Langsung ke konten utama

Postingan

Aku Yang Bermasalah, Laba-Laba Yang Kumatikan... Bagaimana Denganmu?

Setiap orang mungkin memiliki phobia terhadap sesuatu. Entah itu binatang, tumbuhan, ataupun sebuah benda mati. Dulu waktu kelas 5 SD, sekolah mengadakan kemping pramuka. Di hari kedua Ibuku datang membawa pisang. Tiba-tiba kawanku yang phobia terhadap pisang langsung lari begitu Ibuku memberikan pisang kepadanya. Aku waktu itu bingung dan bertanya-tanya: "Kok ada ya yang takut terhadap pisang?" Aku sendiri punya phobia terhadap serangga seperti laba-laba dan sejenisnya. Ya yang terutama laba-laba besar. Meskipun orang-orang tua berkata bahwa kita tidak boleh membunuh laba-laba, tetapi tetap saja... ada serangga itu di dekatku membuatku merasa tidak nyaman.. kalau berada di kamar pasti aku tidak bisa tidur. Maka hal kejam selanjutnya yang kulakukan adalah mengambil obat nyamuk semprot lalu membunuh laba-laba itu. Aku tidak peduli apakah si laba-laba itu masih bayi atau sudah dewasa.... laba-laba tetap laba-laba. Kaki-kakinya yang berjumlah 8 serta berwarna hitam itu sel...

Manusia Luar Biasa Yang Masih Bersedia Menyalakan Lilin Bagi Manusia-manusia yang Terbuang

Pada beberapa titik saya sering merasa kagum terhadap orang lain berdasarkan hal-hal yang mungkin remeh temeh bagi sebagian orang. Misalnya, ketika saya shalat di musholla sebuah mall saya begitu mengagumi orang-orang yang langsung menuju mushola untuk menjalankan shalat ketika adzan berkumandang di tengah-tengah kemewahan mall yang luar biasa luasnya. Karena ketika kita berhadapan dengan gemerlap materi yang disodorkan oleh peradaban mall, ternyata cukup banyak manusia-manusia yang mampu langsung split dari gemerlap duniawi ke gemerlap akhirat. Dan kekaguman saya bertambah ketika manusia-manusia yang saya lihat itu tidak menggunakan atribut yang digunakan oleh muslim 'taat' pada umumnya. Yang wanita cukup banyak yang tidak berjilbab, yang pria juga sebagian besar tak ada tanda hitam di keningnya. Atau... kekaguman saya pada seorang guru SD yang bisa tetap sabar menghadapi kenakalan anak-anak kecil yang harus dihadapinya sehari-hari. Sampai kadang saya merasa khawatir jik...

"Jika Anakmu Sering Berbohong, Mungkin Itu Karena Kau Sering Menghukumnya" ??

"Jika Anakmu Sering Berbohong, Mungkin Itu Karena Kau Sering Menghukumnya" Benar? Ya benar. Lalu? Apa itu berarti kita tidak boleh sering-sering menghukumnya kalau ia berbuat kesalahan? Sama sekali tidak. Jika anak berbuat salah dan melanggar peraturan yang sudah disepakati, maka dia harus menerima resikonya: dihukum. Kalau kadang-kadang dihukum dan kadang-kadang dibebaskan... lalu di mana konsistensinya? Kalau tidak konsisten, bagaimana peraturan itu akan ditegakkan? Tapi nanti untuk menghindari hukuman dia akan berbohong? Jalan keluarnya bukan dengan membebaskan dia dari hukuman. Tetapi berikanlah kesadaran baginya bahwa berbohong agar tidak dihukum atau agar tidak dimarahi itu adalah sebuah tindakan yang sangat pengecut. Selain tindakan pengecut, orang lain juga akan sulit untuk percaya lagi dengan perkataannya. "Kalau kamu berbuat salah, kamu harus berani menerima resikonya. Maka, sebelum berbuat salah... pikirkan dulu resikonya. Kalau kamu siap menerima ak...

How would it be if you were standing in my shoes?

“ How would it be if you were standing in my shoes? Can't you see that it's impossible to choose?” Petikan lirik di atas adalah penggalan lagu Too Much Love Will Kill You-nya Queen. Pernah juga dinyanyikan solo oleh Brian May. Lagu ini bagi saya merupakan penutup yang teramat sangat manis atas debut Freddie Mercury semasa hidupnya. Nah... akhir-akhir ini kalimat dalam petikan lagu itu selalu menempel di kepalaku. How would it be if you were standing in my shoes? Sebuah kalimat yang rasa-rasanya telah abai dan hilang dalam benak kita sekarang. Dalam benak masyarakat kita yang katanya adalah bagian dari sebuah bangsa yang besar, yang bhineka, yang heterogen (jikasanya kata plural sudah menjadi alergen bagi sebagian masyarakat kita). Dan sekarang masyarakat kita tengah gemar-gemarnya men-judge, menunjuk hidung kepada orang lain. Bagaimana jika kita berdiri di atas sepatu orang lain? Bagaimana jika kita memandang sesuatu dengan kacamata orang lain? Pernahkah kit...

Tentang Si Mata Satu... eh... Si Mata Hati

Sering mendengar tentang istilah mata hati. Apaan sii tuuh? Apaaann yaaaa...? Kalau didefinisiin kesannya teoritis banget yak.. :D Yang jelas, mata hati ini seringkali membantu menjadi bodyguard bagi kita dalam membaca persoalan di sekeliling kita, dalam mengambil langkah dan keputusan. Bagiku mata hati itu seperti pisau. Bisa tajam, bisa tumpul, bisa membantu kita dalam melangkah, namun bisa juga melukai kita. Mata hati yang tajam, seringkali membantu dlm mengambil keputusan dan langkah yg tepat meskipun kita tengah berada dalam kebimbangan dan kegalauan. Semakin tajam mata hati, semakin mudah kita merasakan mana pilihan dan langkah yg tepat & baik dalam hidup. Semakin tepat juga analisa2 kita dalam menghadapi satu persoalan. Enaknya org2 yg tajam mata hatinya, mereka lebih tenang, lebih woles.. tidak mudah galau, tidak mudah resah dan gelisah bagai semut merah yang berbaris di dinding mena... (stop!! Kembali ke laptop!!!!) *lanjut* Tapi kalau mata hati sudah tumpul, ...

Pekerjaan Paling Hina Di Dunia

Siang yang panas. Aku dan Maula mengambil tempat duduk plastik di atas trotoar dan mulai memesan makanan. Satu mangkok mie ayam untukku dan satu piring siomay dengan saus kacang di pinggir piring untuk Maula. Tentunya 2 teh botol dingin sebagai penyeimbang udara dan makanan yang panas. Makanan belum datang, seorang ibu berpakaian lusuh dan menggendong bayi yang ditutupi kain menghampiri kami sambil menengadahkan tangannya. Maula berbisik: "Bun... kasih Bun, kasian." "Adek aja yang kasih." jawabku. Maula mengambil uang 2000 rupiah yang kupegang dan memberikannya pada Ibu itu. Dia lalu mengamati si Ibu sampai menghilang dari pandangan. Piring siomay Maula datang. Sebelum memasukkan suapan pertama ke mulutnya Maula bertanya: "Bun, mengemis itu pekerjaan yang hina ya?" "Maksud Adek mengemis kayak Ibu itu?" Maula mengangguk. "Tergantung, Dek. Kalau dia sebenarnya mampu bekerja tapi lebih senang  mengemis karena malas ya itu tidak baik....

PISA dan Logika Masyarakat Indonesia

Test PISA (Programme International Student Assessment) adalah sebuah test internasional yang diadakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengukur kemampuan matematika, sains dan literasi anak-anak di sebuah negara. Soal-soal dalam test ini pada dasarnya adalah soal-soal yang sederhana.  Jika pemecahan soal dirumuskan dalam sebuah kalimat matematika, maka rumusan kalimat matematikanya sangat sederhana.  Untuk level awal, rumusan matematika tersebut bisa seperti penjumlahan dan pengurangan sederhana serta perkalian dan pembagian sederhana namun itu semua disajikan dalam sebuah soal cerita yang kontekstual. Banyak pihak yang mengkritik metode penilaian PISA. Namun kita juga tidak bisa mengabaikan sebuah penilaian yang bermaksud untuk memberikan masukan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan sistem pendidikan.  Indonesia selama ini selalu menduduki peringkat akhir dalam pemeringkatan PISA. Tahun 2012 Indonesia berada di...