Langsung ke konten utama

Postingan

TANAH KUSIR, SEPTEMBER 2009

Wajahmu begitu cantik dengan mata indah bercahaya Sempurna Namun ketika Dia memanggilmu dirimu hanyalah seonggok daging yang tertanam di dalam tanah yang diinjak-injak dalam gelap Rupamu begitu tampan dengan rahang yang tegas Sempurna Namun ketika Dia memanggilmu dirimu hanyalah santapan bagi cacing-cacing yang kelaparan di dalam tanah. Tanah Kusir, 15 September 2009

UNTUK ANAK-ANAKKU

Malam tak pernah datang tiba-tiba Senja menjadi perantaranya Langit tak pernah gelap tiba-tiba Sandyakala menjadi isyaratnya Pondok Aren, 10 September 09

HILANG TERTIUP ANGIN GURUN

Seperti jejak-jejak kaki di padang pasir yang tertiup angin gurun Menghilang tanpa bekas Tapi aku tahu dengan pasti bahwa di sini seseorang pernah melangkahkan kakinya Aku tahu dengan pasti, di tempat ini Tak mungkin salah Di sinilah tempatnya Bahkan kedalamannya pun aku masih ingat Seperti jejak-jejak kaki di padang pasir yang tertiup angin gurun Menghilang tanpa bekas Tapi aku masih mengingatnya seolah jejak-jejak kaki itu tak pernah menghilang tertiup angin gurun Pondok Aren, 8 September 2009

AKU, KAU, DAN KEKASIHKU YANG LAIN

Kau mengundangku malam ini Ya, hanya kita berdua saja. Dan aku datang tanpa membawa bingkisan Perjamuan ini untukku, Kau memberikannya untukku. Dan aku datang tanpa membawa bingkisan Sudah lama aku nyatakan cintaku padaMu, Dan sekarang, Aku datang tanpa membawa bingkisan Di sini sekarang hanya kita berdua, Seharusnya kita bisa lebih dekat, Kuminum anggur cintaMu Kumakan hidangan rahmatMu Tapi di sini aku bersamaMu, Aku memikirkan kekasihku yang lain.. Pondok Aren, Setelah tarawih pertama di tahun 2009.

NAMAMU ADA DALAM SEPOTONG TERONG

NamaMu ada dalam sepotong terong, namaMu ada di antara awan-awan, namaMu ada di atas pasir pantai, di sayap kupu-kupu, di kulit seekor ikan, pada sebongkah batu. Tapi dimana namaMu di hatiku? Pondok Aren, 19 Agustus Tiga hari menjelang bulan Suci Ramadhan

POHON BESAR DAN ILALANG

Ayah, Bunda, Coba lihat pohon besar itu Tinggi menjulang, Besar dan kokoh Tangan manusia tak kan kuasa mencabutnya Tapi lihatlah, Pohon itu rapuh oleh angin dan badai Dan cobalah tebang pohon itu Maka ia tak akan tumbuh lagi. Ayah, Bunda Coba lihat ilalang kecil ini Daunnya yang lemah Terinjak karena tak terlihat Sekali hentak tangan manusia Ia akan tercerabut. Tapi lihatlah Kapan ilalang terbawa angin? Kapan ilalang kalah oleh badai? Terpenggal pisau tajampun Ia akan tumbuh lagi Pondok Aren, 5 April 2009 (Ayah dan Bunda, bayimu seperti lemah tak berdaya, tapi ia sekuat ilalang. Terus berjuang Ayah, Bunda, Khayla)

Diskusi Gender dengan Tuhan

Tahun 2000, beberapa bulan setelah menikah, aku divonis mengidap Sistemic Lupus Erithromasis. Waktu itu di sebuah rumah sakit di Bandung, dokter yang mengabari aku tentang penyakit ini agak kemayu, dan dia menyampaikan vonis dengan amat sangat ringannya: “Hallooo… udah ketemu ya penyakitnya…. SLE, Lupus… Byeeee…” Udah?? Begitu saja? Dokter itu meninggalkan aku dan aku terbengong-bengong sendirian. “SLE??? Lupus?? Penyakit apa itu??” lalu aku menelepon ibuku, minta tolong untuk dicarikan informasi mengenai Lupus. Aku juga bertanya-tanya kepada suster, tapi sepertinya mereka sedikit menutupi, mungkin khawatir dengan reaksiku. Ibuku juga dengan terus terang tidak mau menyampaikan informasi yang sudah dia dapatkan, “Nanti Novi stress katanya”… ah apa sih penyakit ini? Apakah sebegitu menakutkannya hingga semuanya berusaha menutupinya dariku? Maka akupun berkeras pada ibuku: “Mana infonya? Justru kalau nggak tau itu penyakit apa malah jadi stress.” Sejak itu aku banyak mendapatkan info men...