Kau tawarkan kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Dan ketika mereka tak ada yang sanggup dengannya, kami melangkah menerima amanatMu, Namun saat ini kami berdiri di sini, berpijak di atas bumi Untuk merusak, menumpahkan darah, menindas fakir miskin, mengusir penduduk dari rumahnya, mengambil hartanya. Atas namaMu!! selalu kami ucapkan Bukan.. bukan.. sesungguhnya bukan. Sesungguhnya, Atas nama Qarun!! Atas nama Firaun!! Atas nama Balaam!! ya, sesungguhnya atas nama.. harta!! seperti Qarun yang membunuh atas nama harta kekuasaan!! seperti Firaun yang membunuh atas nama kekuasaan agama!! seperti Balaam yang membunuh atas nama agama. Dan bukan atas namaMu. Tuhan, Bagaimana kami dulu bisa menerima amanatmu sedangkan saat ini kami di sini berdiri, dengan merusak, menumpahkan darah, menindas fakir miskin, mengusir penduduk dari rumahnya, mengambil hartanya Padahal kami berdiri di atas bumi, di lereng gunung, dan di bawah langit yang t...