Langsung ke konten utama

Postingan

Tentang Si Mata Satu... eh... Si Mata Hati

Sering mendengar tentang istilah mata hati. Apaan sii tuuh? Apaaann yaaaa...? Kalau didefinisiin kesannya teoritis banget yak.. :D Yang jelas, mata hati ini seringkali membantu menjadi bodyguard bagi kita dalam membaca persoalan di sekeliling kita, dalam mengambil langkah dan keputusan. Bagiku mata hati itu seperti pisau. Bisa tajam, bisa tumpul, bisa membantu kita dalam melangkah, namun bisa juga melukai kita. Mata hati yang tajam, seringkali membantu dlm mengambil keputusan dan langkah yg tepat meskipun kita tengah berada dalam kebimbangan dan kegalauan. Semakin tajam mata hati, semakin mudah kita merasakan mana pilihan dan langkah yg tepat & baik dalam hidup. Semakin tepat juga analisa2 kita dalam menghadapi satu persoalan. Enaknya org2 yg tajam mata hatinya, mereka lebih tenang, lebih woles.. tidak mudah galau, tidak mudah resah dan gelisah bagai semut merah yang berbaris di dinding mena... (stop!! Kembali ke laptop!!!!) *lanjut* Tapi kalau mata hati sudah tumpul, ...

Pekerjaan Paling Hina Di Dunia

Siang yang panas. Aku dan Maula mengambil tempat duduk plastik di atas trotoar dan mulai memesan makanan. Satu mangkok mie ayam untukku dan satu piring siomay dengan saus kacang di pinggir piring untuk Maula. Tentunya 2 teh botol dingin sebagai penyeimbang udara dan makanan yang panas. Makanan belum datang, seorang ibu berpakaian lusuh dan menggendong bayi yang ditutupi kain menghampiri kami sambil menengadahkan tangannya. Maula berbisik: "Bun... kasih Bun, kasian." "Adek aja yang kasih." jawabku. Maula mengambil uang 2000 rupiah yang kupegang dan memberikannya pada Ibu itu. Dia lalu mengamati si Ibu sampai menghilang dari pandangan. Piring siomay Maula datang. Sebelum memasukkan suapan pertama ke mulutnya Maula bertanya: "Bun, mengemis itu pekerjaan yang hina ya?" "Maksud Adek mengemis kayak Ibu itu?" Maula mengangguk. "Tergantung, Dek. Kalau dia sebenarnya mampu bekerja tapi lebih senang  mengemis karena malas ya itu tidak baik....

PISA dan Logika Masyarakat Indonesia

Test PISA (Programme International Student Assessment) adalah sebuah test internasional yang diadakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengukur kemampuan matematika, sains dan literasi anak-anak di sebuah negara. Soal-soal dalam test ini pada dasarnya adalah soal-soal yang sederhana.  Jika pemecahan soal dirumuskan dalam sebuah kalimat matematika, maka rumusan kalimat matematikanya sangat sederhana.  Untuk level awal, rumusan matematika tersebut bisa seperti penjumlahan dan pengurangan sederhana serta perkalian dan pembagian sederhana namun itu semua disajikan dalam sebuah soal cerita yang kontekstual. Banyak pihak yang mengkritik metode penilaian PISA. Namun kita juga tidak bisa mengabaikan sebuah penilaian yang bermaksud untuk memberikan masukan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan sistem pendidikan.  Indonesia selama ini selalu menduduki peringkat akhir dalam pemeringkatan PISA. Tahun 2012 Indonesia berada di...

Aku Berlindung Kepada Allah dari Godaan Syaithan Yang Terkutuk

Allah Maha Mengetahui, ilmunya begitu luas namun anugerahnya tak terbatas. Ia memberikan petunjuk kepada manusia agar manusia selalu berpikir, berpikir dan berpikir. "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shaad, 38: 29) Ayat-ayat Allah tersebar di seluruh jagad raya. Semua petunjuk itu adalah anugerah agar kita manusia berpikir dan merenung lalu mengambil pelajaran darinya. Sedikit mengambil pelajaran dari alam raya ini, mari kita belajar mengenai kehidupan dari bagaimana pergantian siang dan malam. 10 September 2009, saya pernah menulis puisi ini (Untuk Anak-anakku): Malam tak pernah datang tiba-tiba Senja menjadi perantaranya Langit tak pernah gelap tiba-tiba Sandyakala menjadi isyaratnya Puisi itu saya persembahkan untuk anak-anakku agar mereka bisa melihat bahwa Allah merancang sistem yang berjalan di alam ...

Ayah, Bunda.. Ajari Kami Untuk Bisa Memutuskan Sendiri

“Bunda, rumput itu emangnya enak?” “Wah.. Bunda nggak tau. Kenapa Maula nanya begitu? Pingin makan rumput?” “Wihihihiii… bukan gitu, kata b* ***u kalau nggak sekolah nanti kayak orang P***a yang cuman makan rumput” Huwaaaaaaa…. Jadi pingin gigit tiang listrik dengernya… anak gue diracun oraaaaang!! huhuhuuuu…. Inhale…. Exhale… Inhale… Exhale.. (mendinginkan kepala yang tiba-tiba berasap) “Dek, bilang ke b* ***u ya.. bunda punya banyak teman orang P***a. Dan mereka semua kuliah di ITB mereka hebat-hebat. Memang sekolah itu penting, Dek. Tapi bukan berarti semua orang P***a tidak sekolah. Banyak sekali yang pintar-pintar dan sekolah di sekolah-sekolah hebat.” “Jadi mereka tidak makan rumput?”   “Kalaupun ada di antara mereka yang tidak sekolah, tapi mereka yang tidak sekolah juga tidak makan rumput. Mereka makan seperti kita. Makan daging dan makan sayur. Dek… kucing juga nggak sekolah, tapi makannya daging kan? Bukan rumput?” “Hahahhahaaa… iy...

Sesungguhnya Anak-anak Kita Adalah Guru Bagi Kita

Hari ini, 17 April 2014, si Bungsu mengikuti Lomba Baca Puisi dalam rangka Peringatan Hari Kartini di TK-nya. Beberapa minggu sebelumnya dia merayu saya untuk tidak masuk sekolah di hari ini. "Maula nggak bisa apal-apal" begitu keluhnya. Dan... aku pun terus meyakinkan dia, bahwa: "Kalau Maula berusaha pasti bisa kok. Kan Maula sendiri yang bilang kalau Bunda ga bisa Bunda harus bilang: pasti bisa! pasti bisa! pasti bisa! nanti kalau bilang begitu pasti beneran bisa. Nah Maula harus gitu juga dong. Ayok.. kita sama-sama ngapalin." Kata-kata di dalam puisi itu memang cukup sulit untuk anak TK seusianya, bahkan mungkin Maula tidak mengerti arti dari kata-kata tersebut, seperti: "kaum hawa", "menyemangati", "nusantara", "berperan serta", "pembangunan" dan "bangsa". Agar mudah menghapal, aku harus menjelaskan secara sederhana arti kata-kata itu. Karena akan lebih sulit menghapal kalau ia tid...

Halloooo Indaah :)

Hallo Indah dan semua kawan yang bertanya tentang ulasan saya mengenai Data KPK Watch di Kompasiana ( http://politik.kompasiana.com/2014/04/03/analisa-sederhana-kejanggalan-data-kpkwatch-644252.html ). Sebetulnya saya merasa sangat tidak perlu membuat tulisan ini lagi. Karena jawaban atas tulisan Indah sudah sangat jelas di ulasan saya tersebut. Tapi mungkin Indah dan beberapa kawan yang lain belum bisa memahami kalau saya tidak menerangkannya secara grafis serta dengan contoh-contoh sederhana lainnya. Juga karena saran beberapa kawan ya pada akhirnya saya buat juga. Karena saya bukan anggota Kompasiana, maka saya tidak bisa memberikan komentar di tulisan Indah tsb. Mohon maaf kalau saya menjelaskannya dengan soal cerita matematika sederhana kelas 6 SD. Tidak bermaksud merendahkan dan menyamakan taraf pemahaman dengan anak kelas 6 SD, tapi memang ilmu statistik yang saya gunakan bukan ilmu statistik yang rumit, hanya ilmu statistik sederhana dan perbandingan sederhana yang ada di pel...