Langsung ke konten utama

Postingan

Antara APA dan SIAPA

Setelah menulis notes “Memberontaklah”, komen2 dari Pakde Arif menginspirasiku untuk menulis notes lagi. Masih berkaitan dengan pemberontakan. Mungkin ada sedikit kekhawatiran dari Pakde yang satu ini mengenai istilah 'pemberontakan' yang bisa jadi mengejutkan sebagian orang. Ya... memang kata ini bisa berkonotasi lain. Mungkin konotasi ini muncul karena label pemberontakan pada beberapa peristiwa sejarah seperti “pemberontakan G 30 S PKI” atau “pemberontakan DI TII” dan lain sebagainya. Sebagian lupa bahwa negeri ini berdiri juga karena pemberontakan, ya.. pemberontakan terhadap penjajahan. Dan orang-orang yang memberontak itulah yang kini bisa tidur di alam kubur dengan gelar pahlawan. Karena perjalanan historis di masa lalu tersebut, tentu saja pemberontakan itu memiliki konotasi negatif bagi sebagian orang. Apalagi kalau seandainya kita mengatakan bahwa pemberontakan adalah jiwa dalam Islam. Pasti banyak yang tidak terima dengan kalimat ini. Dan itulah yang membuat tulisan ...

MEMBERONTAKLAH!!

Siang beberapa waktu yang lalu, Kakak dan Abangku membaca email dari sebuah milis sambil sarapan di teras belakang. Aku yang sedang menyulam sedikit2 mencuri dengar percakapan itu. Menarik. Karena kalimat2 dalam email tersebut terdengar sedikit kasar. Ya, email itu ditujukan kepada Abangku itu. Aku senyum2 mendengarnya. Lalu bertanya, “Email dari siapa sih itu??” Dia kemudian menjelaskan kronologis yang panjang dari email itu dengan singkat. Heyyy... heyyyy... heyyyy... hahahaaaa.... memanglah, opini Abangku itu pasti mengundang orang untuk berdebat. Panjang perdebatannya. Tapi yang menarik adalah ketika Dia berkata: “Islam itu pada dasarnya tidak berjiwa kepatuhan. Tapi jiwanya adalah pemberontakan. Kalimat syahadat Laa ilaha ilallah tiada Tuhan selain Allah itu jiwanya pemberontakan!” Yessss!! Aku setuju setuju setuju setuju setuju banget! Sudah aku baca bukunya Ali Syariati yang berjudul ‘Islam Agama Protes’ itu tapi aku baru menemukan korelasinya dengan kalimat Tauhid itu adalah...

Jadi Urang Indonesia Kudu Kreatip!

Apa bedanya manusia dengan jangkrik? Manusia bisa menjadi jangkrik, tetapi jangkrik tidak bisa menjadi manusia. Garing?? Tidak.. saya sedang serius. Sangat serius (kalau Anda melihat saya saat ini, Anda akan melihat alis saya berkerut pertanda serius meskipun mulut saya tetap mengunyah cireng). Saya serius mengatakan bahwa manusia bisa menjadi jangkrik, tetapi jangkrik tidak bisa menjadi manusia. Ya... kalau mau, manusia bisa menjadi jangkrik. Jangkrik adalah makhluk tanpa kreatifitas. Dari sejuta tahun yang lalu (kalau seandainya jangkrik waktu itu sudah ada) sampai saat ini rumah jangkrik tidak berubah. Hanya sebuah lubang atau celah di dalam tanah, di antara semak-semak. Karena kreatifitasnya tidak ada, maka jangkrik tidak bisa mengakali seandainya rumahnya kebanjiran, tidak bisa membuat rumah yang indah dengan interior yang nyaman. Bagaimana dengan manusia? Tentu saja manusia dengan kreatifitas memiliki jalan kemajuannya dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, bahkan dari abad ke...

Ketika Langit, Bumi dan Gunung-gunung Tak Sanggup

Tuhan, Sungguh amanatMu telah Kau tawarkan kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Dan ketika mereka tak ada yang sanggup dengannya, kami melangkah menerima amanatMu, Namun saat ini kami berdiri di sini, berpijak di atas bumi Untuk merusak, menumpahkan darah, menindas fakir miskin, mengusir penduduk dari rumahnya, mengambil hartanya. Atas namaMu!! selalu kami ucapkan Bukan.. bukan.. sesungguhnya bukan. Sesungguhnya, Atas nama Qarun!! Atas nama Firaun!! Atas nama Balaam!! ya, sesungguhnya atas nama.. harta!! seperti Qarun yang membunuh atas nama harta kekuasaan!! seperti Firaun yang membunuh atas nama kekuasaan agama!! seperti Balaam yang membunuh atas nama agama. Dan bukan atas namaMu. Tuhan, Bagaimana kami dulu bisa menerima amanatmu sedangkan saat ini kami di sini berdiri, dengan merusak, menumpahkan darah, menindas fakir miskin, mengusir penduduk dari rumahnya, mengambil hartanya Padahal kami berdiri di atas bumi, di lereng gunung, dan di bawah langit yang t...

Cendikiawan, Yang Terkungkung dan Yang Merdeka..

Menyaksikan sidang Pansus Century hari Senin yang lalu sedikit menggelitikku. Pemanggilan saksi2 ahli. Diambil dari orang2 yang berkompeten. Orang2 yang dianggap pakar di bidangnya. Pertama di bidang ekonomi. Dan yang kedua di bidang hukum. Yang menarik bagiku adalah pemanggilan saksi2 ahli di bidang hukum. Dua orang professor disandingkan. Terkadang yang satu pro dan satu lagi kontra dengan yang pertama. Mereka berdua mewakili dan berbicara atas nama ilmu pengetahuan dengan membawa gelar profesornya. Dan aku tertarik dengan Prof. Has Natabaya. Bukan dari pendapat2nya yang saya nilai lebih netral dan berpihak pada ilmu pengetahuan yang diusungnya. Tapi aku tertarik dengan cara beliau menyampaikan pendapatnya. Beliau membawa berbagai macam buku peraturan dan perundang2an. Setiap menjawab pertanyaan beliau selalu membuka buku dan membacakan isi buku yang menjadi landasan argumentasinya. Sebetulnya sikap ini memperlihatkan 2 hal: yang pertama adalah beliau murni mewakili ilmu pengetahuan,...

Mencintai Surga dan Mencintai Tuhan

Seandainya saja seorang manusia hanya mengharapkan surga, mungkin ia bisa meninggalkan keluarganya, meninggalkan persoalan dunia lalu mengembara ke seluruh pelosok dunia untuk menggali ilmu dan tak pernah putus bersujud. Namun ketika seseorang mencintai Tuhan, maka ia akan mencintai manusia, ia akan mencebur di tengah lautan manusia, berada di antara manusia. Dia senang melebur dengan persoalan-persoalan manusia . Berada di depan manusia-manusia yang tertindas dan berhadapan dengan manusia-manusia penindas. Pondok Aren, 1 Desember 09

Ketika 3 Buah Kakao Bernilai Lebih dari 6,7 Triliun

Ini adalah pengadilan dunia, dimana yang berdiri di ruang sidang adalah manusia-manusia yang jauh dari kesempurnaan. Apalagi produk yang dibuat oleh manusia, tentu saja tidak sempurna. Ya, hukum buatan manusia selalu ada saja cacatnya. Hukum buatan manusia yang tidak pernah sempurna, dijalankan oleh manusia-manusia yang tidak sempurna. Maka hanya di dunia inilah bisa terjadi 3 buah kakao nilainya lebih tinggi dari 6,7 triliun. Karena pencurian 3 buah kakao bisa dengan cepat masuk ke pengadilan, sedangkan kasus 6,7 triliun yang merugikan negara begitu sulitnya masuk ke pengadilan. Adalah Nenek Minah, nenek tua miskin yang mencuri 3 buah kakao dari sebuah perkebunan untuk dijadikan bibit diajukan ke pengadilan dan dihukum 1,5 bulan percobaan. Dan yang harus ditekankan di sini adalah Nenek Minah mencuri bukan untuk dimakan, bukan untuk dijual, tapi untuk dijadikan bibit. Artinya semiskin2nya Nenek Minah ia mencuri untuk mata pencahariannya, ia tetap mau bekerja. Masyarakat Indonesia me...